Arsip untuk 1

Daerah Hilir Bengawan Solo Terancam Banjir Susulan

suarasurabaya.net| Sejak Kamis (20/03) sore kemarin permukaan air sungai Bengawan Solo di kawasan hilir naik, diantaranya Kabupaten Ngawi, Bojonegoro, Tuban, Lamongan dan Gresik.

Sebab air dari Sungai Sekawi Ponogoro mengalir ke sungai Bengawan Solo. Ditambah hujan turun semalam selama 6 jam di Bojonegoro dan sekitarnya.

MULYONO Pengawas Balai Pengolahan Sumber Daya Air Dinas PU Jatim Kabupaten Bojonegoro pada JOE reporter Suara Bojonegoro Indah dalam Jaring Radio Suara Surabaya, Jumat (21/03) mengatakan, kondisi permukaan air Sungai Bengawan Solo hari ini masih dalam keadaan normal.

Namun mengenai informasi yang sering diperbincangkan masyarakat tentang akibat terjadi banjir karena dibukanya pintu waduk Gajah Mungkur, dibantah MULYONO. Karena pindu waduk yang berada di Wonogiri Jawa Tengah itu harus selalu dibuka untuk mengatur kebutuhan air yang dialirkan ke PLTA Wonogori. Terutama apabila ketinggian air di waduk mengalami kelebihan di titik 20 cm dari standar ketinggian air di titik 135,50 cm.

Hari ini air di Bengawan Solo akan terus naik, karena air dari Ngawi belum seluruhnya turun ke Bojonegoro.(ipg)

Komentar bertahan »

Kepala Pusat Studi Bencana ITS, Ada Beberapa Tips Menghadapi Banjir

suarasurabaya.net| Ada beberapa tips yang bisa dilakukan untuk menghadapi banjir kata AMIEN WIDODO Kepala Pusat Studi Bencana ITS Surabaya pada suarasurabaya.net.

Adapun tips menghadapi banjir kata AMIEN WIDODO antara lain:
1. Adakan pertemuan dan berdiskusi bersma saling berkomitmen untuk membuat Kelompok Komunitas Sadar Bencana Banjir dan segera daftarkan ke Satlak untuk kemudahan koordinasi dan pembinaan.

2. Aktifkan kelompok ini saat menjelang musim hujan tiba dan buat pertemuan rutin kelompok ini bersamaan dengan pertemuan RT.
Tujuan pertemuan adalah untuk memberi penerangan dan diskusi masalah banjir; menyiapkan peralatan minimal yang harus ada di setiap keluarga seperti pacul, skrop, sepatu boot (kalau bisa), nomor telepon penting, dan lain-lain yang diperlukan saat emergensi.
• Menyiapkan dan memasukkan dalam tas kusus barang bawaan minimal yang siap dibawa bila terjadi pengungsian,
• Memberitahukan cara-cara evakuasi, latihan evakuasi, latihan evakuasi untuk manula dan orang sakit,
• Memberitahu nomor telepon penting untuk keadaan darurat banjir, • Menyiapkankan karung-karung pasir untuk menahan dan membendung air supaya tidak masuk ke rumah, dan informasi penting lainnya yang dirasa perlu.

3. Mengembangkan sistem peringatan dini berdasarkan kemampuan daerah yang mereka miliki, misalnya dengan kentongan, radio panggil, interkom dan lain-lain (dll).

4. Membuat majalah dinding atau poster yang berisi peta kawasan rawan bajir, jalur evakuasi, lokasi pengungsian dll.
5. Gunakan sarana pengeras suara di masjid atau tempat ibadah lainnya untuk memberi peringatan bahaya banjir.
6. Mengingat bahwa banyak kasus bencana sering memisahkan anggota keluarga maka khusus untuk keluarga:
• Rencanakanlah dan latihanlah untuk menentukan tempat atau lokasi pertemuan bila saling terpisah.
• Buat kontak keluarga alternatif diantara kelompok komunitas. Catat dan yakinkan seluruh anggota keluarga mengetahui nama, alamat, nomor telepon dan HP dari keluarga alternatif tersebut.
• Ajari dan pastikan setiap anggota keluarga bagaimana dan kapan mematikan kompor gas, listrik dan air.
• Ajari dan pastikan setiap anggota keluarga bagaimana dan kapan menilpon polisi, PMK dan mencari radio yang selalu mengudarakan berita banjir.

7. Dengarkan pengumuman dari pihak yang berwenang lewat radio dan atau televisi, dan sebarkan lewat masjid-masjid atau media lainnya status siaga banjir.
8. Bila status masih siaga banjir maka telitilah dan periksa isi koper barang bawaan adakah yang sudah kadaluarsa, atau ada yang rusak dll.
9. Kalau rumah berlantai 2 maka segera pindahkan barang-barang berharga, elektronik dll ke lantai 2.
10. Isi penuh bak mandi karena sering banjir akan menyebabkan tandon air bawah tanah terendam air.
11. Kumpulkan seluruh keluarga dan ceritakan rencana evakuasi secara detail. Pastikan setiap anggota keluarga tahu dan jelas cara evakuasi dan apa-apa saja yang harus dibawa.
12. Bila ada manula, bayi atau warga yang cacat evakuasilah lebih awal karena mereka butuh waktu lebih lama.
13. Bila masih ada waktu amankan barang-barang yang mudah bergerak dengan jalan mengikat satu dengan lainnya atau dipaku supaya tidak bergerak waktu banjir datang.

Komentar bertahan »

banjir di jktbanjir di jkt

Komentar (1) »

Air Tanah dan Peran Masyarakat

Dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, terdapat satu pasal yang penting dipahami bersama, baik oleh masyarakat, pengusaha, maupun aparat pemerintahan. Pasal itu adalah Pasal 5: Negara menjamin hak setiap orang untuk mendapatkan air bagi kebutuhan pokok minimal sehari-hari guna memenuhi kehidupan yang sehat, bersih, dan produktif.

Karena sumber daya air yang tersedia saat ini, baik air permukaan maupun air tanah, semakin terbatas, acuan kepada pasal tersebut menjadi penting dan perlu dibuat skala prioritas. Artinya, kepentingan terhadap air minum dan rumah tangga lebih diprioritaskan daripada kepentingan komersial, baik industri maupun jasa. Air minum yang dimaksud adalah yang dikelola PDAM dan rumah tangga perseorangan, bukan apartemen atau hotel.

Itu berarti pula bahwa apabila masih terdapat sumber air lain, pihak yang lebih mampu harus mengambil air dari sumber tersebut. Sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 26: Pendayagunaan sumber daya air didasarkan pada keterkaitan antara air hujan, air permukaan, dan air tanah, dengan mengutamakan pendayagunaan air permukaan, air permukaan adalah pilihan pertama sebagai sumber air, khususnya bagi industri, dan lebih khusus lagi pada daerah-daerah yang telah mengalami krisis air tanah. Jika, misalnya, suatu perusahaan dalam membangun industri/jasa secara otomatis mencantumkan air tanah sebagai sumber airnya, itu adalah cara berpikir yang perlu diluruskan.

Sampai saat ini air tanah masih menjadi andalan utama untuk memenuhi kebutuhan hidup dibandingkan dengan air permukaan. Sebab, air permukaan memiliki beberapa kelebihan, di antaranya relatif lebih murah, mudah ditemukan di mana-mana, cara pemanfaatannya sederhana, dan kualitasnya relatif lebih baik sehingga tidak perlu dilakukan treatment terlebih dahulu.

Kasus Cekungan Bandung

Cekungan Bandung saat ini adalah cekungan air tanah yang tingkat kerusakannya paling parah di republik ini. Konflik pemanfaatan air tanah di wilayah ini dimulai sejak pemerintah menerapkan kebijakan open investment pada dekade 1970-an, di mana industri, terutama tekstil, menyerbu Cekungan Bandung. Untuk memenuhi kebutuhan pasokan air, dibukalah keran pemanfaatan air tanah dengan catatan: selama air permukaan belum mencukupi.

Ternyata pengeboran air tanah memberikan hasil yang sangat memuaskan. Banyak sumur bor yang airnya memancar ke atas. Kondisi ini menyebabkan banyak pihak terlena dan tidak mengantisipasi dampak eksploitasi air tanah secara berlebihan ini jauh ke depan.

Bagaimana kondisinya saat ini? Lupakan saja air artesis yang memancar. Saat ini banyak sumur bor yang kedalamannya lebih dari 100 meter itu sudah kering sama sekali. Pengukuran di beberapa tempat menunjukkan, penurunan muka air tanah rata-rata sejak tahun 1970 sampai tahun 2005 antara 66-69 meter.

Akibat ikutan dari penurunan muka air tanah tersebut adalah amblesan tanah (land subsidence) yang diakibatkan pemampatan pori-pori batuan yang kosong karena hilangnya massa air tanah. Disinyalir, semakin luasnya dataran banjir di Cekungan Bandung antara lain diakibatkan amblesan tanah ini.

Peran masyarakat

Apa yang dapat dilakukan masyarakat, baik perorangan maupun perusahaan, dalam membantu mengatasi masalah air? Cara-cara yang mudah, murah, dan dapat diterapkan secara umum, di antaranya pertama, hemat air. Pada musim kemarau seperti sekarang sangatlah mudah mengajak masyarakat untuk berhemat air. Namun, biasanya pada musim hujan orang mudah lupa.

Air bekas cucian dapat dipergunakan untuk mencuci motor atau mobil. Air bekas wudu dapat digunakan untuk menyiram tanaman. Menggunakan shower untuk mandi, dan tidak membiarkan keran air terbuka, serta masih banyak lagi.

Untuk perusahaan, lebih banyak lagi yang dapat dilakukan, misalnya sebuah perusahaan di Bekasi dapat menghemat ribuan meter kubik air per bulan hanya dari mendaur ulang air bekas wudu karyawannya.

Kedua, resapan air. Selain membuat sumur resapan, cara sederhana untuk meresapkan air, yang dapat dilakukan bahkan di permukiman padat sekalipun adalah dengan membuat lubang sedalam minimal 1 meter, kemudian dipenuhi batu atau kerikil dan mengalirkan air hujan langsung ke dalamnya. Prinsipnya adalah meresapkan air hujan ke dalam tanah secara langsung sehingga tidak melimpas ke gorong-gorong yang akhirnya menggenangi jalan dan membuat banjir cileuncang.

Pada gilirannya, air hujan yang meresap ini akan mengisi sumur-sumur dangkal penduduk. Resapan air tanah dalam memang membutuhkan teknologi khusus. Pada saat ini tengah dikaji secara intensif upaya-upaya pengisian kembali akuifer dalam secara artifisial oleh beberapa institusi.

Ketiga, tidak membuang sampah atau limbah ke perairan umum. Menjaga kualitas air permukaan sangat penting bagi pasokan air baku yang mencukupi. Kualitas dan kuantitas air permukaan yang mencukupi akan menjamin pasokan air baku untuk PDAM sehingga tersedia air yang cukup untuk memenuhi kebutuhan, bahkan pada saat kemarau sekalipun.

Keempat, menanam pohon keras. Rasanya tidak perlu lagi diulas di sini betapa pentingnya fungsi tanaman keras bagi peresapan air, menjaga kelembaban udara, pemasok oksigen, ataupun pemberi keteduhan. Dengan menanam pohon keras di lahan terbatas sekalipun berarti Anda turut menabung air untuk hari ini dan hari esok.

UU 7/2004 tentang Sumber Daya Air merupakan salah satu undang-undang yang pertama memuat mengenai peran masyarakat, bahkan diatur dalam bab tersendiri. Apabila merasa dirugikan oleh suatu pihak mengenai sumber daya air ini, masyarakat dapat melapor kepada pihak berwenang.

Ketentuan mengenai sanksi di dalam undang-undang ini juga sangat keras, yaitu sanksi pidana. Apabila, misalnya, suatu perusahaan membuat sumur bor dan kemudian sumur-sumur rumah tangga di sekitarnya menjadi kering, hal tersebut adalah perbuatan pidana karena terjadi kerusakan sumber daya air. Demikian pula apabila suatu perusahaan membuang limbah ke perairan umum.

Sekali lagi, upaya bersama seluruh masyarakat dalam mengatasi ketersediaan air ini sangat penting. Kesadaran semua pihak akan kondisi sumber daya air serta upaya-upaya yang terfokus, baik secara bersama-sama maupun perseorangan, diharapkan dapat menjamin tersedianya sumber air yang cukup untuk masyarakat ataupun untuk berbagai keperluan lainnya.

DEWI YULIANI Alumnus Program Pascasarjana Studi Pembangunan ITB

Komentar bertahan »

Supli Perancang Rumah Antibanjir

KOMPAS- Ketika hujan turun deras, saluran pembuangan air selalu penuh. Air hujan meluber menjadi genangan yang menyusahkan banyak orang, bahkan menyebabkan banjir.

Kita tak pernah berpikir untuk menampung air hujan. Padahal, air hujan mampu memberikan manfaat.
Supli Effendi Rahim, dosen di Fakultas Pertanian Unsri, telah lama mempraktikkan penampungan air hujan di rumahnya untuk berbagai keperluan. Penampungan air hujan itu disebut Supli sebagai “rumah panen hujan”. Artinya, rumah yang mendapat manfaat dari hujan atau memanen air hujan, bukan mendapat musibah dari hujan.

“Bangsa kita jadi susah karena salah memanajemen air hujan. Padahal, curah hujan Indonesia 4-5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan negara maju,” ungkap Supli, yang meraih gelar PhD di Cranfield Institute of Technology, Inggris.

Supli menjelaskan, konsep rumah panen hujan sangat sederhana. Intinya, hanya menampung air hujan supaya tidak terbuang percuma. Tempat penampungan bisa berupa kolam, drum, bak, dan sebagainya.
“Air hujan tak sama dengan air leding atau sumur. Air hujan mengandung nitrogen dan karbonat yang baik buat tanaman. Menampung air hujan juga menghemat pengeluaran,” kata Supli yang lahir di Manna, Bengkulu, 31 Juli 1960.
Di rumah Supli yang terletak di kompleks Poligon, Palembang, terdapat kolam ikan di depan rumah, sebuah kolam renang mini di belakang rumah, dan sebuah bak penjernih air.
Sayangnya, gagasan Supli kurang mendapat sambutan di negeri sendiri. Sambutan justru datang saat Supli mengunjungi Pulau Pinang, Malaysia, dua bulan lalu.

Setelah melakukan presentasi di Universiti Sains Malaysia dan di depan pejabat Jabatan Alam Sekitar (semacam Bappeda di Indonesia), Perdana Menteri Malaysia Abdullah Ahmad Badawi mengatakan akan mengeluarkan “peraturan kecil” agar setiap rumah menampung hujan seperti konsep rumah panen hujan Supli.
“Sejak pulang dari Inggris tahun 1991, konsep ini sudah saya sampaikan ke mana-mana. Tapi belum ada tanggapan dari pemerintah,” kata Supli. (wad)

Komentar bertahan »

BENCANA

Asal mula

Bencana adalah sesuatu yang tak terpisahkan dalam sejarah manusia. Manusia bergumul dan terus bergumul agar bebas dari bencana (free from disaster). Dalam pergumulan itu, lahirlah praktek mitigasi, seperti mitigasi banjir, mitigasi kekeringan (drought mitigation), dan lain-lain. Di Mesir, praktek mitigasi kekeringan sudah berusia lebih dari 4000 tahun. Konsep tentang sistim peringatan dini untuk kelaparan (famine) dan kesiap-siagaan (preparedness) dengan lumbung raksasa yang disiapkan selama tujuh tahun pertama kelimpahan dan digunakan selama tujuh tahun kekeringan sudah lahir pada tahun 2000 BC, sesuai keterangan kitab Kejadian, dan tulisan-tulisan Yahudi Kuno.

Konsep

Konsep manajemen bencana mengenai pencegahan (prevention) atas bencana atau kutukan penyakit (plague), pada abad-abad non-peradababan selalu diceritakan ulang dalam ‘simbol-simbol’ seperti kurban, penyangkalan diri dan pengakuan dosa. Early warning kebanyakan didasarkan pada Astrologi atau ilmu Bintang.

Respon terhadap bencana

Respon kemanusiaan dalam krisis emergency juga sudah berusia lama walau catatan sejarah sangat sedikit, tetapi peristiwa Tsunami di Lisbon, Portugal pada tanggal 1 November 1755, mencatat bahwa ada respon bantuan dari negara secara ‘ala kadar’. Jumlah korban meninggal pasca emergency sedikitnya 20,000 orang. Total meninggal diperkirakan 70,000 orang dari 275,000 penduduk.

Hingga dekade yang lalu, cita-cita para ahli bencana masih terus mengumandangkan slogan ‘bebas dari bencana’ (free from disaster) yang berdasarkan pada ketiadaan ancaman alam (natural hazard). Publikasi mutakhir tentang manajemen bencana, telah terjadi perubahan paradigma. Sebagai misal di Bangladesh dan Vietnam, khususnya yang hidup di DAS Mekong, yang semulanya bermimpi untuk bebas dari banjir (free from flood), akhirnya memutuskan untuk hidup bersama banjir (living with flood).

Tentunya komitmen hidup bersama banjir, tetap dilandasi oleh semangat bahwa banjir atau ancaman alam lainnya seperti gempa, siklon, dan kekeringan boleh terjadi tetapi bencana tidak harus terjadi. Di Timor, khususnya masyarakat Besikama, sudah sangat lama hidup bersama banjir. Masyarakat tradisional Besikama sebenarnya sudah mengenal tentang praktek mitigasi banjir berdasarkan konstruksi rumah tradisional mereka sejak lama, yakni rumah panggung, yang sudah sangat tidak popular karena ‘pembangunan’ mengajarkan segala segala sesuatu yang ‘modern’.

[wikipedia]

Komentar bertahan »

TKW Hongkong bantu korban banjir

Sejumlah TKW (tenaga kerja wanita) Indonesia di Hongkong dan tergabung dalam “Nongkrong Bareng Fans” (NBF) mengumpulkan dana untuk membantu korban banjir di Kabupaten Ngawi dan Ponorogo, Jatim.

Tania Roos, salah seorang TKW Hongkong yang bertugas mengantar bantuan itu di Ponorogo, Rabu (16/1) mengemukakan, bantuan pertama akan disalurkan ke korban banjir di Ponorogo. Pihaknya kini berkoordinasi dengan Satlak PB setempat.

“Jumlahnya memang tidak terlalu banyak, tapi ini merupakan bentuk kepedulian teman-teman TKW di Hongkong untuk meringankan beban saudara-saudara kita. Masing-masing untuk Ponorogo dan Ngawi ada uang Rp2 juta,” katanya.

TKW asal Malang Selatan itu mengemukakan bahwa aktivis NBF yang berjumlah sekitar 70 orang “bergerilya” mengumpulkan dana ketika mendengar kabar adanya banjir di sejumlah daerah di Indonesia.

“Ketua NBF, Esti Rahayu meminta saya mengantarkan bantuan ini. Untuk di Ponorogo ini Satlak PB meminta uang tersebut dibelanjakan dalam bentuk kebutuhan pokok saja sebelum disalurkan ke warga yang membutuhkan,” katanya.

Sementara untuk mengantar bantuan ke Ngawi pihaknya masih kesulitan karena masih menunggu keluarga TKW yang bisa dimintai bantuan untuk menyalurkan dana tersebut.

(siaga-bencana.com)

Komentar bertahan »

Penanganan Banjir di Jatim,Puluhan BUMN Himpun Dana

05 Januari 2008


Sebanyak 26 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Jawa Timur berencana menyalurkan dana bantuan hingga Rp6 milyar untuk sejumlah kabupaten-kota di Jawa Timur. Dalam penyaluran bantuan BUMN ini akan mengandeng pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur.

ERLANGGA SATRIAGUNG Ketua Kadin Jawa Timur pada RULLY reporter Suara Surabaya, Sabtu (06/01), menjelaskan, dana Rp6 milyar tidak hanya untuk penanganan tanggap darurat tetapi juga untuk program recovery ekonomi masing-masing daerah. Akibat banjir, berbagai sektor di sejumlah daerah di bantaran sungai Bengawan Solo yang membentang di Jawa Timur terganggu.

Kadin Jawa Timur bersama BUMN rencanakan program-program pendampingannya. MUHAYAT Deputi Menteri Negara BUMN hari ini beserta sejumlah pengurus Kadin bahkan sempat turun langsung meninjau lokasi bencana, untuk merumuskan program dan jenis bantuan yang akan segera disalurkan dalam waktu dekat.

[suarasurabaya.net/Khusnina Sekar Segari]

Komentar bertahan »

Pemerintah Berencana Bangun Waduk-Waduk Kecil Pengendali Bengawan Solo

Pemerintah memprogramkan pembangunan waduk-waduk kecil untuk mengendalikan air Sungai Bengawan Solo, sehingga dalam jangka panjang tidak akan terjadi banjir.”Itu akan segera kita programkan pembangunan waduk-waduk kecil yang jumlahnya puluhan, sekarang sudah ada belasan,” kata Menteri Pekerjaan Umum Joko Kirmanto di Gedung Depkeu, Jakarta, Kamis (3/1).

Joko menyebutkan, saat ini sudah ada waduk-waduk kecil di Wonogiri maupun Madiun untuk membantu menampung luapan air dari Sungai Bengawan Solo, namun sudah tidak memadai lagi.

“Karena itu, kita akan segera programkan pembangunan waduk-waduk kecil yang akan puluhan jumlahnya,” tegasnya.

Ia menyebutkan, masih ada sekitar 20-an waduk kecil yang bisa dibangun di berbagai kawasan itu. “Saya minta Dirjen Sumber Daya Air untuk melakukan kajian kembali karena tidak semuanya bisa dilakukan bareng. Mungkin lima dulu, sementara lima lagi tahun depan. Nanti akan dilihat prioritasnya,” katanya.

Ia menyebutkan, sudah dianggarkan untuk pembangunan dua waduk kecil sementara lainnya akan diupayakan. Menurut dia, selain untuk membangun waduk, pemerintah juga harus

menyiapkan anggaran untuk perbaikan jembatan dan jalan yang rusak akibat banjir.

“Selain pembuatan waduk, dalam jangka panjang untuk mencegah banjir perlu dilakukan penghijauan,” katanya.(Ant/OL-03)

[mediaindonesia.com]

Komentar bertahan »

Pemda dan Dinas PU Diminta Antisipasi Daerah Rawan Bencana

Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KLH) menghimbau kepada pemerintah daerah dan dinas-dinas pekerjaan umum (PU) untuk melakukan antisipasi di daerah-daerah rawan bencana banjir dan bencana longsor.

Hal itu dilakukan, untuk mengurangi bertambahnya jumlah korban akibat bencana banjir dan longsor yang dapat terjadi secara tiba-tiba, seiring dengan anomali perubahan cuaca dan iklim yang kian tidak menentu.

’’Karena itu, pemda dan dinas PU, perlu bekerja sama untuk merelokasi atau mengevakuasi warga yang tinggal di daerah rawan bencana bajir dan longsor, termasuk bantaran sungai, sejak dini agar tidak memakan banyak korban,’’ ujar Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar kepada pers, di Gedung KLH, Jakarta, Jumat (4/1).

Di sisi lain, Meneg LH, juga meminta masyarakat di daerah perkotaan, untuk tertib dalam membuang sampah. ’’Artinya, sampah tidak dibuang secara sembarangan ke aliran sungai, atau selokan, agar tidak menghambat lajunya air selokan atau sungai,’’ ujar Meneg LH.

Meneg LH menegaskan, meskipun dalam waktu dekat, akan keluar UU Pengelolaan Sampah, dengan sanksi yang tegas dan tidak ada diskriminasi, namun kesadaran masyarakat khususnya di daerah perkotaan sejak dini, akan membantu mengurangi bencana banjir yang lebih besar.

Untuk itu, lanjutnya, juga perlu ada perubahan paradigma di masyarakat, bahwa segala bencana alam ’kian lama kian menjemput’, jika tidak ada pengelolaan alam secara bijaksana oleh masyarakat.

Sementara itu, Deputi KLH Bidang Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan Masnellyarti Hilman menjelaskan, adanya berbagai bencana di sejumlah tempat saat ini, yang jauh lebih awal, disebabkan karena anomali cuaca dan perubahan iklim.

’’Berdasarkan masukan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), dan pantauan KLH, perkembangan yang terjadi menunjukkan bahwa gejala La Nina muncul dengan jelas mulai akhir November 2007 dan diprediksi hingga Maret 2008,’’ ujar Masnellyarti.

Untuk itu, kata Masnellyarti, semestinya masyarakat dan pemerintah daerah juga harus mengantisipasi sejumlah daerah yang tergolong rawan banjir, dan juga rawan bencana longsor.

Kemudian, lanjutnya, seperti bencana longsor, juga disebabkan oleh adanya perubahan penutupan lahan, yakni adanya penggantian tanaman keras, seperti pohon jati, pinus atau cemara, yang berada di kawasan lindung, dengan tanaman semusim, seperti pisang dan jagung.

’’Ini terbukti pada longsornya lahan di kawasan Tawangmangu, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu, karena tanaman semusim yang mengganti tanaman keras, menyebabkan daerah tersebut yang semula memiliki fungsi konservasi tanah dan air menjadi kurang atau tidak berfungsi,’’ jelas Masnellyarti.

Bahkan, tambah Masnellyarti, banjir yang menyebabkan sejumlah daerah di Pulau Jawa tidak lepas karena berkurangnya daerah tutupan lahan dari 19 persen pada 2005 menjadi 8,2 persen pada 2007.

’’Sementara, untuk kasus banjir akibat luapan Bengawan Solo, karena hutan alam yang berkurang 31 persen menjadi kebun campuran dan tanah terbuka, serta penambahan daerah permukiman sebesar 26 persen selama kurun waktu 2000 hingga 2007,’’ ujar Masnellyarti.

Akibatnya, lanjut Masnellyarti, curah hujan yang tinggi, yang kemudian tidak tertampun pada daerah-daerah tutupan lahan, akan meluap ke sejumlah daerah-daerah permukiman penduduk.

Hal ini diperparah pula, katanya, dengan pembangunan sipil teknis, yakni daya tampung waduk yang sudah tidak sesuai dengan kemampuannya dan teknik pertanian yang tidak memperhatikan kaidah konservasi tanah dan air, serta juga ditambah dengan pembuangan sampah ke sungai, atau selokan.

Sama halnya dengan Meneg LH, Masnellyarti meminta pemda dan dinas PU, untuk menindaklanjuti dan mengantisipasi daerah-daerah yang tergolong rawan banjir dan longsor, setelah peta lahan rusak dan peta rawan longsor yang akan diberikan segera oleh KLH kepada daerah-daerah.

[mediaindonesia/sidik pramono]

Komentar bertahan »