Arsip untuk Januari, 2008

Kaligarang Meluap, Puluhan Rumah Tergenang

SEMARANG [Suara Merdeka] Hujan deras yang mengguyur Ungaran dan kawasan atas Semarang menyebabkan Sungai Kaligarang dan Kreo meluap. Tiga rumah yang berlokasi di bantaran sungai di wilayah RW 2, Kelurahan Ngemplak Simongan, Semarang Barat, terancam hanyut. Selain itu, akses jalan menuju kampung yaitu Jl Simongan I juga banjir dengan ketinggian air mencapai lutut orang dewasa.

Pantauan Suara Merdeka, Rabu (30/1) sekitar pukul 21:00, warga yang akan masuk atau keluar kampung tersebut terpaksa harus melewati bantaran sungai. Sepeda motor atau mobil tidak bisa melewati jalan tersebut.

Puluhan warga keluar dari rumahnya masing-masing dan berada di sepanjang bantaran sungai untuk memantau ketinggian air.

Sementara tiga keluarga yang rumahnya kebanjiran berusaha menyelamatkan barang-barangnya. Di antaranya kasur, barang elektronik, dan perkakas dapur. Hingga semalam, kendati sudah mulai menyusut, air masih mencapai peres sungai atau dengan kedalaman sekitar 1 meter dari bibir tanggul.

”Air mulai naik dan memasuki rumah sekitar pukul 18:00. Warga memperoleh informasi dari radio, teve, dan pihak kelurahan, ada banjir kiriman,” kata Budi, salah seorang warga RT 8 RW 2 yang rumahnya kebanjiran. Hal senada juga dikatakan dua pemilik rumah lainnya yang terkena banjir, yaitu Jalmiatun dan Teguh. Mereka mengungsikan barang-barangnya sembari menunggu air surut. Menurut warga, banjir serupa kali terakhir terjadi pada akhir November 2006.

Lurah Ngemplak Simongan, Bambang Santosa mengatakan, pihaknya telah menyiapkan posko dadakan apabila ketinggian air terus bertambah.

”Saat ini petugas kelurahan dan kecamatan dalam posisi siaga. Kantor kelurahan telah dipersiapkan sebagai posko untuk mengantisipasi warga yang mengungsi,” kata Bambang.

Sementara itu, banjir juga terjadi di RW 3 Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati. Akibat luapan Sungai Kreo, 50 rumah tergenang dengan ketinggian sekitar 20 cm. Air juga memasuki ruang kelas SD Sukorejo 02 yang terletak sekitar 100 meter dari tepi sungai.

Lurah Sukorejo, Taat SSos menjelaskan, Sungai Kreo mulai meluap sekitar magrib. ”Pelan tapi pasti air terus bertambah. Dibandingkan setahun lalu, banjir kali ini (semalam-red) lebih kecil,” ujar Taat.

Akhir 2006, kampung tersebut mengalami banjir bandang akibat luapan Sungai Kreo. Ketika itu air masuk ke rumah warga hingga 50 cm. Banjir juga mengakibatkan SD Sukorejo roboh.

Warga melakukan kerja bakti membersihkan rumah mereka. Camat Gunungpati, Sudarmaji Mulyono, meninjau langsung lokasi. Sementara itu, pihak Polresta Semarang Selatan menerjunkan puluhan personelnya untuk membantu warga. (H40,H6,H9,H13-62)

Komentar bertahan »

Ribuan Warga Mengungsi, Jalur Pasuruan Terputus

Pasuruan, Kompas – Sejumlah kecamatan di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, dilanda banjir setinggi satu hingga dua meter, setelah hujan lebat turun sejak Rabu (30/1) petang. Banjir akibat meluapnya Sungai Welang itu juga memutuskan jalur utama dari arah Sidoarjo ke Pasuruan.

Pantauan pada Rabu malam menunjukkan, warga terus mengungsi ke lokasi-lokasi aman. Alun-alun Kota Pasuruan juga tergenang air setinggi 30 sentimeter pada pukul 21.00.

Sementara jalur utama yang menghubungkan Surabaya ke Pasuruan dan kawasan timur Jawa Timur (Jatim) terputus. Akibatnya, antrean kendaraan di ruas itu tidak terelakkan hingga mencapai tiga kilometer. Para pengguna jalan tersebut terpaksa memarkir kendaraan mereka di jalan. Pengendara mobil pribadi memilih berputar balik.

Melihat kondisi itu, Kepala Kepolisian Resor (Polres) Pasuruan Ajun Komisaris Besar Setyobudi mengatakan, tidak ada jalur alternatif untuk jalur Pasuruan dan daerah timur Jatim. Demikian pula sebaliknya.

Dia mengingatkan, jika pengguna jalan memaksa melintas, mereka akan menghadapi risiko mogok karena tinggi genangan air yang mencapai satu sampai dua meter. ”Kami minta para pengguna jalan bersabar menunggu air surut,” ujar Setyobudi.

Putusnya jalur tersebut setelah Sungai Welang di Desa Tambak Rejo Kecamatan Keraton, meluap. Luapan air menggenangi jalan-jalan dengan tinggi antara satu hingga dua meter. Selain jalur utama, jalur alternatif ke timur lainnya juga tertutup. Jalur yang melalui Desa Wonosari, Kecamatan Tutur, itu tidak bisa berfungsi karena luapan dari air Sungai Welang.

Menurut sejumlah warga Tambak Rejo, meluapnya Sungai Welang terjadi sejak sekitar pukul 16.00. Kondisi itu diawali dengan hujan lebat di kawasan tersebut sejak sekitar pukul 14.00. ”Air terus meninggi,” ungkap Nurul, warga Tambak Rejo. Hingga pukul 21.00 aliran air masih deras dan lokasi banjir makin meluas.

Mengungsi

Menurut Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat Kabupaten Pasuruan Sunarto, berdasarkan data sementara hingga pukul 18.00, sejumlah kecamatan yang terendam banjir setinggi satu meter hingga dua meter itu adalah Winongan, Gondang Wetan, Pasrepan, Kraton, Pohjentreh, Prigen, Wonorejo, Kejayan, dan Purwosari.

”Sejumlah rumah tergenang air setinggi satu meter dan warga terpaksa harus mengungsi ke tempat yang lebih aman. Namun, berapa jumlah rumah di berapa desa dan berapa jumlah orang yang harus mengungsi kami masih mendatanya,” kata Sunarto.

Menurut Kepala Polres Pasuruan, hingga semalam banjir masih terjadi di sejumlah kecamatan. Kondisi terparah di Pasrepan dan Kejayan. Oleh karena itu, warga mengungsi ke tempat-tempat aman, di antaranya balai desa dan mushala terdekat.

Wakil Bupati Pasuruan yang juga menjabat sebagai Ketua Harian Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana Kabupaten Pasuruan Muzammil Syafi’i menjelaskan, banjir baru terjadi kali ini. ”Sungai yang melalui kecamatan-kecamatan itu tidak mampu menampung air sungai yang turun dari hulu di daerah Purwosari sehingga meluap dan menggenangi permukiman warga,” katanya. (apa)

Komentar bertahan »

Banjir Rendam Pasuruan

PASURUAN(SINDO) – Hujan deras tanpa henti sehari kemarin mengakibatkan Pasuruan dilanda banjir bandang.

Hingga tadi malam,air masih mengalir deras. Banjir diakibatkan meluapnya hampir seluruh sungai di wilayah ini. Tak terkecuali sungai Gembong di tengah kota Pasuruan.Ratusan rumah terendam air setinggi 0,5–1,5 meter. Ratusan warga mengungsi. Mereka juga segera menyelamatkan harta bendanya. Dari catatan Bakesbang Linmas Kabupaten Pasuruan, setidaknya 17 desa di 6 kecamatan, yakni Kec Prigen, Pasrepan, Gondangwetan, Winongan, Grati, dan Kraton menjadi korban.

Beberapa desa itu antara lain Desa Gambiran (Prigen) , Desa Kedawung Wetan dan Kedawung Kulon (Grati), Desa Minggir (Winongan), Desa Bayeman, Desa Pohgajih, dan Desa Jogorepuh (Gondangwetan),serta Desa Sidogiri, Desa Kebotohan, Desa Arem-arem (Kraton). Sungai-sungai yang mengalir di wilayah yang direndam banjir tersebut adalah Sungai Welon, Rejoso, dan Kedunglarangan. Masyarakat di Desa Bayeman dan Minggir yang daerahnya terendam banjir cukup parah, kini meminta bantuan perahu untuk mengungsi.

Meluapnya air sungai-sungai itu menjadikan warga di daerah Bangil,Kraton,dan Rejoso waspada. Pasalnya, jika banjirmeluasakanmenenggelamkan juga daerah tersebut. Bahkan, tidak menutup kemungkinan banjir di Pasuruan itu akan berdampak pula terhadap penutupan jalan utama yang menghubungkan Surabaya-Pasuruan- Probolinggo. Banjir di 17 desa itu berefek ke wilayah perkotaan Pasuruan. Masuknya air ke dalam kota itu membuat panik warga karena saat bersamaan lampu listrik padam. Karena itu pula arus lalu lintas di dalam kota itu menjadi kacau dan terputus atau lumpuh total. Sedikitnya dua kecamatan di kota,yakni Bugul Kidul dan Purworejo kini terendam.

Banjir yang menggenangi kota dan kabupaten itu merupakan kiriman dari Prigen yang masuk ke Sungai Kedung Larangan (Bangil), Purwodadi dan Purwosari yang masuk ke Sungai Kali Weling di perbatasan kota dan kabupaten dan dari Paserpan masuk ke Sungai Gembong di dalam kota. Akibat banjir, kendaraan dari arah timur menuju Surabaya dan Malang,terjebak di dalam Kota Pasuruan karena jalur ke kedua arah itu lumpuh total.

Kapolresta Pasuruan AKBP Jebul Jatmoko mengemukakan bahwa jalur Jalan Raya Tambak Rejo dari Pasuruan menuju Surabaya tidak bisa dilalui karena air Kali Weling meluap dan Jalan Untung Suropati yang menuju ke Malang juga tergenang. Selain itu,kendaraan dari Malang dan Surabaya yang hendak menuju ke arah timur juga tidak bisa masuk ke dalam Kota Pasuruan. Sementara dari Pasuruan masih bisa dilewati meskipun jalur di daerah Rejoso juga sudah tergenang air. Hingga sekitar pukul 20.45 WIB, kondisi Kota Pasuruan masih gelap gulita karena listrik mati.Hanya di RSUD Pasuruan listrik yang hidup karena harus melayani pasien.

Komentar bertahan »

Air Sungai Meluap, 300-an Rumah di Bandung Terendam

Bandung, Kompas – Lebih dari 300 rumah yang dihuni sekitar 900 jiwa di RW 02, RW 03, dan RW 10, Kelurahan Hegarmanah, Kecamatan Cidadap, Bandung, Jawa Barat, terendam air, Selasa (29/1). Hal itu akibat air Sungai Cipaganti meluap hingga setinggi 1,5 meter setelah hujan.

Menurut Camat Cidadap Pepen Efendi, rumah yang kebanjiran berada di sekitar bibir Sungai Cipaganti dengan kontur curam. Jarak antar-rumah cukup dekat (rapat) dan wilayah itu sulit dijangkau kendaraan roda empat. ”Kami belum bisa mendirikan tenda pengungsian karena keterbatasan lahan. Sementara warga diungsikan ke masjid dan rumah warga yang diperkirakan aman dari banjir susulan,” katanya.

Menurut Komar, Ketua RT 01 RW 03, banjir kali ini lebih besar dari banjir sebulan yang lalu. Saat ini, katanya, ketinggian air naik 0,5 meter dan menyebabkan enam rumah permanen dan nonpermanen serta satu gedung olahraga rusak. Ia menduga hal itu akibat buruknya penyerapan air dan penyempitan sungai, menyusul pembangunan di kawasan Punclut, Bandung Utara.

Mulai pukul 12.00 WIB

Warsito (64), warga RT 10 RW 03 yang rumahnya roboh diterjang banjir, mengatakan, air sungai mulai meluap pada pukul 12.00 WIB. ”Sekitar pukul 13.00 ketinggian air meningkat hingga 1,5 meter. Tembok rumah saya tidak kuat menahannya dan akhirnya jebol,” paparnya.

Rumah Ny Eha (55), warga RT 10 RW 03 yang hanya berjarak 10 meter dari rumah Warsito, mengalami hal serupa. Dinding rumah yang hanya terbuat dari tripleks jebol. Sebagian perabotan rumah, seperti lemari, kasur, dan bantal, hanyut terbawa arus.

Tangani bencana

Wali Kota Bandung Dada Rosada kemarin menginstruksikan jajarannya untuk berkoordinasi menangani bencana. Aparat kewilayahan, seperti camat, lurah, hingga tingkat RT diminta segera membuat posko dan dapur umum. ”Selain itu, warga harus diungsikan dari bibir sungai sehingga, kalau terjadi banjir yang lebih besar lagi, tidak ada korban jiwa,” katanya mengingatkan.

Secara terpisah, petugas Satuan Koordinasi Pelaksana Penanganan Bencana Jawa Barat Fahmi Azhar menyatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menangani korban bencana. ”Kami antara lain membuat posko tanggap darurat dan evakuasi korban,” ujarnya

Menurut Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika Klas I Bandung Hendri Surbakti, curah hujan saat ini sebenarnya tidak tergolong tinggi. Rata-rata antara 25-50 milimeter per hari. ”Namun, cuaca bisa saja lebih buruk di kemudian hari. Sebab, saat ini di beberapa wilayah Jawa, termasuk Jawa Barat, terbentuk awan Cumulus nimbus. Awan yang biasanya membawa petir dan angin kencang yang mengakibatkan curah hujan semakin tinggi,” katanya. (MHF/CHE)

Komentar (1) »

300 Rumah di Bandung Banjir Lagi

BANDUNG (SINDO) – Sedikitnya 300 rumah terendam banjir akibat hujan deras mengguyur Kota Bandung, Jabar, kemarin. Bahkan, dua rumah di Gang Hanafi, Kel Hegarmanah, Kec Cidadap, rusak.

Rumah milik Suyatno, 45, dan Warsoyo, 63, jebol tergerus air.Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, tetapi kerugian ditaksir mencapai Rp900 juta. Camat Cidadap Pepen Effendi mengaku,banjir terjadi akibat luapan Sungai Cipaganti. Dalam waktu singkat, ka-ta Pepen,air langsung meluap dan masuk ke rumah warga. Saat itu ketinggian air mencapai hingga 2 m.

“Daerah ini memang langganan banjir. Ini sudah yang ketiga kalinya Hegarmanah dilanda banjir.Pada 2005 sempat terjadi banjir seperti ini, akhir 2007 lalu juga terjadi hal yang sama,”tandas Pepen.Dia mengatakan, daerah yang terendam banjir itu berada di dua RW, yaitu RW 03 dan 02.

”Di RW 03,banjir menyergap 3 RT yaitu RT 1, 10, dan 11. Sementara di RW 02, di RT 06,”imbuh Pepen. Pepen mengimbau warga agar tidak lagi membangun rumah di pinggir Sungai Cipaganti. Sebab, kata dia, wilayah tersebut rawan dilanda banjir. Namun, lanjut Pepen, warga mengabaikan imbauan tersebutdantetapmembangun rumah di dekat sungai.

”Sekarang, antisipasinya, warga janganlagi membangunrumahdi dekat sungai,”tukasnya. Warsoyo, 63, mengatakan, saat hujan deras,dirinya langsung keluar rumah karena khawatir bakal terjadi banjir. Dugaan Warsoyo benar,begitu hujan mengguyur sekitar 1,5 jam, air Sungai Cipaganti langsung meluap dan menggenangi rumah warga.

Akibatnya, bagian pinggir rumah semipermanen milik Warsoyo hancur tergerus air.”Kejadian ini sudah dua kali menimpa rumah saya.Waktu Idul Adha tahun lalu, air Sungai Cipaganti juga meluap dan menggerus bagian depan rumah saya,”jelas Warsoyo. Hal yang sama dikatakan Yati,26.

Menurut dia,seluruh warga memang langsung keluar rumah saat hujan deras. Sebab,warga trauma dengan musibah tersebut.”Kebanyakan warga tidak ada di rumah dan sudah bersiap-siap takut terjadi banjir lagi. Ternyata memang benar, kali ini lebih parah dari yang kemarin,” ungkapnya.

Pantauan SINDO di lokasi kejadian, sejumlah warga dibantu aparat kepolisian dari Polresta Bandung Tengah sedang bekerja bakti membersihkan Sungai Cipaganti setelah banjir surut.Kondisi sungai tampak dipenuhi sampah. Sementara itu,warga lainnya tampak membersihkan rumah masing-masing dari genangan air.

Luapan air kotor dari Sungai Cipaganti tersebut juga menyisakanlumpurdirumahwarga dansekitarGangHanafi. Ketinggian lumpur mencapai hingga mata kaki. Endapan lumpur tersebut bahkan membuat warga sulit berjalan. Dengan menggunakan sekop dan cangkul,beberapa warga berusaha membersihkan lumpur-lumpur. Untuk menghindari korsleting, listrik di wilayah tersebut dimatikan. (yogi pasha/gin gin tigin ginulur/evi panjaitan)

Komentar bertahan »

Jabodetabek Berpotensi Hujan dan Banjir Lokal

Jakarta, Kompas – Badan Meteorologi dan Geofisika menyatakan, sejak Senin (28/1) hingga akhir pekan depan hujan lebat berpotensi terjadi di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Namun, hujan lebat tidak terjadi merata, melainkan terlokalisasi di wilayah-wilayah tertentu.

Akibatnya, banjir lokal kemungkinan besar terjadi di wilayah-wilayah tersebut.

Hujan mulai datang lagi. Awan-awan menjulang tinggi masih mendominasi sehingga kemungkinan besar hujan turun disertai petir dan angin kencang. Hujan terjadi pada wilayah sempit dalam radius sekitar 10 kilometer persegi.

”Hujan lebat ini dapat memicu luapan-luapan di sungai terdekat dan menimbulkan banjir lokal,” kata Kepala Subbidang Informasi Iklim dan Agroklimat Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Soetamto, Selasa (29/1).

Menurut Soetamto, biasanya pada bulan Januari awan-awan di langit sudah berubah menjadi gumpalan awan tebal merata yang menandai masa puncak musim hujan. Tahun ini, mungkin masa puncak hujan sedikit mundur. Hujan mulai meningkat pada akhir Januari hingga awal Februari, tetapi intensitasnya tidak terlalu besar.

Diperkirakan, puncak musim hujan baru akan terjadi pada pertengahan Februari hingga Maret.

Prakiraan harian, Selasa hingga Rabu (30/1), hujan relatif terjadi merata di Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Utara, serta sebagian Jakarta Selatan. Hujan juga turun deras di Tangerang dan Puncak, Bogor.

Hujan deras yang sempat mengguyur sekitar satu jam belum memengaruhi ketinggian permukaan air di sejumlah saluran yang surut.

Kali Sekretaris di perempatan Grogol hingga Pesing terlihat surut dan dipenuhi sampah. Air terlihat tidak mengalir.

Kondisi serupa juga terlihat di terusan Mookervart di tepi Jalan Daan Mogot, Kali Grogol di Palmerah, Jakarta Barat. Sampah terlihat menumpuk di sejumlah lokasi dan air tidak mengalir.

Lalu lintas macet

Hujan deras yang melanda Jakarta Barat sekitar pukul 14.00 kemarin mengakibatkan kemacetan lalu lintas di sejumlah lokasi. Perempatan Grogol macet total saat hujan deras yang mengakibatkan antrean panjang ke arah Jalan Daan Mogot, Jalan Kyai Tapa, dan ke arah perempatan Tomang.

Kemacetan di Jalan Daan Mogot mencapai jalan layang Pesing, atau panjangnya sekitar 4 kilometer. Kendaraan saling menyerobot di perempatan mengakibatkan kemacetan semakin parah. Dari arah Slipi, kemacetan terjadi di sekitar Mal Slipi Jaya ke arah perempatan Tomang.

Selain itu, banyak pengendara motor yang berteduh di bawah jembatan atau jalan layang sehingga menghambat lalu lintas. Angkutan umum juga menunggu penumpang di lokasi penyempitan jalan menyebabkan kemacetan bertambah parah, seperti di depan Mal Taman Anggrek menuju proyek apartemen di Tanjung Duren. Kemacetan juga sempat terjadi di perempatan Cengkareng akibat hujan deras.

Selepas hujan, kemacetan terjadi di sejumlah lokasi, seperti Jalan Tanjung Duren Raya, terutama di jembatan yang melintas Jalan Tol Jakarta-Merak, jurusan ke Batu Sari, dan Jalan Kemanggisan Raya. (ONG/NEL)

Komentar bertahan »

TIPS HADAPI BANJIR

Bencana alam banjir termasuk yang dapat diprediksi, meski begitu masih juga menimbulkan korban jiwa dan kerugian harta benda.. Tetapi, ada beberapa cara untuk melindungi dan harta benda dari ancaman bencana banjir.  Persiapan dan penanganan bencana banjir tergantung wilayah, kondisi lingkungan. Penanganan banjir kadang hanya simpel membutuhkan biaya yang tidak mahal. Tetapi di sisi lain, penananganan banjir hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang profesional.

Untuk mencegah kerugian  yang lebih besar akibat bencana banjir ada beberapa langkah yang perlu dilakukan:

Persiapan hadapi banjir
1.Kenali wilayah tempat tinggal sebab banjir biasanya terjadi di daerah yang sebelumnya sudah mengalami bencana tersebut.
2.Buat perencanaan dan tindakan antisipasi: langkah-langkah evakuasi dan menetapkan lokasi yang aman untuk mengungsi.
3.Dengarkan radio untuk memantau perkembangan informasi dan beritahu kepada para tetangga.
4.Pindahkan sampah dan bahan-bahan kimia berbahaya agar tidak terbawa arus banjir.
5.Pindahkan furnitur dan tempat tidur ke tempat yang dianggap aman.
6.Tempatkan karung pasir di atas lubang toilet agar kotoran tidak naik ke permukaan.
7.Matikan listrik dan sumber gas.

Selama terjadi banjir
1.Menyelamatkan diri ke tempat yang lebih aman.
2.Siapkan radio, senter, baterai, lilin, dan pemantik api yang tahan air.
3.Siapkan bahan makanan yang tahan air (dalam kemasan plastik atau kaleng), sepatu karet, dan sarung tangan.
4.Siapkan obat-obatan untuk pertolongan pertama.
5.Tas amti air dan catatan penting berisi alamat untuk menghubungi otoritas yang berwenang (satkorlak).

Tindakan Pasca Banjir
1.Pastikan peralatan kebutuhan emergency tetap kering. Jangan makan dengan menggunakan peralatan yang terkontaminasi dengan air banjir.  Strelirkan peralatan makanan dengan menggunakan air panas.
2.Jangan gunakan peralatan listrik yang terendam banjir.
3.Hati-hati dengan ular, kalanjenking atau binatang berbisa lainnya yang masuk ke dalam rumah.
4.Masuk ke dalam rumah dengan menggunakan sepatu karet/boot dan sarung tangan.
5.Bersihkan sisa lumpur yang berada di lantai atau menempel di dinding sesegara mungkin.  Sisa lumpur yang kering akan menimbulkan debu dan dapat mengganggu kesehatan (mengganggu saluran pernapasan, iritasi mata, dan gatal-gatal).
6.Dengarkan radio untuk mendengarkan informasi tentang tips menghadapi bahaya banjir.

[siaga-bencana.com]

Komentar bertahan »

Enam Daerah di Jateng Korban Bencana Dapat Bantuan

Semarang —  Dinas Kesejahteraan dan Sosial (Dinkesos) Jawa Tengah menyalurkan bantuan kepada enam daerah yang terkena musibah bencana banjir dan tanah longsor.

“Kita telah menyalurkan bantuan sebanyak Rp200 juta kepada enam daerah di Jateng yang dilanda bencana banjir dan tanah longsor,” kata Wakil Kepala Dinkesos Jateng, P. Jarot Nugroho, di Semarang, Senin (20/1).

Ia mengatakan, bantuan yang nilainya kecil tersebut diharapkan mampu membantu enam daerah di Jateng yang baru-baru ini dilanda musibah banjir dan tanah longsor yang menelan jiwa dan harta benda.

Enam daerah yang mendapat bantuan, antara lain, Kabupaten Karanganyar, Sukoharjo, Sragen, Kota Solo, Kudus, dan Pati. “Bantuan yang nilainya kecil tersebut diharapkan bisa membantu daerah korban banjir,” katanya.

Sebelumnya Gubernur Jateng, H. Ali Mufiz memaparkan hasil inventarisasi korban dan kerusakan akibat bencana alam banjir, tanah longsor, dan angin ribut yang melanda 21 kabupaten/kota di Jateng pada akhir tahun 2007 .

sumber: ghabonews/ghabo.com

Komentar bertahan »

KARAKTERISTIK BANJIR

Bencana alam banjir termasuk bencana yang dapat diprediksi karena biasanya ditandai dengan hujan yang turun terus menerus, atau akibat bendungan jebol. Meski demikian, bencana banjir sering sulit diantisipasi sehingga menimbulkan korban jiwa, terutama banjir bandang akibat adanya penggundulan hutan di hulu sungai.

Banjir yang terjadi akibat air sungai yang meluap atau akibat pasang air laut disebabkan terjadi perubahan iklim secara ekstrim seperti siklon tropis “El Nina”. Tingkat bahaya banjir tergantung pada kedalaman air, lamanya air pasang,
dan frekwensi kemunculan

Kerentanan
- Lokasi hunian yang berada pada tanah dataran (endapan).
- Kurangnya kesadaran terhadap bahaya banjir.
- Pengurangan daya serap tanah akibat pembangunan gedung beton.
- Bangunan dan pondasi yang tidak tahan terhadap air.
- Stok pangan dan tanaman yang belum dipanen tidak terlindungi.
- Kapal-kapal nelayan dan industri perikanan.

Kerugian
- Korban meninggal dunia umumnya karena hanyut, terkena puing yang terapung. — – Kemungkinan munculnya wabah malaria, demam berdarah, diare, infeksi karena tifus.
- Kerusakan fisik bangunan umumnya karena hanyut dan terbentur benda-benda yang tebawa arus. Tanah menjadi mudah longsor yang memperluas wilayah bencana.
- Pada saat banjir biasanya warga kesulitan mendapatkan air bersih karena sumur atau sumber air terkontaminasi dengan kotoran. Panen dan stok pangan mungkin akan hilang karena rusak akibat terendam air. Hewan ternak, peralatan pertanian, pabrik, rumah tangga, hilang atau rusak.

Kesiapsiagaan:
- Membangun sistem kontrol banjir dengan membuat kanal, tanggul, waduk penahan banjir, dan mengontrol erosi.
- Membuat sistem peringatan dini dan sistem deteksi banjir.
- Melibatkan sosialisasi masyarakat dalam pengetahuan penanganan bencana alam banjir melalui pertemuan rutin RT, RW, kelurahan atau kecamatan.
- Pengembangan rencana induk tentang manajemen tanah dataran.

Pasca-Banjir
- Tindakan SAR (Search and Rescue) atau evakuasi.
- Memberikan bantuan medis.
- Membantu makanan dan minuman untuk jangka pendek.
- Penyediaan air bersih.
- Pengawasan epidemologis terhadap wabah penyakit.
- Memberikan tempat penampungan sementara 48 sampai 72 jam, tergantung dengan kondisi banjir

[siaga-bencana.com]

Komentar bertahan »

Warga Sragen Ditepi Bengawan Solo akan Direlokasi

Sragen — Pemerintah Kabupaten Sragen akan melakukan relokasi terhadap penduduk daerah ini yang tinggal di sepanjang aliran Sungai Bengawan Solo.

Koordinator Satlak Penanggulangan Bencana (PB) Sragen, Wangsit Sukono, di Sragen, Senin (21/1), mengatakan, relokasi ini dilakukan menyusul terjadinya bencana banjir akibat luapan Bengawan Solo beberapa waktu lalu, yang menenggelamkan rumah warga di tepian sungai ini.

Menurut dia, untuk tahap awal relokasi akan dilakukan terhadap warga yang tinggal dalam radius 10 meter dari tepi sungai. “Dan jika diperlukan, warga yang tinggal di tepian anak sungai Bengawan Solo juga bisa direlokasi,” katanya.

Ia mengatakan, beberapa daerah yang cukup parah dilanda banjir beberapa waktu lalu di antaranya Kecamatan Masaran, Sidoharjo, Plupuh, Tanon, Tangen, Sragen Kota, Sukodono, Ngrampal, Sambungmacan, serta Jenar.

Ia menuturkan, jumlah penduduk yang akan direlokasi ini diperkirakan akan mencapai ribuan.

Untuk sementara, kata dia, warga yang sudah pasti direlokasi ialah warga Kelurahan Kedungupit dan Tangkil yang jumlahnya mencapai 300 KK.

Menurut dia, saat ini pemkab sudah meminta perangkat daerah yang akan menjadi target relokasi untuk segera melakukan inventarisasi warga tepian sungai.

“Hasil inventarisasi ini cukup penting untuk menentukan lokasi baru serta besarnya biaya yang harus disiapkan,” katanya.

sumber: ghabonews/ghabo.com

Komentar bertahan »