Arsip untuk Berita Terbaru

Penanganan Banjir Jakarta Tunggu Instruksi Presiden

TEMPO Interaktif, Jakarta:
Konsep penanganan banjir DKI Jakarta masih menunggu penekenan instruksi presiden. Dalam konsep itu pemerintah juga mengatur penanggulangan banjir secara nasional.

Menurut Kepala Balai Besar Sungai Ciliwung Cisadane Departemen Pekerjaan Umum Pitoyo Subandrio, instruksi presiden itu telah dikirim ke Sekretariat Negara pada 12 April 2007. “Sampai sekarang belum ada kabarnya lagi,” ujarnya kepada Tempo di ruangannya, Kamis (3/1).

Ia menjelaskan bahwa dalam instruksi itu terdapat konsep penanganan banjir Jakarta yang meliputi jembatan Kalibata yang nyaris hanyut dalam banjir tahun lalu. “Kalibata dan penanganan banjir lainnya sudah ada dalam konsep rencana instruksi presiden,” jelas dia.

Menurut Pitoyo, jembatan Kalibata dan Casablanca rawan hanyut akibat arus banjir yang melintas di bawahnya. Penyebabnya, tumpukan sampah yang menyangkut di bagian bawah jembatan. “Sampahnya luar biasa,” katanya. Bahkan, ia melanjutkan, tumpukan sampah di Sungai Ciliwung yang melintasi Kalibata bisa dilalui dengan berjalan kaki.

Hal ini tak terjadi di 1980an. Ketika itu, kata dia, Sungai Ciliwung masih digunakan untuk menghanyutkan bambu dari Bogor. Artinya, debit air sungai masih cukup dan tak ada sampah.

Bantaran Ciliwung yang membentang dari Kampung Melayu hingga Manggarai, didiami 71 ribu kepala keluarga atau 350 ribu jiwa. Pitoyo mengatakan, masyarakat yang tinggal di bantaran kali kerap menyulitkan pihaknya untuk memelihara infastruktur, salah satunya Cakung Drain yang dibuat pada 1980an. “Kalau mau operasi dan pemeliharaan, satu-satunya jalan harus masuk lewat laut dengan kapal keruk,” jelasnya.

Ia juga meluruskan kesalahpahaman di masyarakat mengenai bendungan Katulampa. “Katulampa bukan segalanya. Jika jebol, tak ada pengaruhnya sama sekali ke Jakarta,” tegas dia. Bendungan itu, lanjut dia, berfungsi untuk meninggikan elevasi muka air agar bisa dialirkan ke areal persawahan. Fungsi ini berbeda dengan waduk yang digunakan untuk menampung air. “(Waduk) jebol, wassalam.”

Kesalahan yang lain yakni istilah “banjir kiriman”. “Salah kaprah,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa air, secara alamiah, mengalir mengikuti gravitasi, dari daerah tinggi ke rendah. “Air dari atas memang harus ke Jakarta,” kata dia. Masalahnya, lanjutnya, daerah Jakarta berbentuk cekungan sehingga air yang masuk harus dikeluarkan dengan pompa.

Saat ini Ciliwung berada dalam siaga tiga dengan elevasi tertinggi 830 cm. Pitoyo mengatakan bahwa banjir tahun ini lebih berbahaya ketimbang sebelumnya. Pasalnya, banjir disebabkan oleh curah hujan tinggi dan naiknya muka air laut. “Kondisinya berbahaya. Mau buang (air) ke laut tapi tak bisa,” katanya. Rieka Rahadiana

Leave a comment »

Bendung Katulampa Waspada

TEMPO Interaktif, Bogor:Hujan yang mengguyur Bogor dan sekitarnya membuat Ketinggian air di bendung Katulampa mulai memasuki tahap waspada (70-100 sentimeter). Pada pukul 14.00 WIB, ketinggian air mencapai 90 sentimeter diatas papan mercu. Kondisi di Bogor hingga Rabu (1/2) pukul 15.30 masih hujan terutama di kawasan Puncak.
“Jika hujan terus seperti ini, bisa jadi nanti naik ke Siaga IV (100-150 sentimeter),”kata Andi saat dihubungi Tempo, Jumat (1/2).
Menurut Andi, pada pukul 07.00-11.00 ketinggian air masih normal yakni 40 sentimeter. Mulai pukul 11.00, air naik menjadi 60 sentimeter. Hujan deras yang menguyur kawasan puncak membuat ketinggian air terus merambat. Pukul 14.00 wib, air dari kawasan hulu, mulai menambah ketinggian air hingga 90 sentimeter diatas papan mercu. “Debit airnya saat ini 113 meter kubik perdetik,” kata Andi. Ia menyebutkan jika mencapai angka 100 sentimeter bisa menyebabkan banjir di beberapa tempat di Jakarta.
Hujan mengguyur kawasan Kota Bogor mulai pukul 23.00 wib, di beberapa tempat, tidak terjadi hujan, namun hujan merata terjadi mulai pukul 03.00 dini hari. Sampai pukul 11.00 wib hjujan masih merata. Pukul 13.00 wib, hujan deras kembali mengguyur kawasan Bogor, udara dingin makin terasa. Sekitar pukul 15.30 wib, hujan mulai reda, namun di kawasan Puncak justru makin deras, arus kendaraanpun terhambat.
Sementara itu aliran sungai Cisadane juga mulai meninggi. Hujan di daerah hulu atau kawasan Gunung Salak terjadi sejak pukul 01.00 dinihari hingga pukul 12.00 WIB. Ketinggian air di pintu air Empang terlihat. Deffan Purnama

Leave a comment »

Mengatasi Banjir Jakarta

Awal Februari 2007, wilayah Jakarta dan sekitarnya terendam banjir yang menyebabkan sekitar 80 orang meninggal dunia dan mengakibatkan kerugian material hampir Rp10 triliun. Wilayah Jakarta yang terendam banjir di Jakarta lebih luas dibandingkan bencana banjir serupa pada tahun 2002. Mengapa ini bisa terjadi? Padahal banjir termasuk bencana alam yang bisa diatasi.

Bencana alam banjir di Jakarta sebenarnya bisa diantisipasi sebab bencana ini diawali dengan tanda-tanda alam hujan yang turun terus menerus baik di Jakarta maupun di kawasan hulu di Puncak, Bogor.

Jika pemerintah dan masyarakat mengambil tindakan antisipatif, maka korban jiwa bisa dihindari dan kerugian material dapat ditekan. Lalu, mengapa bencana banjir menggenangi wilayah yang lebih luas dan korban jiwa lebih besar?

Pemerintah dan masyarakat tidak pernah belajar dari pengalaman bencana sebelumnya. Persoalan bencana alam banjir tidak pernah ditangani secara terpadu. Pemerintah dan mayarakat justru saling tuding atas kesalahan dan ketidakmampuan masing-masing.

Pemerintah menilai masyarakat sulit diatur karena tinggal di bantaran sungai sehingga membuat daya tampung sungai makin kecil. Sebaliknya, masyarakat menganggap pemerintah gagal menerapkan peraturan tata ruang dan membiarkan pembangunan gedung-gedung tidak terkontrol sehingga menutup daerah resapan air.

Untuk mencegah agar bencana banjir tidak menggenangi Jakarta lagi, diperlukan solusi yang terpadu dan melibatkan semua unsur, seperti pemerintah, masyarakat, kalangan dunia usaha, akademisi, anggota dewan, militer, polisi dan lain sebagainya.

Penanganan banjir di Jakarta juga dilakukan melalui pendekatan politis dan teknis yang melibatkan wilayah administrasi DKI Jakarta (hilir) dan Puncak atau Bogor (hulu) serta Banten. Pelaksanaan kerjasama ini harus dibuatkan skala prioritas, target waktu, pendanaan dan tanggung jawab yang jelas.

Secara teknis, pembuatan rencana kerjasama tidak sulit karena rencana induk penanganan banjir di Jakarta sudah disusun sejak tahun 1973 dan diperbaharui tahun 2002. Ada beberapa kebijakan yang terkait penanganan banjir yang perlu disesuaikan dengan Rencana Induk Banjir, yakni RUU Penataan Ruang (pengganti UU No 24/1992 tentang Penataan Ruang), RUU tentang DKI Jakarta, dan Rancangan Perpres tentang Penataan Ruang Kawasan Jabodetabekpunjur.

Tetapi sejauh ini, kebijakan yang dituangkan melalui peraturan dan undang-undang tidak berjalan dengan optimal. Misalnya, Keputusan Presiden No 114 Tahun 1999 tentang Penataan Ruang Kawasan Bopunjur, tidak pernah dipraktikan secara efektif. Kemudian, Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 1999 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) DKI Jakarta belum memberi fokus pada pencegahan banjir secara menyeluruh.

Upaya penegakan hukum (law enforcement) tata ruang masih lemah, para pengawas bangunan juga mudah diatur, dan mereka membiarkan pembangunan perumahan, perkantoran, ruko dan mall tidak terkendali. Berbagai sarana dan fasilitas dibangun di atas lahan yang seharusnya menjadi resapan air.

Akibatmya, berbagai peraturan yang dibuat tetap tidak dapat menertibkan bangunan yang merusak ekosistem, khususnya di kawasan Bogor, Puncak dan Cianjur.

Penanganan banjir secara terpadu sudah dibuat sejak awal tahun 1900 dengan konsep pembangunan Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur yang dipelopori oleh ahli tata air, Herman Van Breen. Tetapi semua perencanaan tersebut tidak memberikan hasil maksimal, bahkan bisa dinilai gagal, sebab banjir tetap masih melanda Jakarta.

Hal ini terjadi karena tidak ada komitmen yang sungguh dari para pengelola pemerintahan di Jakarta dan warganya untuk menciptakan Jakarta yang bebas banjir.

Perlu disadari, apabila kondisi seperti ini terus dibiarkan, maka sebagian besar kota Jakarta dalam beberapa tahun ke depan akan tenggelam. Banjir yang lebih luas dibandingkan tahun 2007 akan terjadi dalam beberapa tahun mendatang. Jika peraturan tentang tata ruang dan wilayah tidak ditegakkan, maka dukungan ekologi semakin berkurang.

Sebuah studi yang dilakukan South Pacific Regional Environment Programme (SPREP) akhir tahun 1990-an mengungkapkan pada pertengahan abad 21, sebagian besar daerah pantura Jawa bakal terendam air akibat peningkatan muka laut setinggi 45 cm. Penyebabnya, kenaikan suhu global 2,5 derajat Celsius yang disebabkan peningkatan emisi CO2 sekitar 200 persen.

Selain itu, permukaan air tanah di Jakarta cenderung menurun dari tahun ke tahun dan air laut merembes sampai ke wilayah perkotaan akibat dari penggunaan air tanah dan hidran umum secara berlebihan. Penyedotan air tanah di Jakarta telah mencapai 3-4 kali lipat batas toleransi (BankDunia, 2003). Pada saat yang sama, gencarnya pembangunan tak jarang menggerogoti jalur hijau dan memperkecil kawasan resapan air.

Proporsi luas lahan terbangun di DKI melonjak tajam sejak 20 tahun terakhir. Jakarta Selatan yang dulu merupakan daerah resapan air, misalnya, kini menjadi wilayah permukiman yang padat. Untuk mengatasi hal ini menjadi tanggung jawab kita bersama. (Suprantio)

[siaga-bencana.com]

Comments (4) »

Lagi, Banjir Besar Ancam Jateng

SEMARANG [Suara Merdeka] Hujan deras yang turun dalam beberapa hari terakhir, membuat debit air di sejumlah sungai besar di Jateng naik. Prakiraan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Jateng, dengan kondisi curah hujan mencapai 200 mm hingga 400 mm/bulan, berpotensi kembali terjadi banjir besar akibat meluapnya sejumlah sungai.

Koordinator BMG Jateng Ir HM Chaeran mengungkapkan sungai-sungai besar yang bermuara ke Laut Jawa dan debit airnya diperkirakan naik cukup tinggi, berpotensi meluap yakni Sungai Cisanggarung di Brebes (perbatasan Jateng-Jabar), Sungai Pemali (Brebes), Sungai Kaligangsa dan Ketiwon (Kota Tegal), Kali Pah, Kali Rambut (Kabupaten Tegal), Kali Comal (Pemalang-Pekalongan), Kali Bodri (Kendal), Bengawan Solo hingga Sungai Juwana (Pati).

Dalam dua hari terakhir, Kota Semarang yang dikepung dua banjirkanal barat dan timur sudah diterjang banjir di sejumlah lokasi. Itu akibat hujan cukup deras yang mengguyur Salatiga, Ungaran, Boja dan Kendal.

Memang, kata dia, curah hujan Februari tahun ini berkisar 200 mm hingga 400 mm/bulan. Kecuali daerah pegunungan di wilayah eks Karesidenan Banyumas bagian utara, Kedu bagian utara, Pekalongan bagian Selatan, Gunung Lawu dan Gunung Muria curah hujan diprakirakan kurang 400 mm/bulan.

”Sifat hujan umumnya normal. Pada bulan Pebruari 2008 curah hujan cenderung bersifat lokal, pada waktu sore dan malam hari . Kadang-kadang disertai petir, angin kencang bila terjadi cuaca buruk. Tapi memang hujan deras yang terjadi dapat berpotensi banjir seperti terjadi pada pekan terakhir Desember 2007 dan awal Januari 2008,” terang HM Chaeran.

Fenomena La Nina

Memperhatikan perkembangan dinamika atmosfer hingga pertengahan Januari 2008, indeks osilasi selatan (SOI) tiga bulan terakhir yaitu, Oktober 2007 (+2), November 2007 (+10), Desember 2007 (+10) dan sampai pertengahan Januari 2008 (+17).

Kemudian anomali suhu muka laut wilayah Samudera Pasifik equator bagian tengah dan timur yang mencapai -0,5 derajat Celcius hingga -2,5 derajat Celcius. Dengan demikian indikator global memperlihatkan gejala menuju fenomena La Nina sampai netral.

Sementara itu dalam skala regional, monsun dingin Asia yang menyertai angin baratan masih terlihat, namun tidak terlalu kuat. Karena itulah, pihaknya menegaskan prakiraan curah hujan pada Februari tahun ini di Jateng umumnya berkisar 200 mm hingga 400 mm/bulan di dataran rendah. Sedangkan di daerah dataran tinggi dan pegunungan kurang dari 400 mm/bulan. Sifat hujan umumnya normal.

”Walaupun masih dikategorikan normal, hujan yang turun cukup deras dan berlangsung lama. Bisa lebih dua jam. Ini yang membuat debit air cepat naik. Sementara daya serap lahan yang ada telah berkurang akibat banyaknya penebangan pohon,” kata Chaeran. (D12,H21-77)

Leave a comment »

Pasuruan Banjir, Jalur KA Lumpuh

Pasuruan, Kompas – Banjir yang melanda Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, mengakibatkan jalur kereta api (KA) tujuan Banyuwangi dan Jember lumpuh. Genangan di sejumlah titik beketinggian satu meter, dan lima titik lain antara Bangil-Pasuruan tak bisa dilewati KA karena kerikil penunjang rel hanyut terbawa banjir.

Kepala Stasiun Pasuruan Suhaimi mengatakan, tergerusnya balas terjadi pada Rabu (30/1) malam pukul 20.00 di wilayah Kecamatan Kraton. Bahkan, di satu titik, rel yang melewati sebuah kali kecil sampai melengkung ke bawah karena tidak tersangga. ”Meskipun rel tidak terputus, tetapi tetap berbahaya bagi perjalanan kereta jika memaksakan lewat karena dapat menyebabkan anjlok,” ujarnya.

Untuk itu, PT Kereta Api (KA) Daerah Operasi VIII Jatim membatalkan perjalanan lima KA jurusan Surabaya-Banyuwangi/Jember, Kamis. Kepala Stasiun Gubeng Soenaryo, menyatakan, perjalanan KA dibatalkan karena banjir masih merendam rel KA di dua lokasi. Lokasi itu di kilometer 58,9 sampai 59,1 serta kilometer 65 sampai 66 di wilayah Bangil Pasuruan.

KA yang perjalanannya dibatalkan adalah KA Eksekutif/Bisnis Mutiara Timur jurusan Surabaya-Banyuwangi (pukul 09.15), KA Ekonomi Sri Tanjung jurusan Surabaya-Banyuwangi (15.16), KA Ekonomi Logawa jurusan Surabaya-Jember (16.45), dan KA Cantik jurusan Surabaya-Jember (pukul 16.10), KA Tawang Alun jurusan Banyuwangi-Malang.

Hingga kemarin siang, lalu lintas yang menghubungkan Pasuruan dan Probolinggo masih lumpuh, terutama di ruas Rejoso yang terendam luapan Kali Winongan. Bahkan banjir hingga di Desa Ngopak dan Nguling, di perbatasan Kabupaten Probolinggo. Banjir merendam pemukiman warga dan sawah di kawasan itu.

Menurut sejumlah warga yang berada di kaki Gunung Bromo, tahun 1970 kaki Gunung Bromo masih dipenuhi pohon. Namun sejak 1998, pohon-pohon ditebangi karena desakan kebutuhan hidup. Karenanya, rusaknya hutan di kaki Gunung Bromo dan Gunung Lawang inilah yang diduga menjadi penyebab banjir di 13 kecamatan di Kabupaten dan Kota Pasuruan, Rabu. Kerusakan hutan akibat pembalakan liar dan alih fungsi lahan.

Ngawi Banjir Lagi

Empat kecamatan di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur kembali terendam banjir Kamis (31/1). Meski ketinggian air rata-rata hanya 50 sentimeter, warga di sekitar lokasi banjir segera mengungsi. Koordinator Satkorlak Ngawi Shodiq Tri Widianto mengatakan, banjir terjadi pada Kamis dini hari hingga siang. Banjir merendam desa-desa di Kecamatan Kwadungan, Pangkur, Geneng, dan Ngawi Kota. “Warga yang masih trauma dengan banjir akhir tahun panik sekali,” ujarnya. (APA/A14/A13/LAS/BEE/RAZ/CHE)

Leave a comment »

Kaligarang Meluap, Puluhan Rumah Tergenang

SEMARANG [Suara Merdeka] Hujan deras yang mengguyur Ungaran dan kawasan atas Semarang menyebabkan Sungai Kaligarang dan Kreo meluap. Tiga rumah yang berlokasi di bantaran sungai di wilayah RW 2, Kelurahan Ngemplak Simongan, Semarang Barat, terancam hanyut. Selain itu, akses jalan menuju kampung yaitu Jl Simongan I juga banjir dengan ketinggian air mencapai lutut orang dewasa.

Pantauan Suara Merdeka, Rabu (30/1) sekitar pukul 21:00, warga yang akan masuk atau keluar kampung tersebut terpaksa harus melewati bantaran sungai. Sepeda motor atau mobil tidak bisa melewati jalan tersebut.

Puluhan warga keluar dari rumahnya masing-masing dan berada di sepanjang bantaran sungai untuk memantau ketinggian air.

Sementara tiga keluarga yang rumahnya kebanjiran berusaha menyelamatkan barang-barangnya. Di antaranya kasur, barang elektronik, dan perkakas dapur. Hingga semalam, kendati sudah mulai menyusut, air masih mencapai peres sungai atau dengan kedalaman sekitar 1 meter dari bibir tanggul.

”Air mulai naik dan memasuki rumah sekitar pukul 18:00. Warga memperoleh informasi dari radio, teve, dan pihak kelurahan, ada banjir kiriman,” kata Budi, salah seorang warga RT 8 RW 2 yang rumahnya kebanjiran. Hal senada juga dikatakan dua pemilik rumah lainnya yang terkena banjir, yaitu Jalmiatun dan Teguh. Mereka mengungsikan barang-barangnya sembari menunggu air surut. Menurut warga, banjir serupa kali terakhir terjadi pada akhir November 2006.

Lurah Ngemplak Simongan, Bambang Santosa mengatakan, pihaknya telah menyiapkan posko dadakan apabila ketinggian air terus bertambah.

”Saat ini petugas kelurahan dan kecamatan dalam posisi siaga. Kantor kelurahan telah dipersiapkan sebagai posko untuk mengantisipasi warga yang mengungsi,” kata Bambang.

Sementara itu, banjir juga terjadi di RW 3 Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati. Akibat luapan Sungai Kreo, 50 rumah tergenang dengan ketinggian sekitar 20 cm. Air juga memasuki ruang kelas SD Sukorejo 02 yang terletak sekitar 100 meter dari tepi sungai.

Lurah Sukorejo, Taat SSos menjelaskan, Sungai Kreo mulai meluap sekitar magrib. ”Pelan tapi pasti air terus bertambah. Dibandingkan setahun lalu, banjir kali ini (semalam-red) lebih kecil,” ujar Taat.

Akhir 2006, kampung tersebut mengalami banjir bandang akibat luapan Sungai Kreo. Ketika itu air masuk ke rumah warga hingga 50 cm. Banjir juga mengakibatkan SD Sukorejo roboh.

Warga melakukan kerja bakti membersihkan rumah mereka. Camat Gunungpati, Sudarmaji Mulyono, meninjau langsung lokasi. Sementara itu, pihak Polresta Semarang Selatan menerjunkan puluhan personelnya untuk membantu warga. (H40,H6,H9,H13-62)

Leave a comment »

Ribuan Warga Mengungsi, Jalur Pasuruan Terputus

Pasuruan, Kompas – Sejumlah kecamatan di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, dilanda banjir setinggi satu hingga dua meter, setelah hujan lebat turun sejak Rabu (30/1) petang. Banjir akibat meluapnya Sungai Welang itu juga memutuskan jalur utama dari arah Sidoarjo ke Pasuruan.

Pantauan pada Rabu malam menunjukkan, warga terus mengungsi ke lokasi-lokasi aman. Alun-alun Kota Pasuruan juga tergenang air setinggi 30 sentimeter pada pukul 21.00.

Sementara jalur utama yang menghubungkan Surabaya ke Pasuruan dan kawasan timur Jawa Timur (Jatim) terputus. Akibatnya, antrean kendaraan di ruas itu tidak terelakkan hingga mencapai tiga kilometer. Para pengguna jalan tersebut terpaksa memarkir kendaraan mereka di jalan. Pengendara mobil pribadi memilih berputar balik.

Melihat kondisi itu, Kepala Kepolisian Resor (Polres) Pasuruan Ajun Komisaris Besar Setyobudi mengatakan, tidak ada jalur alternatif untuk jalur Pasuruan dan daerah timur Jatim. Demikian pula sebaliknya.

Dia mengingatkan, jika pengguna jalan memaksa melintas, mereka akan menghadapi risiko mogok karena tinggi genangan air yang mencapai satu sampai dua meter. ”Kami minta para pengguna jalan bersabar menunggu air surut,” ujar Setyobudi.

Putusnya jalur tersebut setelah Sungai Welang di Desa Tambak Rejo Kecamatan Keraton, meluap. Luapan air menggenangi jalan-jalan dengan tinggi antara satu hingga dua meter. Selain jalur utama, jalur alternatif ke timur lainnya juga tertutup. Jalur yang melalui Desa Wonosari, Kecamatan Tutur, itu tidak bisa berfungsi karena luapan dari air Sungai Welang.

Menurut sejumlah warga Tambak Rejo, meluapnya Sungai Welang terjadi sejak sekitar pukul 16.00. Kondisi itu diawali dengan hujan lebat di kawasan tersebut sejak sekitar pukul 14.00. ”Air terus meninggi,” ungkap Nurul, warga Tambak Rejo. Hingga pukul 21.00 aliran air masih deras dan lokasi banjir makin meluas.

Mengungsi

Menurut Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat Kabupaten Pasuruan Sunarto, berdasarkan data sementara hingga pukul 18.00, sejumlah kecamatan yang terendam banjir setinggi satu meter hingga dua meter itu adalah Winongan, Gondang Wetan, Pasrepan, Kraton, Pohjentreh, Prigen, Wonorejo, Kejayan, dan Purwosari.

”Sejumlah rumah tergenang air setinggi satu meter dan warga terpaksa harus mengungsi ke tempat yang lebih aman. Namun, berapa jumlah rumah di berapa desa dan berapa jumlah orang yang harus mengungsi kami masih mendatanya,” kata Sunarto.

Menurut Kepala Polres Pasuruan, hingga semalam banjir masih terjadi di sejumlah kecamatan. Kondisi terparah di Pasrepan dan Kejayan. Oleh karena itu, warga mengungsi ke tempat-tempat aman, di antaranya balai desa dan mushala terdekat.

Wakil Bupati Pasuruan yang juga menjabat sebagai Ketua Harian Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana Kabupaten Pasuruan Muzammil Syafi’i menjelaskan, banjir baru terjadi kali ini. ”Sungai yang melalui kecamatan-kecamatan itu tidak mampu menampung air sungai yang turun dari hulu di daerah Purwosari sehingga meluap dan menggenangi permukiman warga,” katanya. (apa)

Leave a comment »

Banjir Rendam Pasuruan

PASURUAN(SINDO) – Hujan deras tanpa henti sehari kemarin mengakibatkan Pasuruan dilanda banjir bandang.

Hingga tadi malam,air masih mengalir deras. Banjir diakibatkan meluapnya hampir seluruh sungai di wilayah ini. Tak terkecuali sungai Gembong di tengah kota Pasuruan.Ratusan rumah terendam air setinggi 0,5–1,5 meter. Ratusan warga mengungsi. Mereka juga segera menyelamatkan harta bendanya. Dari catatan Bakesbang Linmas Kabupaten Pasuruan, setidaknya 17 desa di 6 kecamatan, yakni Kec Prigen, Pasrepan, Gondangwetan, Winongan, Grati, dan Kraton menjadi korban.

Beberapa desa itu antara lain Desa Gambiran (Prigen) , Desa Kedawung Wetan dan Kedawung Kulon (Grati), Desa Minggir (Winongan), Desa Bayeman, Desa Pohgajih, dan Desa Jogorepuh (Gondangwetan),serta Desa Sidogiri, Desa Kebotohan, Desa Arem-arem (Kraton). Sungai-sungai yang mengalir di wilayah yang direndam banjir tersebut adalah Sungai Welon, Rejoso, dan Kedunglarangan. Masyarakat di Desa Bayeman dan Minggir yang daerahnya terendam banjir cukup parah, kini meminta bantuan perahu untuk mengungsi.

Meluapnya air sungai-sungai itu menjadikan warga di daerah Bangil,Kraton,dan Rejoso waspada. Pasalnya, jika banjirmeluasakanmenenggelamkan juga daerah tersebut. Bahkan, tidak menutup kemungkinan banjir di Pasuruan itu akan berdampak pula terhadap penutupan jalan utama yang menghubungkan Surabaya-Pasuruan- Probolinggo. Banjir di 17 desa itu berefek ke wilayah perkotaan Pasuruan. Masuknya air ke dalam kota itu membuat panik warga karena saat bersamaan lampu listrik padam. Karena itu pula arus lalu lintas di dalam kota itu menjadi kacau dan terputus atau lumpuh total. Sedikitnya dua kecamatan di kota,yakni Bugul Kidul dan Purworejo kini terendam.

Banjir yang menggenangi kota dan kabupaten itu merupakan kiriman dari Prigen yang masuk ke Sungai Kedung Larangan (Bangil), Purwodadi dan Purwosari yang masuk ke Sungai Kali Weling di perbatasan kota dan kabupaten dan dari Paserpan masuk ke Sungai Gembong di dalam kota. Akibat banjir, kendaraan dari arah timur menuju Surabaya dan Malang,terjebak di dalam Kota Pasuruan karena jalur ke kedua arah itu lumpuh total.

Kapolresta Pasuruan AKBP Jebul Jatmoko mengemukakan bahwa jalur Jalan Raya Tambak Rejo dari Pasuruan menuju Surabaya tidak bisa dilalui karena air Kali Weling meluap dan Jalan Untung Suropati yang menuju ke Malang juga tergenang. Selain itu,kendaraan dari Malang dan Surabaya yang hendak menuju ke arah timur juga tidak bisa masuk ke dalam Kota Pasuruan. Sementara dari Pasuruan masih bisa dilewati meskipun jalur di daerah Rejoso juga sudah tergenang air. Hingga sekitar pukul 20.45 WIB, kondisi Kota Pasuruan masih gelap gulita karena listrik mati.Hanya di RSUD Pasuruan listrik yang hidup karena harus melayani pasien.

Leave a comment »

Air Sungai Meluap, 300-an Rumah di Bandung Terendam

Bandung, Kompas – Lebih dari 300 rumah yang dihuni sekitar 900 jiwa di RW 02, RW 03, dan RW 10, Kelurahan Hegarmanah, Kecamatan Cidadap, Bandung, Jawa Barat, terendam air, Selasa (29/1). Hal itu akibat air Sungai Cipaganti meluap hingga setinggi 1,5 meter setelah hujan.

Menurut Camat Cidadap Pepen Efendi, rumah yang kebanjiran berada di sekitar bibir Sungai Cipaganti dengan kontur curam. Jarak antar-rumah cukup dekat (rapat) dan wilayah itu sulit dijangkau kendaraan roda empat. ”Kami belum bisa mendirikan tenda pengungsian karena keterbatasan lahan. Sementara warga diungsikan ke masjid dan rumah warga yang diperkirakan aman dari banjir susulan,” katanya.

Menurut Komar, Ketua RT 01 RW 03, banjir kali ini lebih besar dari banjir sebulan yang lalu. Saat ini, katanya, ketinggian air naik 0,5 meter dan menyebabkan enam rumah permanen dan nonpermanen serta satu gedung olahraga rusak. Ia menduga hal itu akibat buruknya penyerapan air dan penyempitan sungai, menyusul pembangunan di kawasan Punclut, Bandung Utara.

Mulai pukul 12.00 WIB

Warsito (64), warga RT 10 RW 03 yang rumahnya roboh diterjang banjir, mengatakan, air sungai mulai meluap pada pukul 12.00 WIB. ”Sekitar pukul 13.00 ketinggian air meningkat hingga 1,5 meter. Tembok rumah saya tidak kuat menahannya dan akhirnya jebol,” paparnya.

Rumah Ny Eha (55), warga RT 10 RW 03 yang hanya berjarak 10 meter dari rumah Warsito, mengalami hal serupa. Dinding rumah yang hanya terbuat dari tripleks jebol. Sebagian perabotan rumah, seperti lemari, kasur, dan bantal, hanyut terbawa arus.

Tangani bencana

Wali Kota Bandung Dada Rosada kemarin menginstruksikan jajarannya untuk berkoordinasi menangani bencana. Aparat kewilayahan, seperti camat, lurah, hingga tingkat RT diminta segera membuat posko dan dapur umum. ”Selain itu, warga harus diungsikan dari bibir sungai sehingga, kalau terjadi banjir yang lebih besar lagi, tidak ada korban jiwa,” katanya mengingatkan.

Secara terpisah, petugas Satuan Koordinasi Pelaksana Penanganan Bencana Jawa Barat Fahmi Azhar menyatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menangani korban bencana. ”Kami antara lain membuat posko tanggap darurat dan evakuasi korban,” ujarnya

Menurut Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika Klas I Bandung Hendri Surbakti, curah hujan saat ini sebenarnya tidak tergolong tinggi. Rata-rata antara 25-50 milimeter per hari. ”Namun, cuaca bisa saja lebih buruk di kemudian hari. Sebab, saat ini di beberapa wilayah Jawa, termasuk Jawa Barat, terbentuk awan Cumulus nimbus. Awan yang biasanya membawa petir dan angin kencang yang mengakibatkan curah hujan semakin tinggi,” katanya. (MHF/CHE)

Comments (1) »

300 Rumah di Bandung Banjir Lagi

BANDUNG (SINDO) – Sedikitnya 300 rumah terendam banjir akibat hujan deras mengguyur Kota Bandung, Jabar, kemarin. Bahkan, dua rumah di Gang Hanafi, Kel Hegarmanah, Kec Cidadap, rusak.

Rumah milik Suyatno, 45, dan Warsoyo, 63, jebol tergerus air.Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, tetapi kerugian ditaksir mencapai Rp900 juta. Camat Cidadap Pepen Effendi mengaku,banjir terjadi akibat luapan Sungai Cipaganti. Dalam waktu singkat, ka-ta Pepen,air langsung meluap dan masuk ke rumah warga. Saat itu ketinggian air mencapai hingga 2 m.

“Daerah ini memang langganan banjir. Ini sudah yang ketiga kalinya Hegarmanah dilanda banjir.Pada 2005 sempat terjadi banjir seperti ini, akhir 2007 lalu juga terjadi hal yang sama,”tandas Pepen.Dia mengatakan, daerah yang terendam banjir itu berada di dua RW, yaitu RW 03 dan 02.

”Di RW 03,banjir menyergap 3 RT yaitu RT 1, 10, dan 11. Sementara di RW 02, di RT 06,”imbuh Pepen. Pepen mengimbau warga agar tidak lagi membangun rumah di pinggir Sungai Cipaganti. Sebab, kata dia, wilayah tersebut rawan dilanda banjir. Namun, lanjut Pepen, warga mengabaikan imbauan tersebutdantetapmembangun rumah di dekat sungai.

”Sekarang, antisipasinya, warga janganlagi membangunrumahdi dekat sungai,”tukasnya. Warsoyo, 63, mengatakan, saat hujan deras,dirinya langsung keluar rumah karena khawatir bakal terjadi banjir. Dugaan Warsoyo benar,begitu hujan mengguyur sekitar 1,5 jam, air Sungai Cipaganti langsung meluap dan menggenangi rumah warga.

Akibatnya, bagian pinggir rumah semipermanen milik Warsoyo hancur tergerus air.”Kejadian ini sudah dua kali menimpa rumah saya.Waktu Idul Adha tahun lalu, air Sungai Cipaganti juga meluap dan menggerus bagian depan rumah saya,”jelas Warsoyo. Hal yang sama dikatakan Yati,26.

Menurut dia,seluruh warga memang langsung keluar rumah saat hujan deras. Sebab,warga trauma dengan musibah tersebut.”Kebanyakan warga tidak ada di rumah dan sudah bersiap-siap takut terjadi banjir lagi. Ternyata memang benar, kali ini lebih parah dari yang kemarin,” ungkapnya.

Pantauan SINDO di lokasi kejadian, sejumlah warga dibantu aparat kepolisian dari Polresta Bandung Tengah sedang bekerja bakti membersihkan Sungai Cipaganti setelah banjir surut.Kondisi sungai tampak dipenuhi sampah. Sementara itu,warga lainnya tampak membersihkan rumah masing-masing dari genangan air.

Luapan air kotor dari Sungai Cipaganti tersebut juga menyisakanlumpurdirumahwarga dansekitarGangHanafi. Ketinggian lumpur mencapai hingga mata kaki. Endapan lumpur tersebut bahkan membuat warga sulit berjalan. Dengan menggunakan sekop dan cangkul,beberapa warga berusaha membersihkan lumpur-lumpur. Untuk menghindari korsleting, listrik di wilayah tersebut dimatikan. (yogi pasha/gin gin tigin ginulur/evi panjaitan)

Leave a comment »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.