Arsip untuk Desember, 2007

Ratusan Truk Terjebak Banjir di Ngawi

Ngawi (ANTARA News) – Ratusan truk angkutan berat dari Surabaya menuju Solo, Jateng sejak Kamis (27/12) hingga Sabtu ini masih terjebak banjir di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.

Salah seorang sopir truk tujuan Surakarta, Yahya (30), Sabtu, di Ngawi, mengatakan sejak tiga hari ini truk belum bisa masuk ke Kota Ngawi karena sejumlah jalan masih tergenang air.

“Kami terpaksa menunggu surutnya air yang menggenangi jalan menuju Ngawi-Solo,” katanya saat ditemui di jalan utama Madiun-Ngawi tepatnya di Kecamatan Geneng, Kabupaten Ngawi.

Kendati banjir di sejumlah wilayah di Kabupaten Ngawi mulai surut, kata dia, truk tujuan Surakarta masih belum bisa melanjutkan perjalanannya.

Pasalnya jalan sepanjang setengah kilometer dari Desa Klitik, Kecamatan Geneng hingga Kota Ngawi masih tergenang air setinggi setengah meter. Sedangkan di Jalur Ngawi-Sragen tepatnya di Terminal Ngawi dan Kecamatan Mantingan ketinggian air mencapai satu meter.

“Mudah-mudahan dalam waktu dekat banjir sudah surut sehingga kami bisa melanjutkan perjalanan,” katanya.

Sementara itu, petugas satlantas Polres Ngawi, Briptu Djoemiran, mengatakan jalur utama Madiun-Ngawi-Sragen hingga kini masih belum bisa dipakai sehingga dialihkan ke jalur alternatif melewati jalur Jogorogo-Ngawi.

“Jalur Madiun-Ngawi belum bisa dipakai, jadi harus lewat Jalur alternatif,” katanya.

Data yang dihimpun menyebutkan jalur yang sempat lumpuh akibat banjir yakni Ngawi-Madiun, Ngawi-Caruban (Madiun), Ngawi-Sragen (Jawa Tengah), dan Ngawi-Bojonegoro.
(*)

Copyright © 2007 ANTARA

Komentar bertahan »

Banjir Ngawi Surut, 10 Ribu Orang Berhasil Dievakuas

Sebanyak 10 ribu warga Ngawi yang terperangkap 36 jam terakhir dalam banjir akhirnya berhasil dievakuasi. Genangan banjir di Ngawi juga dilaporkan sudah surut 1 meter.

Kondisi positif ini membuat Pemkab Ngawi dan Badan SAR Nasional (Basarnas) Surabaya memprioritaskan untuk melakukan distribusi bahan pangan di sejumlah kantong pengungsi menggunakan helikopter.

BUDI SULISTYO KANANG Wakil Bupati Ngawi pada suarasurabaya.net, Sabtu (29/12) mengatakan meskipun sudah mulai memprioritaskan dstribusi bahan pangan, namun kegiatan penyisiran korban yang masih terperangkap masih terus dilakukan menggunakan perahu-perahu karet.

Ada 4 kecamatan yang kini masih terisolir dan tidak bisa dijangkau lewat jalan darat, yakni Kecamatan Pitu, Kewadungan, karanganyar, dan Geneng. Untuk 4 kecamatan itu, kata KANANG, helikopter milik Basarnas Surabaya sudah dialokasikan untuk mengangkut bahan-bahan pangan di kantong-kantong pengungsian.

Untuk di Kota Ngawi sendiri, kata KANANG, banjir masih membuat wilayah terbelah menjadi 3. Untuk itu, distribusi bahan makanan juga akan dipusatkan di 3 wilayah, yakni kantor Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Ngawi di sebelah Timur, Kantor Kecamatan Geneng di bagian Selatan, dan kantor Kecamatan Paron di Sebelah Barat.

Dijelaskan KANANG, sejumlah bantuan juga kini masih terus mengalir. Diantaranya 3 truk penuh berisi mie instan dari Pemprop Jatim. Saat ini bantuan-bantuan tersebut masih tertahan di sejumlah titik.

Untuk bisa didistribusikan ke wilayah-wilayah yang paling parah tergenang banjir, kata KANANG, akan dikerahkan truk-truk bersasis tinggi milik Batalion Armed TNI AD.

“Meskipun banjir sudut surut, tapi kami masih was-was karena hari ini langit mendung tebal dan Ngawi dilanda gerimis,” kata KANANG lagi.(edy)

[suarasurabaya/Eddy Prasetyo]

Komentar bertahan »

Banjir Ngawi sebabkan 14 orang tewas

NGAWI - Sejak banjir melanda tujuh wilayah kecamatan di Ngawi, Jawa Timur, dilaporkan 14 orang tewas menjadi korban banjir. Yang menyedihkan, ada di antara mereka tewas akibat kelaparan.

Jumlah korban tewas itu dikumpulkan okezone semenjak banjir melanda Ngawi dari Rabu 26 Desember hinngga Minggu 30 Desember ini. Ada pun tujuh kecamatan yang dilanda banjir adalah Kwadungan, Geneng, Paron, Widodaren, Karanganyar, Mantingan, Pitu, Pangkur, Padas, Kedunggalar, dan Ngawi Kota.

Sebanyak 10 orang tewas berasal dari wilayah Kecamatan Kwadungan dan 4 orang tewas dari wilayah Kecamatan Geneng. Di antara korban yang tewas itu yakni Sadiyem (70), warga Desa Kasreman, Kec Kwadungan, Menik (47), warga Desa Dempel, Kec Geneng, dan Sariman (60), warga Desa Kersikan, Kec Geneng. Sedangkan, korban tewas lain belum diketahui identitasnya.

Menurut Koordinator Satuan Koordinasi dan Pelaksana (Satkorlak) Penanggulangan Bencana Alam (PBA) Kab Ngawi, Shodiq Tri, 14 korban tewas akibat banjir itu sebagian besar terdiri para orang tua usia lanjut dan anak-anak. Mereka tewas saat terjebak di lokasi banjir dan tidak bisa dievakuasi ke posko pengungsian.

“Sampai saat ini jumlah korban tewas akibat banjir 14 orang. Tapi identitasnya saya belum bisa menyampaikan,” ujar Shodiq, Minggu (30/12/2007).

Menurut dia, korban yang tewas akibat banjir ini karena ada yang kelaparan saat di lokasi banjir, ada yang kedinginan, dan sebagian lainnya karena sakit. Korban terakhir, kata dia, ditemukan oleh petugas Satkorlak sudah terapung di kawasan Kecamatan Kwadungan. “Korban ditemukan petugas sudah terapung dan terseret banjir,” ujarnya.

Para korban yang tewas akibat banjir sebagian besar sudah dimakamkan oleh anggota keluarganya. Warga secara swadaya melakukan pemakaman terhadap korban banjir yang tewas tersebut. Sedangkan, hingga kemarin bantuan dari pemerintah setempat terhadap keluarga korban banjir yang tewas juga belum sampai.

Selain merenggut nyawa orang, banjir juga ikut menelan ribuan hewan ternak seperti kambing, sapi, kerbau, ayam, dan hewan ternak lainnya. Kemarin, warga juga terlihat banyak mengubur bangkai kambing dan sapi agar tidak membusuk dan menimbulkan penyakit.

Sedangkan, ribuan pengungsi yang semula berada di tenda-tenda posko pengungsian di sekitar kantor Kec Geneng, SDN Tambakromo I dan II, Puskesmas Geneng, Gudang Pangan Bulog, dan Balai Penyuluhan, sejak kemarin sudah mulai sepi. Para pengungsi sejak kemarin pagi mulai berbondong-bondong pulang ke rumahnya masing-masing setelah mengetahui banjir di kawasan desanya surut.

Sementara itu, jalur-jalur utama transportasi yang menghubungkan Kota Ngawi dengan Madiun, Ngawi-Magetan, Ngawi-Caruban, Ngawi-Sragen, dan Ngawi-Bojonegoro, mulai lancar setelah banjir tidak lagi menggenangi ruas-ruas jalan utama tersebut. Ratusan kendaraan truk, bus, dan angkutan berat lainnya yang semula tertahan di sepanjang jalur Madiun-Ngawi, sudah bisa berjalan lancar. Aktivitas di Kota Ngawi kemarin juga mulai terasa hidup setelah sebelumnya lumpuh dilanda banjir. (Muhammad Roqib / Sindo / mbs)

Komentar bertahan »

BASARNAS: Koordinasi Kurang Dalam Tangani Korban Banjir


Pihak kepolisian dan komponen PNS Kabupaten Bojonegoro dinilai tidak tanggap dan ikut membantu evakuasi korban banjir di Bojonegoro. Badan SAR Nasional (BASARNAS) mengeluhkan koordinasi yang kurang dalam mendistribusikan bantuan.

Kolonel TRIKORA HARJO Kepala BASARNAS Surabaya pada suarasurabaya.net, Senin (31/12) di Bojonegoro, mengatakan, di lapangan praktis hanya unsur BASARNAS, Marinir TNI AL, dan LSM serta relawan yang terlibat dalam operasi penyaluran bahan makanan ke lokasi terisolir, penyelamatan, dan pencarian.

Unsur lain yang diharapkan bisa terlibat seperti Kodim dan kepolisian, kata TRIKORA, sedikit sekali keterilibatannya di lapangan.

Menurut TRIKORA ini bisa dipahami karena sebagian dari mereka juga menjadi korban. Namun, kata dia dalam kondisi darurat seperti ini seharusnya semua instansi yang dipersiapkan untuk penanggulangan bencana harusnya siaga di tempat.

“Mohon maaf saja, kita seperti bekerja sendiri saja karena dari unsur lain yang seharusnya terlibat malah sibuk menyelamatkan dirinya masing-masing,” ujar TRIKORA.

Pantauan di alun-alun Kabupaten Bojonegoro, pasokan mie instan yang dibawa oleh mobil Satpol PP Propinsi dan Kabupaten memang siap hilir mudik sehingga tidak ada kekuarangan dalam pengiriman pasokan makan menggunakan helikopter. Namun, tidak terlihat satupun personel kepolisian dan komponen PNS Kabupaten Bojonegoro di lokasi yang menjadi basis distribusi makanan untuk korban bencana banjir di Bojonegoro tersebut.(edy/bir/ipg)

[suarasurabaya.net/31 Desember 2007, 12:42:23,/Eddy Prasetyo]

Komentar (2) »

Warga Evakuasi Barang Dengan Ban Dalam

Ribuan warga Kota Bojonegoro mulai mengevakuasi barang-barang perabotan rumah tangga mereka yang masih bisa diselamatkan dengan menggunakan ban dalam.

Pantauan suarasurabaya.net, Senin (31/12), di Kota Bojonegoro ada sejumlah jalan yang digenangi air sampai sedada orang dewasa, untuk evakuasi warga mengandalkan ban dalam yang disusun sedemikian rupa menjadi rakit.

Di Jalan Diponegoro dan Gajahmada terpantau warga masih berupaya menyelamatkan barang perabotannya. Dua jalan ini termasuk yang paling parah karena digenangi air sampai sedada orang dewasa. Sedangkan di Jalan dr Wahidin yang dilaporkan tergenang sampai dengan sebetis sekarang sudah mulai surut. Di jalan tersebut terdapat rumah sakit dr Sosodoro Djatikoesoemo, Rumah Sakit Umum Daerah Bojonegoro.

Perahu-perahu karet milik Kopaska TNI AL, Polisi, Marinir dan sejumlah instansi swasta serta BUMN juga terlihat hilir mudik mengangkut para warga yang ingin mengungsi. Diantara mereka yang diungsikan tercatat balita dan manula.(edy/bir/ipg)

[suarasurabaya.net/31 Desember 2007, 12:31:06,/Eddy Prasetyo]

Komentar bertahan »

Jalur Babat – Bojonegoro Siang Ini Terputus

Jalur Babat (Lamongan) ke Bojonegoro maupun sebaliknya terputus mulai Senin (31/12) sekitar pukul 11.00 WIB.

IMA dari Radio Mahkota Lamongan dalam Jaring Radio Suara Surabaya, Senin melaporkan, akibat luapan sungai Bengawan Solo jalur Babat- Bojonegoro terputus. Tinggi air di jalan Bojonegoro-Babat tepatnya di daerah perbatasan berkisar 25-50 cm.

Semua pengguna jalan Babat-Bojonegoro maupun sebaliknya mulai dari pertigaan Pasar Babat dialihkan lewat jalur selatan melalui jalur Dradah, Modo, Sukorame, dan Kedung Adem. Sedangkan yang dari arah Bojonegoro ke Babat bisa mengambil jalur utara lewat Suko, Rengel dan Plumpang.

Semua aparat keamanan dan warga saat ini berada di jalan Raya Babat- Bojonegoro untuk terus berupaya membendung air yang meluap dan mengalir deras ke arah timur atau ke Babat dengan membuat tangkis dari karung pasir.

Data dari SMS Center Radio Mahkota dilaporkan oleh beberapa warga di daerah perbatasan seperti di Baureno, Kedungrejo, Pipitan, Kauman banyak warga kesulitan mengungsi karena kesulitan perahu karet. Sampai saat ini belum terdata korban banjir yang masih terjebak.(ipg)[suarasurabaya.net/31 Desember 2007, 12:11:40,/Iping Supingah]

Komentar bertahan »

Wisata Bencana di Bojonegoro Persulit Distribusi Bantuan

Sulitnya distribusi bantuan karena derasnya arus air di Kota Bojonegoro semakin bertambah sulit dengan kehadiran ‘wisatawan bencana’.

WARDOYO petugas PMI Surabaya yang saat ini bertugas di Bojonegoro pada suarasurabaya.net, Senin (31/12), mengeluhkan banyaknya wisatawan bencana. Menurutnya para ‘wisatawan’ yang kebanyakan datang dari luar kota Bojonegoro malah mempersulit proses evakuasi.

“Para ‘wisatawan’ itu hanya datang melihat-lihat dan mondar-mandir di jalan sehingga menganggu penyaluran bantuan,” kata WARDOYO.

Sementara menurut WARDOYO kondisi keamanan maupun pengungsi belum mengalami kendala yang berarti hanya penyaluran distribusi saja yang tersendat akibat derasnya arus. Walaupun tadi pagi air surut sekitar 5 cm.

Hari ini ditemukan satu lagi korban meninggal di pinggiran Sungai Bengawan Solo dekat Terminal Lama. Korban tanpa identitas ini berjenis kelamin laki-laki yang diperkirakan warga Kalitidu meninggal karena terseret arus. Saat ini jenazah sudah dibawa ke rumah sakit untuk proses evakuasi sebelum dibawa ke Kalitidu.

Hingga saat ini PMI memiliki 2 pos pengungsian yaitu di Jalan Gajahmada dengan kondisi air lumayan dalam dan Jalan Trunojoyo.(bir/ipg)

[suarasurabaya.net/31 Desember 2007, 11:46:33,/Birgitta Nurina Ningga Mone]

Komentar bertahan »

Listrik di Bojonegoro Dinyalakan Jika Banjir Sudah Surut

Listrik di Bojonegoro dimatikan untuk alasan keamanan. Gardu induk yang melayani suplai listrik di Bojonegoro terendam. Jika air surut akan dinyalakan lagi.

HARIADI SARDONO General Manager PLN Distribusi Jawa Timur pda Suara Surabaya, Senin (31/12) mengatakan, gardu induk di Bojonegoro Minggu pagi kemarin sudah kemasukan air, hingga listrik harus dipadamkan. Selain itu, 2 penyulang mencakup 100 gardu distribusi yang melayani suplai ke Bojonegoro harus dipadamkan.

Bahkan kata HARIADI kantor PLN Bojonegoro juga sudah terendam air sehingga semua aktivitas operasional terhenti. Penormalan kembali aliran listrik di kawasan Bojonegoro kata HARIADI harus menunggu air surut, dan menghidupkannya tidak bisa sekaligus.

“Alatnya tidak rusak, tapi harus dibersihkan dari lumpur sebelum dinyalakan kembali. Kalau tidak sistemnya bisa terganggu. Kita harus mengecek satu-persatu instalasi,” kata HARIADI.

Ia meminta pengertian pada seluruh masyarakat Bojonegoro atas situasi pemadaman listrik ini, karena ini bencana pihaknya tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu air surut untuk penormalan kembali. Seluruh sumber daya manusia PLN di Jawa imur akan kita kerahkan untuk membantu penormalan di Bojonegoro, ujar HARIADI.

Sementara itu listrik di kawasan Ngawi dan Mantingan kata HARIADI sudah sebagian dinormalkan. “Kalau di Ngawi seminggu sesudah air surut langsung kita pulihkan, tapi pemulihannya bertahap. Tidak bisa langsung sekaligus,” ujarnya.

Sedangkan untuk wilayah di Madiun yang seelumnya juga kebanjiran, listrik sudah normal lagi, begitu juga di Kota dan Kabupaten Malang.

Kata HARIADI, PLN Jawa Timur sudah menyiapkan tim peduli PLN yang membantu korban banjir di Bojonegoro, mendistribusikan bahan makanan menggunakan perahu karet. Saat ini di kantor PLN lantai 2 ada 200 warga yang mengungsi.(kss/ipg)

[suarasurabaya.net/31 Desember 2007, 10:46:42,/Khusnina Sekar Segari]

Komentar bertahan »

Di Ngawi Hujan Turun Warga Khawatir Banjir Susulan

Puncak musim hujan masih terjadi pada Januari. Ini membut warga resah banjir susulan akan datang seperti yang terjadi akhir-akhir ini.

Berdasarkan pantauan RULLY ANWAR reporter Suara Surabaya, Minggu (30/12), sejak pukul 16.00 sore, kawasan Ngawi diguyur hujan yang cukup deras. Diperkirakan hujan akan berlangsung lama karena mendung tebal. Sejak pagi seluruh kawasan yang beberapa hari terakhir terendam banjir sudah surut, diantaranya di Desa Pojok Kecamatan Kwadungan Kabupaten Ngawi.

RADI Ketua RT II RW IV Desa Pojok kepada RULLY ANWAR reporter radio suarasurabaya di Ngawi, mengatakan memang prediksi hujan deras dan cuaca buruk akan berlangsung pada Januari mendatang. Ia makin resah jangan-jangan terjadi banjir susulan seperti yang terjadi beberapa waktu terakhir di Ngawi yang baru saja surut.

RADI mengatakan warga sendiri saat ini mengupayakan pemantauan di bantaran Sungai Bengawan Solo, secara bergantian mereka melihat kondisi terakhir di bantaran sungai Bengawan Solo.

RADI sendiri tinggal dekat dengan Sungai Bengawan Solo. Jarak antara Desa Pojok dengan Sungai Bengawan Solo hanya 100 meter. Warga yang awalnya mengungsi, Minggu (30/12) siang ini sudah kembali ke rumah masing-masing karena mendapat informasi keadaan Sungai Bengawan Solo masih aman. Air belum akan meluap.(kss/tok)

[suarasurabaya.net/30 Desember 2007/Khusnina Sekar Segari]

Komentar bertahan »

Terkepung Banjir, RS Bhayangkara Bojonegoro Siaga 1

Meski air belum masuk ke dalam bangunan RS Bhayangkara Bojonegoro, tapi status dinyatakan Siaga 1, karena di halaman luar RS sudah seperti lautan. Bangunan RS terkepung banjir.

Demikian kata dr KRISTINA Kepala Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Bojonegoro pada Suara Surabaya, Senin (31/12) pagi.

“Posisi RS Bhayangkara di Jalan Panglima Sudirman Bojonegoro. Air memang tidak masuk tapi di halaman luar, air penuh seperti lautan. Rumah sakit bangunannya memang lebih tinggi, posisi dekat Polres dan tanggul,” ujarnya.

Namun demikian kata dr KRISTINA, pasien sudah dievakuasi ke rumah sakit terdekat di RS Sumber Rejo yang agak bebas banjir. Tapi ada beberapa yang masih tinggal di rumah sakit dalam kondisi stabil.

“Kemarin sore kami datang dari Surabaya untuk memasok logistik, dan kami mendapat bantuan dari Brimob menggunakan perahu karet untuk menuju ke RS Bhayangkara. Kami melawan arus, air sangat deras. Dengan air setinggi kepala orang dewasa, kondisi lampu mati hanya menggunakan senter, kami sekuat tenaga menuju RS Bhayangkara,” ungkapnya.

Menurut KRISTINA Logistik yang bisa ditempuh lewat jalan darat hanya bisa sampai di Stasiun Bojonegoro. Setelah itu harus menggunakan perahu karet.

“Saat ini kami tetap Siaga 1. Di rumah sakit sekarang ada 25 tim medis, mulai dokter perawat dan 5 anggota Brimob. Di sini masih ada 5 pasien, 3 pasien kondisinya sudah pulih tapi rumahnya juga terendam jadi masih ditampung di sini (RS Bhayangkara–Red). Kami juga siap menampung lagi pasien korban banjir, untuk pertolongan darurat,” kata dr KRISTINA Kepala RS Bhayangkara Bojonegoro yang posisinya juga berada di rumah sakit tersebut.(ipg)

[suarasurabaya.net/31 Desember 2007, 10:24:36, Laporan Iping Supingah]

Komentar bertahan »