Archive for Berita Terbaru

Lagi, Bengawan Solo Meluap

TUBAN (SINDO) – Ratusan warga dua desa di Kecamatan Widang,Kab Tuban, kembali diterjang banjir.

Meski tidak sebesar banjir pada awal Januari lalu,warga mengaku diliputi rasa waswas. Sebab, dua tanggul yang jebol hingga sekarang belum selesai diperbaiki.Kondisi ini membuat luapan Sungai Bengawan Solo menjadi ancaman. Air sewaktu-waktu bisa masuk ke persawahan dan permukiman warga. Ketakutan warga semakin kuat,menyusul jebolnya tanggul darurat yang ada di Desa Tegalrejo kemarin. Meski air belum sampai masuk rumah warga.Namun,sebagian besar warga sudah bersiap kembali ke tenda pengungsian yang ada di atas tanggul Bengawan Solo.Apalagi, air dari tanggul mengalir sangat deras.

Selain disebabkan jebolnya tanggul darurat itu,luapan air semakin deras karena sesuai papan duga ketinggian air sungai di pos pemantau Kecamatan Babat,Kabupaten Lamongan, pada pukul 06.00 WIB 5.50 pielschaal. Kemudian, naik pada pukul 09.00 WIB menjadi 5.68 pielschaal. ”Airnya sangat deras, makanya tanggul darurat tidak kuat menahan air,”kata Arifin, 28,warga Desa Tegalrejo. Akibat derasnya luapan air Sungai Bengawan Solo itu, ratusan keluarga yang ada di Desa Tegalrejo,Kedungrejo, Banjar,dan Simorejo,kembali bersiap untuk mengungsi di tenda darurat sepanjang tanggul sungai Bengawan Solo.

”Ini banjir ke empat kalinya. Kami khawatir nanti besar, makanya warga sudah siap jika terpaksa mengungsi lagi,” kata Pamudi,50,warga Dusun Panderejo,Desa Simorejo. Banjir tidak hanya menerjang area persawahan warga yang menjadi satu-satunya mata pencaharian.Air mulai masuk dan membanjiri jalanjalan desa, di Desa Tegalrejo dan Simorejo dengan ketinggian rata-rata 40 cm. Meski demikian, masih jarang rumah warga yang kemasukan air,sehingga warga masih bertahan di rumah.

Sementara itu,menurut Badri, pengawas proyek pembangunan tanggul yang jebol, pengerjaan penutupan tanggul yang jebol diperkirakan baru selesai akhir bulan ini. Penanganan sementara yang dilakukan hanya membuat tanggul kecil berfungsi membendung air sungai.”Tanggul yang jebol sepanjang 175 meter itu membutuhkan 50.000 kantong berukuran jumbo yang berisi tanah.

Dan saat ini, tanggul yang jebol telah terisi sekitar 25.000 jumbo bag,” katanya. Tapi lantaran derasnya air, tanggul kecil tersebut jebol hingga mengakibatkan air masuk ke permukiman warga serta jalan-jalan desa. Hal ini membuat warga merasa khawatir, air akan terus meninggi dan masuk ke rumah warga. (nanang fahrudin)

Leave a comment »

Pantura Masih Tergenang

Pati, Kompas – Air yang menggenangi ruas jalan pantai utara atau pantura di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, hingga Senin (25/2), belum surut meski dua hari ini curah hujan menurun. Genangan air masih terlihat mulai dari Desa Guyangan ke arah Juwana sepanjang sekitar lima kilometer.
Di beberapa titik, genangan air masih setinggi lutut orang dewasa. Badan jalan yang tergenang air juga dipenuhi lubang, dengan kedalaman mencapai 30 sentimeter. Kondisi itu membuat Kepolisian Resor (Polres) Pati menerapkan sistem buka tutup lalu lintas kendaraan.

Seluruh kendaraan yang melintas di lokasi genangan di jalur pantura itu harus berjalan pelan. Akibatnya, antrean truk yang panjang masih terjadi.

Warno (45)—sopir truk dari Surabaya, Jawa Timur, dengan tujuan Jakarta—mengaku antre selama lebih dari 12 jam di ruas jalan itu.

Mulai diperbaiki

Di sejumlah titik jalur pantura lain di Jawa Tengah, perbaikan sedang dilakukan. Lubang di sepanjang jalan pantura mulai dari Kudus hingga perbatasan Pati dengan Rembang, Jawa Tengah, mulai ditambal dengan menggunakan aspal emulsi. Lubang yang menganga di sepanjang jalan ditutup dengan kerikil dan pasir dicampur aspal.

Ruas jalan yang ditambal tersebut mencapai 44 kilomater, yakni mulai dari Kilometer 57 sampai dengan Kilometer 101. Pada Senin siang, sejumlah pekerja tampak sedang menambal lubang di ruas Pati-Juwana.

Sakirun, petugas pengawas dari bina marga, mengatakan, pengaspalan mulai dilakukan sejak 19 Februari 2008. Namun, proses penambalan jalan tersendat karena air yang menggenangi jalan belum sepenuhnya surut.

Di beberapa lokasi, material untuk menambal lubang terlihat berhamburan. Kondisi itu membahayakan para pengguna jalan, terutama kendaraan bermotor.

Menurut Sakirun, penambalan menggunakan aspal emulsi tersebut merupakan tindakan darurat. Oleh karena itu, secara teknis kualitas tambalan masih di bawah standar.

Proyek perbaikan ruas jalan pantura antara Pati dan Juwana akan menemui kendala ketersediaan bahan material. Persoalan itu disebabkan stok material batu serta campuran aspal yang tersedia di Pati terbatas karena proses produksi terhambat hujan.

Kepala Subdinas Program Dinas Bina Marga Jateng Gunawan Sudarmadji, Senin di Semarang, menyebutkan, proyek perbaikan ruas Pati-Juwana dilakukan atas perintah langsung Menteri Pekerjaan Umum. Proyek itu termasuk program transisi yang dikelola dan dikerjakan sendiri oleh Dinas Bina Marga Jateng, mengingat kebutuhan masyarakat terhadap perbaikan infrastruktur sudah mendesak. (A09/A05)

Leave a comment »

Korban Banjir Bertahan di Lokasi Pengungsian

KARAWANG, (PR).- Sebanyak 210 warga Desa Tambaksari, Kec. Tirtajaya Kab. Karawang, hingga Senin (25/2), masih bertahan di lokasi pengungsian. Mereka terpaksa tinggal berdesak-desakan di ruang kelas SDN Tambaksari II sejak Jumat (22/2) akibat rumahnya masih terendam banjir.

Dari hasil pemantauan “PR”, kondisi para pengungsi terlihat sangat memprihatinkan. Selain kedinginan, para pengungsi yang sebagian besar terdiri atas anak-anak dan manusia lanjut usia (manula) itu mulai terserang berbagai penyakit.

“Dari 1.630 kepala keluarga korban banjir, 83 KK di antaranya terpaksa kami ungsikan di bangunan SD. Pasalnya, rumah mereka terisolasi akibat dikepung air bah,” ujar Sekretaris Desa (Sekdes) Tambaksari, Usep Supriadi, ketika menerima rombongan pejabat PT Jasa Raharja Cab. Bandung dan Perwakilan Karawang, Senin kemarin. Dalam kesempatan itu PT Jasa Raharja menyerahkan bantuan berupa 400 paket makanan bayi, 400 kaleng biskuit, 200 dus mi instan, 400 kg gula pasir, 50 kodi selimut, dan sejumlah obat-obatan.

Menurut Usep, banjir yang melanda desanya sudah terjadi empat kali pada bulan Februari ini. Banjir tersebut diakibatkan oleh volume air hujan yang tinggi serta air laut yang pasang.

Dikatakan, air hujan yang datang dari arah hulu tidak bisa langsung masuk ke laut karena pada saat bersamaan laut sedang pasang. Akibatnya, air melebar ke areal persawahan, tambak, dan rumah-rumah penduduk. “Hampir semua dusun di desa ini dilanda banjir. Namun, dusun terparah diterjang bencana itu adalah Dusun Cibese, Serani, Cinara, dan Cisomo,” kata Usep.

Menurut dia, bencana banjir yang melanda desanya telah menenggelamkan 470 hektare sawah dan 895 hektare tambak. Selain itu, air bah yang terjadi terus-menerus tersebut telah merendam sedikitnya 1.107 rumah penduduk.

Terisolasi

“Bencana banjir kali ini sangat melelahkan kami semua. Sebab, banjir datang hampir setiap minggu, setelah itu surut kemudian banjir lagi,” timpal Dullah, Kasi Trantib Kecamatan Tirtajaya.

Menurut dia, warga awalnya tidak bersedia mengungsi karena merasa telah terbiasa menghadapi bencana itu. Namun pada Jumat (22/2), mereka kewalahan kerena tidak kuat menahan rasa dingin dan lapar. Akhirnya sejumlah wanita, anak-anak, dan para manula mengungsi ke gedung SD Tambaksari II.

Dikatakan, warga Dusun Cibese bahkan hingga Senin kemarin masih terisolasi kerena akses jalan menuju kampung itu putus terendam banjir. Untuk mendapatkan makanan, warga di kampung itu terpaksa harus menggunakan perahu menuju Dusun Tambaksari. “Daripada kelaparan, mereka kami ungsikan di gedung SD ini,” kata Dullah.

Dari pantauan “PR”, hingga Senin siang, air banjir terlihat masih menggenangi hamparan sawah dan tambak di Desa Tambaksari. Akibat tingginya genangan tersebut, pucuk padi maupun pematang tambak tak terlihat lagi.

Genangan air bah itu bahkan bersatu dengan permukaan air laut sehingga tak tampak batas pantai dan daratan. Yang terlihat hanya sederet permukiman warga yang masih tergenang banjir.

Kepala Bagian Keuangan PT Jasa Raharja Cabang Bandung, Surung Panjaitan mengatakan, pihaknya sengaja datang ke Tambaksari guna meringankan penderitaan warga korban banjir. (A-106)

Leave a comment »

Banjir Memupus Harapan Mereka

[SuaraPembaruan]
Selasa, 26 Februari 2008, tepat 25 hari banjir menggenangi Kampung Penombo, Desa Pantai Harapan Jaya, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Belum ada tanda-tanda air akan surut. Kabut terus menggelayut di atas desa berpenduduk 2.096 kepala keluarga itu. Debit air sungai yang mengelilingi wilayah itu juga belum menunjukkan tanda-tanda normal.

Banjir berkepanjangan membuat kehidupan warga semakin sulit. Bagaimana tidak, warga yang menggantungkan hidupnya dari bertani sawah dan tambak ikan terpaksa gigit jari. Banjir memupus harapan mereka. Kini mereka terpaksa bertingkah sebagai pengemis, mengharapkan bantuan dari pemerintah atau siapa pun agar bisa bertahan hidup.

Sekretaris Desa Pantai Harapan Jaya, Denas, menuturkan, bila banjir belum surut dalam sepekan mendatang korban banjir kelaparan.

Penyebab utama banjir adalah meluapnya Kali Ciherang yang bersebelahan dengan desa tersebut. Kali meluap setiap tahun, mulai 2001. Warga hanya pasrah menghadapi kenyataan itu. Banjir menggenangi rumah dan menenggelamkan sumber-sumber ekonomi warga.

Panjul (40), warga Kampung Penombo, mengaku, debit kali setiap tahunnya mengalami peningkatan. “Banjir tahun ini lebih besar dibanding tahun lalu,” ungkap petani itu.

Lahan sawah, ladang, tambak ikan bandeng, dan udang terendam. Bahkan, sekolah pun terpaksa diliburkan sejak awal Februari lalu akibat banjir. Akses jalan terputus. Warga terpaksa menggunakan perahu sebagai alat transportasi. “Perlu waktu kurang lebih 40 hari agar banjir ini surut,” ujar Panjul yang te- lah 15 tahun tinggal di Kampung Penombo.

Rumah Panjul yang berada di antara hamparan sawah luas terendam air setinggi setengah meter. Area sawah rusak parah menjadi hamparan banjir bak lautan. Hingga Senin (25/2), sekitar 80 persen rumah dan sawah di desa tersebut masih terendam air. Ketinggian air bervariasi yaitu antara 0,3 meter hingga 1 meter.

Kebanyakan rumah di desa itu masih terbuat dari bambu. Boleh dikatakan lokasi itu merupakan komunitas masyarakat miskin. Panjul yang meliliki empat anak ini mengungkapkan, setiap memasuki awal tahun, warga Desa Pantai Harapan Jaya selalu berada dalam keadaan waspada banjir.

Guyuran hujan yang datang setiap hari dalam sebulan terakhir mempercepat debit air dua sungai yang mengapit desa tersebut. Kali Ciherang dan Kali Bebenol, merambat naik melewati ambang batas. Akhirnya, meluber ke pemukiman dan lahan warga.

Luapan kali masih menggenangi 1.700 rumah di 22 RT, merendam 1.500 hektare sawah, dan menenggelamkan 1.000 hektare tambak ikan bandeng dan udang. Di antara sawah yang terendam, terdapat sekitar 200 hektare padi berumur 3 bulan sudah mulai membusuk. Sedangkan 1.200 hektare lainnya sedang dalam penyamaian, juga tak luput dari hantaman banjir.

Kerugian materil di Desa Pantai Harapan Jaya diperkirakan mencapai miliaran rupiah. Belum lagi di desa lainnya seperti di Desa Jaya Sakti, Pantai Bahagia, Pantai Bakti, Pantai Sederhana, Kecamatan Muara Gembong. Sementara itu, di Kecamatan Cabang Bungin yang merupakan tetangga Kecamatan Muara Gembong juga terkena dampak luapan Kali Ciherang. Tiga desa yang diterjang banjir di Kecamatan Cabang Bungin yaitu, desa Lengga Sari, Jaya Sakti, dan Jaya Bakti.

Lebih lanjut Denas, mengungkapkan, banjir di wilayahnya sudah merupakan musibah tahunan dan belum ada solusi hingga sekarang. Tidak adanya tanggul pengaman di sepanjang Kali Ciherang, membuat air yang meluap tidak terbendung. “Kondisi Muara Kali Ciherang sudah sangat memprihatinkan. Sudah Sepuluh tahun tidak pernah dikeruk. Ini yang menyebabkan air Kali tidak lancar mengalir ke laut,” kata Denas seraya mengharapkan pemerintah secepatnya menormalisasi Muara Nawan agar air tidak meluap ketika debit Kali meningkat.

Selain itu, tambah Denas, perlunya pembangunan bendungan untuk menahan laju pasang air laut di kampung Sungai Indah Desa Pantai Harapan Jaya, tepat di pertemuan empat kali yang akan mengarah ke laut, yaitu Kali Ciherang, Kali Cikarang Bekasi Laut (CBL), Kali Bebenol, dan Kali Bekasi. [Hotman Siregar]

Leave a comment »

Banjir Meluas di 72 Desa

[SUARA MERDEKA] PATI- Kendati dalam dua hari ini kondisi cuaca di Kabupaten Pati cerah, laporan daerah yang mengalami banjir yang diterima Pemkab terus bertambah. Hingga Minggu (24/2), ada tambahan empat desa yang tergenang, sehingga jumlahnya mencapai 72 desa.

Namun, pihak Dinas Kesejahteraan Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat (Diskesospermas) sejauh ini masih mengecek kebenaran laporan banjir di Desa Geritan (Kecamatan Pati), Karangwage (Trangkil), Ngurensiti (Wedarijaksa), dan Jimbaran (Margorejo).

Kepala Diskesospermas Sugiharto SH MM mengatakan, hampir setiap hari laporan desa yang kebanjiran selalu bertambah. Namun, pihaknya perlu mengecek kebenarannya ke lokasi secara langsung.

“Kalau memang benar kebanjiran akan kami masukkan dalam daftar bantuan. Namun jika hanya menggenangi pekarangan, tidak kami bantu karena kami lebih memrioritaskan yang permukimannya terendam,” ujar dia, kemarin.

Sementara itu, cuaca yang cenderung cerah dua hari belakangan ini, kata Kasubdin Pengairan Diskimpras Munjaedi ST, membuat elevasi Sungai Juwana berkurang sekitar 10 centimeter. Jika dua hari lalu mencapai 100 cm, kemarin sore bekurang menjadi 90 cm.

Elevasi air sungai yang mencapai 100 cm tersebut lebih dipengaruhi oleh hujan lokal di sekitar Lereng Muria. Sedangkan kiriman air dari arah Kudus dan Purwodadi nyaris tidak ada karena saat ini pintu pada Bendung Wilalung untuk aliran ke Pati ditutup.

Kendati demikian, pihaknya memperkirakan genangan banjir susulan yang meluas baru surut tuntas beberapa bulan ke depan. “Informasi dari Badan Meteorologi dan Geofisika, hujan masih akan turun hingga akhir Februari, jadi penyusutan air ini masih bersifat sementara,” jelasnya.

Akibat banjir yang berkepanjangan, salah seorang warga Desa Kosekan, Kecamatan Gabus, Jadi (45) mengaku jenuh dengan bencana yang hampir bisa dipastikan terjadi tiap tahun. Menurutnya, penyebab utamanya adalah tidak adanya keseriusan pemerintah kabupaten maupun pusat untuk menormalisasi Sungai Juwana.

“Kalau tidak segera dikeruk, tiap musim hujan kami yang berada di tepi Sungai Juwana akan selalu menjadi korban banjir. Dan ini jelas menambah kemiskinan karena kami tidak bisa berbuat apa-apa karena sawah kami juga terendam,” keluh dia yang sehari-hari mencari nafkah sebagai petani.

Desakan normalisasi Sungai Juwana untuk segera direalisasikan, menurut Munjaedi, telah diupayakan pemkab. “Sasaran tahun ini adalah kawasan muara yang telah ada detail engineering design (DED).”

Selain itu, lanjutnya, dua waduk penampung air dari lereng Muria yakni Gembong dan Gunungrowo tahun ini juga akan dikeruk oleh Balai Besar Wilayah Sungai Jratun Seluna, Jakarta. Harapannya, daya tampung kedua waduk itu bisa kembali normal dan aliran air dari Lereng Muria bisa dikendalikan. (H49-60)

Leave a comment »

Ribuan Rumah Terendam Banjir

[JAWA POS] BANGIL – Banjir kembali melanda kawasan kecamatan Bangil, kabupaten Pasuruan, Selasa (25/2) malam. Ribuan rumah di tiga desa dan dua kelurahan terendam air. Yakni, Kelurahan Kalianyar, Kelurahan Latek, Desa Tambakan, Desa Manaruwi serta Desa Masangan.

Dibanding banjir akhir Januari lalu, kali ini tidak terlalu parah. Warga setempat terkesan tidak mempedulikan datangnya air yang menggenangi daerahnya. “Sudah biasa Mas. Sebentar lagi pasti surut,” kata Marsidin, warga Kalianyar ditemui Radar Bromo malam kemarin.

Banjir yang terjadi sejak Senin (25/2) sore itu karena hujan deras mengguyur daerah Bangil. Selain itu, kondisi air laut pasang membuat air cepat meninggi.

Menurut data yang dihimpun Radar Bromo di Bakesbanglinmas Kabupaten Pasuruan, dari lima daerah yang terendam, Desa Tambakan yang terparah. Di desa tersebut sebanyak 499 rumah warga (715 KK) terendam dengan ketinggian air mencapai satu meter.

Namun demikian, beberapa warga menyatakan tidak khawatir, karena banjir Selasa malam itu sudah musiman. Sehingga, warga menyatakan tidak perlu mengungsi ke tempat yang aman. “Setiap tahunnya ya seperti ini,” jelasnya.

Informasi yang dihimpun Radar Bromo, banjir mulai menggenangi empat kelurahan tersebut sejak pukul 17.00. Hujan deras yang tak henti-hentinya mengguyur kawasan itu, membuat air dengan cepat merendam ratusan rumah warga.

Sekitar pukul 19.00, kondisi air di kawasan tersebut kian meninggi. Menurut, Faizin, salah satu warga Kalianyar saat itu tinggi air mencapai pusar orang dewasa. “Tapi, itu tidak lama, beberapa saat langsung surut,” terangnya.

Menurut Faizin, meski banjir, kebanyakan warga memilih untuk tidur di rumahnya, daripada menunggu surutnya air. “Banjir di sini ya seperti ini. Jadi warga tidak terlalu khawatir. Kecuali banjir pada akhir Januari lalu,” terangnya.

Namun demikian, warga berharap pemerintah setempat ikut memikirkan bagaimana solusi untuk mengatasi banjir musiman tersebut. Karena menurut warga, saat ini kondisi sungai yang ada di daerahnya sudah mulai dangkal.

Untuk itu, warga berharap pemerintah daerah mengeruk sungai-sungai di kawasan itu. “Kalau dibiarkan terus, pasti banjir lagi,” kata Nuri, warga lainnya.

Salah satu petugas kecamatan yang ditemui di lokasi banjir kemarin malam menyatakan, pihaknya saat ini masih mendata kerugian yang diakibatkan banjir tersebut. “Daerah ini memang rawan banjir. Begitu hujan deras dengan intensitas di atas rata-rata, kemungkinan besar pasti banjir,” kata petugas yang enggan menyebut namanya. (df)

Leave a comment »

Menghitung Kerugian Akibat Banjir,Pertumbuhan Ekonomi Menjadi Semu

Banjir datang saban tahun. Kerugian besar nyaris tak terhitung. Seperti apa dampak bencana ini terhadap sektor perekonomian? Berikut ulasan Nur Hidayat dari The Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi (JPIP).
——–

Saat penyerahan bantuan pembaca Jawa Pos untuk sekolah korban banjir di Trenggalek, para siswa ditanya tentang penyebab banjir. Dengan kompak mereka menjawab, “Hutannya gundul, Pak, karena ditebangi.” Bupati Trenggalek Soeharto yang turut menyaksikan penyerahan bantuan itu membenarkan jawaban para siswa.

Pesan moral dari cerita itu, masyarakat sebenarnya sudah mafhum tentang penyebab banjir. Bahkan, meminjam bahasa sebuah iklan, anak kecil pun sudah tahu. Tapi, mengapa jumlah korban dan kerugian akibat banjir dari tahun ke tahun semakin besar?

Terencana

Laporan yang dirilis Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana (Bakornas PB) menyebutkan, sepanjang 1998-2003 terjadi sedikitnya 647 bencana. Dari jumlah itu, sekitar 85 persen adalah banjir (302 kejadian) dan tanah longsor (245 kejadian). Sisanya adalah gempa bumi (38 kejadian), gunung berapi (16 kejadian), dan angin topan (46 kejadian).

Dilihat dari jumlah korban dan kerugian, dampak banjir tetap menempati peringkat tertinggi. Dalam rentang waktu lima tahun, jumlah korban banjir mencapai 1.066 jiwa dengan kerugian sekitar Rp 191,31 miliar. Sedangkan korban longsor mencapai 645 jiwa dengan kerugian Rp 13,93 miliar. Sementara itu, korban gempa bumi mencapai 306 jiwa dan kerugian material Rp 100 miliar.

Bandingkan angka tersebut dengan jumlah korban dan kerugian akibat banjir yang (hanya) berlangsung pada pekan terakhir 2007 lalu. Sekadar menyebut contoh, sedikitnya 2.730 rumah di Kabupaten Gresik dan 5.334 rumah di Kabupaten Ngawi terendam. Kerugian akibat rusaknya sejumlah fasilitas umum dan tempat usaha di Kota Solo juga tidak sedikit, diperkirakan mencapai Rp 22 miliar.

Departemen Pertanian melaporkan, sedikitnya 157.651 hektare tanaman padi di 13 provinsi terendam. Tujuh provinsi paling parah adalah Jawa Tengah (52.410 hektare), Jawa Timur (44.342 hektare), Jawa Barat (16.882 hektare), Nanggroe Aceh Darussalam (12.306 hektare), Kalimantan Barat (11.871 hektare), Banten (7.011 hektare), Sumatera Utara (5.950 hektare). Sekitar 60 ribu hektare di antaranya terancam puso. Total kerugian diperkirakan mencapai Rp 705 miliar (lihat grafis).

Mengutip laporan Bakornas PB tentang rekapitulasi bencana sepanjang 1998-2003, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menyebut bahwa banjir dan tanah longsor adalah bencana yang “bisa direncanakan”. Sebab, keduanya bukan hanya disebabkan faktor alamiah, tapi lebih banyak karena campur tangan manusia.

Manajemen Buruk

Mengapa persentase terbesar justru dari bencana yang seharusnya dapat diantisipasi? Pakar hukum lingkungan Universitas Airlangga Surabaya Dr Suparto Wijoyo menyebut buruknya manajemen lingkungan sebagai penyebab utama banjir dan tanah longsor. Menurut dia, problem lingkungan belum terinternalisasi ke dalam manajemen kebijakan pemerintah.

Akibatnya, meski cukup banyak lembaga yang terkait dengan pengelolaan lingkungan, masing-masing terkesan berjalan sendiri. Dia menyebut beberapa instansi yang patut dimintai pertanggungjawaban atas terjadinya banjir dan longsor. Lima instansi yang terkait dengan gundulnya hutan antara lain Departemen Kehutanan, Dinas Kehutanan, Polisi Hutan, Perum Perhutani, dan PT Perkebunan Nusantara.

Sementara itu, instansi yang terkait dengan pengelolaan sungai antara lain Departemen Pekerjaan Umum, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Pengairan, Perum Jasa Tirta, Balai Besar Sungai, dan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bappedalda). Di atas itu semua, peran kepala daerah juga turut menentukan keberhasilan internalisasi problem lingkungan ke dalam kebijakan pemerintah di daerah.

Dampak Ekonomi

Jika semua kerugian akibat banjir dan tanah longsor yang berlangsung setiap tahun dikalkulasi, adakah arti dari nilai tambah industri perkayuan yang berkisar antara Rp 16 triliun hingga Rp 19 triliun per tahun jika dibandingkan kerusakan lingkungan yang ditimbulkan? Tidakkah capaian pertumbuhan ekonomi kita menjadi semu karena itu?

Pertanyaan di atas patut diajukan mengingat upaya penegakan hukum di bidang kehutanan semakin tidak jelas juntrungnya. Alih-alih menghentikan berbagai praktik pembalakan liar, para penegak hukum dan elite politik justru memilih membebaskan pelaku perusakan hutan. Tidak mau kalah dengan perilaku elite di Jakarta, aparat birokrasi di daerah juga lebih mementingkan target perolehan retribusi dan pendapatan asli daerah (PAD) daripada menggalakkan upaya konservasi.

Merujuk pada UU No 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah, pengelolaan dan pelestarian (baca: pengendalian) lingkungan hidup sebenarnya merupakan urusan wajib yang menjadi wewenang daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota (pasal 13-14). Ditegaskan pula, dalam menyelenggarakan otonomi, daerah wajib melestarikan lingkungan hidup (pasal 22 huruf k).

Kenyataan yang mengemuka pada masa-masa awal perjalanan otonomi daerah justru berbagai kasus eksploitasi lingkungan dan potensi sumber daya alam di daerah. Demi mengejar target peningkatan PAD, daerah seakan berlomba mengeksploitasi potensi sumber daya alam yang dimiliki.

Belakangan, setelah berbagai bencana mendera hampir semua daerah, kesadaran menjaga keseimbangan alam dan pelestarian lingkungan menguat kembali.

Namun, hasil temuan JPIP tahun lalu menunjukkan, program dan kebijakan pelestarian lingkungan yang dijalankan pemerintah daerah selama ini masih cenderung parsial. Belum tampak adanya integrasi kebijakan pengelolaan lingkungan hidup di banyak kabupaten/kota. Pengarusutamaan lingkungan (environment mainstreaming) dalam kebijakan daerah juga setali tiga uang. Dalam kondisi demikian, bisakah kita menghentikan banjir yang akan datang tahun depan? (email: hidayat@jpip.or.id)

Comments (1) »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.