Partisipasi, Tansparansi, dan Akuntabilitas Anggaran Kebencanaan di Bantul

Hampir dua tahun sudah sejak gempa di Yogyakarta terjadi tanggal 27 Mei 2006. Tahapan-tahapan pemulihan sudah dilakukan oleh warga dan pemerintah, mulai dari respon kedaruratan, rehabilitasi, rekonstruksi hingga policy reform untuk pengurangan risiko bencana. Rekam jejak persoalan-persoalan dalam tahapan-tahapan di atas menunjukkan kapasitas ketahanan kita terhadap bencana. Masalah-masalah pengelolaan anggaran kebencanaan pasca gempa potensial untuk meningkatkan kerentanan terhadap bencana di dalam masyarakat.

Memahami pentingnya hal-hal di atas, maka IDEA dengan didukung oleh Ford Foundation mengadakan “Workshop Partisipasi, Tansparansi, dan Akuntabilitas Anggaran Kebencanaan di Yogyakarta” di Pendopo Tamansiswa, Yogyakarta. Kegiatan ini dihadiri 56 orang yang berasal dari wakil-wakil masyarakat dari Kabupaten Bantul, LSM, dan pemerintah daerah (Provinsi DIY dan Kab. Bantul) serta DPRD Kab. Bantul.

http://bencana.net/prb/partisipasi-tansparansi-dan-akuntabilitas-anggaran-kebencanaan-di-bantul.html

Komentar bertahan »

Perda Prov Sumbar No. 5/2007 tentang Penanggulangan Bencana

Pemerhati dan pelaku penanggulangan bencana yang terhormat,

Pemerintah Provinsi Sumatra Barat adalah provinsi yang pertama yang mengesahkan peraturan daerah mengenai penanggulangan bencana, yaitu Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Sumatera Barat Nomor 5 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.

DOWNLOAD
Perda Prov Sumbar No. 5/2007 ttg Penanggulangan Bencana

http://bencana.net/kebijakan/perda-prov-sumbar-no-52007-ttg-penanggulangan-bencana.html

Komentar bertahan »

Rencana Aksi Pengurangan Risiko Bencana Provinsi Sumatera Utara Tahun 2008 – 2012

Sebagai bentuk komitmen Pemerintahan Provinsi Sumatera Utara terhadap wilayahnya yang rentan terhadap bencana maka disusunlah Buku Rencana Aksi Pengurangan Risiko Bencana Provinsi Sumatera Utara Tahun 2008 – 2012. Penyusunan buku ini juga menindaklanjuti Undang-Undang Nomor 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana, Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana (RAN PRB) dan Resolusi PBB No. 63 Tahun 1999 serta Hyogo Framework for Action dan Beijing Action.

Penyusunan buku ini bertujuan untuk mengubah paradigma dalam menangani bencana alam, dari yang selama ini masih lebih bersifat responsif dalam menangani, menjadi suatu kegiatan yang bersifat preventif, sehingga bencana alam itu selain mungkin dapat dicegah atau diminimalkan (mitigasi), juga risikonya dapat dikurangi atau malah ditiadakan.

Proses penyusunan buku ini telah berjalan sejak bulan November 2006 dengan melibatkan berbagai pihak baik di tingkat provinsi maupun tingkat daerah yang meliputi dinas/instansi terkait serta stakeholders lainnya. Kegiatan ini dimulai dengan pengumpulan berbagai rencana kegiatan dari semua pihak terkait disesuaikan dengan program yang terdapat dalam Hyogo Framework for Action 2005-2015.

Sebagai buku Rencana Aksi Provinsi Sumatera Utara Pengurangan Risiko Bencana yang pertama buku ini masih banyak kekurangan, karena masih bersifat mengumpulkan dan mengelompokkan berbagai rencana kegiatan dari stakeholders yang berkepentingan. Selanjutnya ke depan akan terus disempurnakan agar dapat diimplementasikan sebagai rencana aksi yang baku bila terjadi bencana.

Medan, …. November 2007
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Suamtera Utara
Tahun 2007

DOWNLOAD
Rencana Aksi Pengurangan Risiko Bencana Provinsi Sumatera Utara Tahun 2008 – 2012

http://bencana.net/prb/rencana-aksi-prb-prov-sumatera-utara-2008-2012.html

Komentar bertahan »

Paket Pendidikan “Program Kesiapan Sekolah terhadap Bahaya Gempa “

Pusat Mitigasi Bencana – Institut Teknologi Bandung
(PMB-ITB) telah membuat paket pendidikan “Program
Kesiapan Sekolah terhadap Bahaya Gempa” pada tahun
2000. Paket ini terdiri dari tiga buku dengan target
utamanya adalah guru dan siswa sekolah dasar. Fokus
utama paket pendidikan ini adalah kesiapan menghadapi
bahaya gempa bumi, namun prinsip-prinsip yang dimuat
dalam manual ini dapat juga diterapkan dalam
menghadapi bencana alam lainnya seperti banjir,
tsunami, kebakaran, dan lain-lain.

Paket pendidikan ini bisa mendukung program Kecakapan
Hidup, sebuah program yang bertujuan untuk memberikan
pengetahuan, sikap dan keterampilan kepada siswa agar
mampu mengatasi masalah secara efektif.
Sekolah-sekolah Indonesia diharapkan mampu memberikan
keterampilan bagi siswa untuk mengamankan dirinya pada
saat bencana serta mampu menciptakan lingkungan
belajar yang aman dan nyaman.

Buku 1: Buku Pengayaan Guru

Buku ini disusun untuk digunakan oleh Guru/Kepala
Sekolah dan instruktur Pusat Pelatihan Guru (PPG)
sebagai acuan  untuk dua buku lainnya. Materi dalam
buku ini ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan
tentang gempa bumi dan dampaknya pada bangunan,
fasilitas sekolah dan lingkungan, yang dilengkapi
dengan wacana tentang kesiapan mengantisipasi bahaya
gempa bumi. Buku ini membantu guru memotivasi siswa
dalam praktek kegiatan melatih kesiapsiagaan bencana
dalam suasana yang menarik, menyenangkan dan dinamis.

Buku 2 : Bahan Ajar Guru

Materi dalam buku ini dirancang untuk siswa kelas 4
sampai kelas 6 sekolah dasar dalam suasana yang
menarik dan menyenangkan lewat latihan dan simulasi.
Materi-materi meliputi: pengenalan bahaya gempa;
identifikasi kerentanan dan kapasitas; risiko bencana
gempa; pengaruh gempa pada bangunan; tindakan
pengamanan; pengenalan pengaruh gempa pada orang,
benda, dan prasarana kota; mengatasi perasaan negatif
pasca gempa; pengenalan tindakan penyelamatan;
persiapan menghadapi gempa; penanganan risiko gempa;
dan evaluasi program.

Buku 3 : Lembar Kerja Siswa

Buku panduan yang membantu guru mengajarkan siswa
tentang bahaya gempa. Materi LKS dirancang dalam
suasana yang menarik dan menyenangkan dalam bentuk
latihan, simulasi dan bermain peran.  Materi buku ini
dikembangkan berdasarkan masukan dari beberapa negara
lain yang juga rawan terhadap bahaya gempa seperti
Amerika Serikat, Jepang, Iran, India dan Nepal.

Untuk memperkuat upaya kesiapan kelompok sekolah
dalam menghadapi bencana alam, Kantor UNESCO Jakarta
dan PMB ITB dengan dukungan dari UN/ISDR, telah
mencetak ulang paket pendidikan ini untuk
didistribusikan kepada mereka yang punya minat dalam
meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan menghadapi
bencana gempa kepada kelompok sekolah dasar, khususnya
kepada guru dan siswa sekolah serta lembaga-lembaga
yang bekerja di bidang pengurangan risiko bencana.

Paket pendidikan ini hanya tersedia dalam Bahasa
Indonesia dalam jumlah yang sangat terbatas. Untuk
mendapatkan paket ini, silakan hubungi:

Kantor UNESCO Jakarta
Jl. Galuh II No. 5, Kebayoran Baru
Jakarta Selatan 12110
INDONESIA
Telp. (62-21) 739 9818
Fax. (62-21) 7279 6489

http://www.jtic.org/ind/jtic/index.php?option=com_content&task=view&id=321&Itemid=130

Komentar bertahan »

UU Bencana Baru Diadopsi Satu Pemda

[MI] Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana (Bakornas PB) menyatakan baru Provinsi Sumatra Barat yang mengadopsi Undang-Undang (UU) No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang diwujudkan dalam peraturan daerah (perda).

“Hingga saat ini, setahu saya, baru Pemerintah Provinsi Sumatra (Sumbar) yang telah membuat perda. Ini langkah penting karena Sumbar memang daerah yang rawan bencana,” tandas Direktur Mitigasi Bencana Bakornas PB Sugeng Triutomo, kemarin, di Jakarta.

Sugeng menambahkan alasan pemerintah daerah (pemda) tidak segera membuat Perda karena saat itu UU No. 24 Tahun 2007 belum memiliki peraturan turunannya, seperti peraturan pemerinah (PP) atau peraturan presiden. Namun, jelasnya, pada 28 Februari 2008, PP yang mengatur penyelenggaraan, pengelolaan dana, penyaluran bantuan, dan peran donor serta negara asing telah terbit.

Ia menjelaskan walaupun perda belum dibuat, penanganan bencana di daerah sebetulnya tidak terlalu terhambat. Pasalnya, setiap daerah masih dapat mengaktifkan Satuan Koordinasi Pelaksana (Satkorlak) dan Satuan Pelaksana (Satlak) untuk penanggulangan bencana.

Namun Sugeng menekankan pemda agar membuat perda yang membutuhkan paling tidak sekitar enam bulan. Waktu enam bulan bisa dijadikan masa transisi diberlakukannya UU No. 24 Tahun 2007 yang menggantikan peraturan lama.

Menurut Sugeng, tanpa adanya perda, dikhawatirkan, apabila terjadi bencana, Satkorlak atau Satlak akan kesulitan meminta dana atau pertanggungjawaban dari dinas-dinas. Pasalnya, landasan hukum pendirian Satkorlak dan Satlak telah diganti.

Satkorlak diganti

Dengan berlakunya UU No. 24/2007 dan terbitnya PP, otomatis Bakornas akan diganti menjadi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Dengan begitu, nama Satlak dan Satkorlak juga akan diganti menjadi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

“BPBD akan mengambil dana bencana dari dinas-dinas. Kalau masih pakai nama Satlak atau Satkorlak, itu berarti tidak mengacu pada peraturan yang ada,” tandasnya.

Dengan terbentuknya perda, daerah bisa segera membuat perangkat di dalamnya. Beberapa perbedaan antara Bakornas PB dan BNPB, menurut Sugeng, BNPB bersifat struktural. Dengan demikian, proses penanggulangan bencana akan lebih optimal dan efektif. Selain itu, akan ada alokasi dana khusus pada BNPB.

Sementara itu, Bakornas PB, Satkorlak dan Satlak lebih bersifat fungsional yang ditangani oleh pejabat berbeda-beda dari berbagai instansi. Saat bencana, Bakornas kerap lambat dalam mengumpulkan pasukan.

Sumber: Media Indonesia, Jum’at, 14 Maret 2008

Komentar bertahan »

Perlu Danau Buatan untuk Atasi Banjir

[PR],SOREANG,-Gubernur Jawa Barat H. Danny Setiawan menyarankan dibangunnya danau buatan di lahan yang tidak produktif, untuk penanganan banjir yang sering melanda daerah aliran Sungai Citarum di Kab. Bandung. Gubernur juga mengharapkan terjalinnya kerja sama antara Pemprov Jabar dan Kab. Bandung untuk segera melakukan normalisasi Sungai Citarum.

“Jadi kalau hujan datang, ’parkir’-nya tidak di rumah warga melainkan ke danau buatan yang berada di kawasan rawan banjir,” ungkap Danny dalam dialog dengan korban banjir di kantor Kecamatan Majalaya, Kab. Bandung, Kamis (10/4).

Bersama Bupati Bandung Obar Sobarna, Danny mengajak seluruh warga untuk berpartisipasi menyukseskan projek danau buatan yang dianggap sebagai solusi efektif untuk mengatasi banjir.

Menurut Danny, masyarakat yang tinggal di beberapa daerah rawan banjir seperti Majalaya, Ibun, Solokan Jeruk, Rancaekek, Dayeuhkolot, Banjaran, dan Baleeendah memiliki andil besar untuk mengatasi persoalan Sungai Citarum. Hal itu karena, untuk membuat danau, pemerintah harus mengeluarkan anggaran untuk membeli lahan milik warga.

“Jangan karena tahu mau dibeli pemerintah, warga di sini jadi menjual dengan harga tinggi. Nanti pemerintah jadi nggak sanggup bayar. Akibatnya adalah kegagalan projek danau buatan, sehingga banjir akan terus datang setiap tahun,” ujar Danny.

Anggaran yang akan dikeluarkan untuk menyukseskan program tersebut berasal dari pemerintah pusat, provinsi, dan Kab. Bandung.

Selain membuat danau, Danny pun mengajak pemerintah untuk bekerja sama dengan masyarakat guna memperbaiki drainase. “Salah satu penyebab terjadinya genangan air adalah sistem drainase yang buruk. Oleh karena itu, masyarakat harus bersinergi dengan pemerintah untuk membenahi drainase secara sauyunan,” ujarnya.

Sementara warga yang tinggal di hulu Sungai Citarum diimbau untuk melakukan penghijauan. Hal itu perlu dilakukan agar air tak langsung memenuhi Sungai Citarum dan menyebabkannya meluap.

Dalam kesepatan itu, Danny Setiawan memberikan sumbangan berupa 2 ton beras, 2.000 bungkus mi instan, 500 kaleng kornet, 1.500 kaleng sarden, dan 200 paket untuk bayi dan ibu.

Menanggapi imbauan Gubernur, Bupati Obar Sobarna menyatakan akan segera membicarakan hal tersebut, termasuk dari sisi anggaran, dengan anggota DPRD Kab. Bandung dan dinas terkait.

“Seperti kata Gubernur, masalah Sungai Citarum harus segera diatasi. Namun, semua ada prosesnya karena butuh pengkajian lebih jauh sebelum projek dimulai. Namun, mudah-mudahan tahun ini projek tersebut bisa segera terlaksana,” ungkap Obar.

Genangan

Pascabanjir yang melanda Kec. Majalaya Kab. Bandung, beberapa kawasan masih digenangi air. Sepanjang Jln. Tengah, Desa Majalaya, Kec. Majalaya, air masih menggenang setinggi mata kaki.

Akibatnya, murid SDN Malajaya IV yang berada di kawasan jalan tersebut, harus membuka sepatu untuk mencapai sekolah mereka. “Daripada sepatu saya basah, mendingan nggak usah pakai sekalian. Soalnya di rumah sama di sekolah pada banjir,” tutur Acep (11), salah seorang murid.

Bagitu pun dengan Yunia. Bocah cilik yang kini duduk di kelas IV itu mengaku sangat senang walaupun sudah dua hari tak dapat memakai sepatu kesayangannya. “Seneng banget bisa main air terus,” ujarnya.

“Karena banjir yang tak juga surut di sekolah kami, saya mengizinkan murid-murid memakai sandal ataupun tidak sama sekali,” tutur Kepala SDN Majalaya IV Yati Usdiati.

Menurut dia, sejak terjadi banjir di seluruh wilayah Kec. Majalaya, Senin (7/4) malam, air terus menggenangi sekolah mereka. Puncaknya adalah Selasa (8/4) saat ketinggian air mencapai pinggang orang dewasa. (CA-164)

Komentar bertahan »

5 Desa Diterjang Banjir Bandang

[SINDO] NGANJUK,– Kecamatan Gondang sepertinya tak pernah lepas dari banjir selama musim hujan berlangsung. Kemarin, lima desa di kecamatan ini kembali diterjang banjir bandang.

Dengan kondisi seperti ini,Pemkab Nganjuk harus memikirkan cara agar wilayah Gondang bebas banjir. Seperti banjir sebelumnya, banjir bandang yang datang Senin dini hari itu menggenangi ratusan rumah warga di lima desa. Luapan air Sungai Widas kembali tak terkontrol dan meluas ke permukiman penduduk hingga ketinggian 60 sentimeter.

Kontan saja, warga yang sedang nyenyak tidur kembali disibukkan untuk menyelamatkan barang-barang mereka yang disimpan di dalam rumah. Tak hanya itu, akibat arus banjir yang lebih besar dari sebelumnya, beberapa pohon yang terseret arus juga menambah kepanikan warga. Puluhan petugas keamanan dini hari kemarin ikut terjun ke lokasi banjir dan membantu warga untuk menyisihkan pepohonan yang sempat menutupi ruas-ruas jalan desa itu. Banjir kali ini terparah terjadi di Dusun Depok, Desa Sumberejo,Kec Gondang.

Di daerah ini, dini hari kemarin, air menggenangi rumah warga hingga ketinggian satu meter. Akibatnya, sebagian warga memilih mengungsi ke tempat yang lebih aman. Sementara itu, para kaum pria lebih memilih menjaga barang- barang mereka di depan rumah yang tak lagi bisa dihuni itu. ‘’Kalau di dusun kami, banjir kali ini paling besar. Tapi untungnya, air yang menggenangi rumah warga cepat surut,’’ kata Sukarman, warga setempat.

Hingga pagi kemarin, air masih menggenangi rumah warga hingga setinggi 20 sentimeter. Namun,warga kembali disibukkan dengan lumpur yang masuk hingga rumah mereka itu. Tak hanya rumah dan sawah petani saja yang menjadi sasaran banjir, salah satu gedung sekolah dasar (SD) di Desa Sumberejo terpaksa libur.

‘’Sudah berapa kali kami libur sekolah.Padahal,sebentar lagi kami ujian,’’ keluhnya tanpa tahu pasti penyebab banjir beruntun itu. Derasnya arus Sungai Widas juga sempat membuat bagian tengah jembatan nyaris terputus.Warga yang khawatir, terpaksa memblokade jalan dan melarang setiap kendaraan yang akan melintas.Warga Gondang yang hendak menuju Kota Nganjuk terpaksa memutar untuk mencari jalur alternatif.

‘’Hanya bagian tengah yang kerangkanya patah, rapi masih aman meski dilewati kendaraan,’’ kata Kadiskimprasda Ir Bangun MM saat meninjau lokasi jembatan. (tritus julan)

Komentar bertahan »

Kelurahan Antapani Terendam Banjir

[PR] BANDUNG-.-Hujan yang tak kunjung reda mengakibatkan banjir di Kota Bandung. Rumah-rumah di Kampung Cibodas, Kel. Antapani Tengah, Kec. Antapani terendam hingga 25 cm, Senin (7/4) malam.

Hujan mulai turun menjelang magrib. “Baru masuk ke rumah, sekitar jam setengah tujuh,” kata Atang, warga RT 2 RW 22 Kampung Cibodas, Kel. Antapani Tengah, Kec. Antapani.

Banjir ini bukan kali pertama dialami oleh warga. Setiap hujan besar, rumah mereka menjadi langganan digenangi air hujan. “Air hujan dari Jln. Antapani yang tidak tertampung di selokan-selokan mengalir di jalan-jalan menuju Jln. Cibodas. Tapi, karena jalannya naik akhirnya air kembali lagi,” tutur Atang.

Rumah Atang sebenarnya sudah pernah ditinggikan, namun air tetap masuk ke rumahnya. “Dulu me nurut saya rumah saya sudah yang paling tinggi. Tapi sekarang tetap saja kena banjir,” tuturnya.

Sementara itu, sepanjang Jln. Parakan Saat Kota Bandung juga digenangi air hujan hingga separuh ban mobil. Air di parit-parit dari arah Jln. Antapani selebar 1,5 meter meluap hingga ke jalan. Kendaraan bermotor harus berhati-hati sebab batas antara jalan dan parit tertutup air.

Banjaran banjir

Banjir pun melanda Desa Kamasan, Kec. Banjaran, Kab. Bandung. Menurut Camat Banjaran Imam Irianto, ketinggian air di RW o3 Desa Kamasan mencapai 1,2 meter pada pukul 22.15 WIB. Sebanyak 10 kepala keluarga (KK) diungsikan ke kantor Pekerjaan Umum Banjaran. “Sedangkan di RW 05, 06, 07, dan 08 ketinggian air mencapai 80 cm,” ungkap Imam.

Sementara itu, puluhan rumah di RW 03 Desa Majasetra, Kec. Majalaya, Kab. Bandung kembali terendam banjir, Senin (7/4) sejak pukul 17.00 WIB. Hal itu dipicu oleh hujan deras yang datang sejak pukul 16.00 WIB. Tak hanya rumah, beberapa sarana umum di kawasan tersebut seperti kantor Penyuluhan dan Pengamatan Potensi Perpajakan Desa Majalaya, dua sekolah dasar, dan satu gedung taman kanak-kanak terendam banjir. “Sekarang mah banjirnya lebih dari lutut orang dewasa. Saya sampai kesulitan untuk mengeluarkan air dari dalam rumah,” ujar Aming. Tak hanya rumah, beberapa sarana umum di kawasan tersebut, seperti kantor Penyuluhan dan Pengamatan Potensi Perpajakan Desa Majalaya, dua sekolah dasar, dan satu taman kanak-kanak ikut terendam banjir.

Banjir pun menyergap beberapa rumah di Desa Majalaya, Kec. Majalaya, Kab. Bandung. Salah seorang warga RT 02 RW 10 Desa Majalaya, Riki (26), menyatakan genangan air di daerahnya mencapai betis orang dewasa. “Kalau kemarin tidak sampai masuk ke rumah. Sekarang mah genangan airnya lebih tinggi,” kata Riki. (CA-164/CA-170)

Komentar bertahan »

Puluhan Rumah Tergenang Banjir

[PR]BANDUNG,- Puluhan rumah warga RW 03 Kampung Sinarsari, Desa Majasetra, Kec. Majalaya, Kabupaten Bandung terendam banjir setinggi lutut orang dewasa, Minggu (6/4) malam. Air mulai menggenangi rumah penduduk sejak pukul 18.30 WIB, dan diperparah dengan turunnya hujan pukul 19.00 WIB. “Air mulai menggenangi jalan sebelum hujan turun. Biasanya memang banjir di sini dimulai sebelum hujan turun karena kiriman dari Sungai Citarum,” ujar Ujang (60), seorang petugas keamanan di Desa Majasetra.

Banjir disertai lumpur yang menyergap jalan Majalaya-Rancaekek menyebabkan kendaraan kesulitan melewati jalan tersebut. Beberapa pengendara motor harus mendorong kendaraannya saat melewati banjir. Berdasarkan pantauan “PR”, beberapa warga turun ke jalan untuk membantu pengendara kendaraan bermotor yang kesulitan melewati jalan yang tergenang banjir.

Beberapa fasilitas umum seperti kantor Penyuluhan dan Pengamatan Potensi Perpajakan Desa Majalaya, dua sekolah dasar, dan 1 taman kanak-kanak ikut terendam banjir.

“Ini tidak sebesar banjir yang terjadi Sabtu malam kemarin. Air sampai setinggi 1,5 m dan masuk ke rumah penduduk. Bahkan pagar rumah saya roboh diterjang banjir,” kata Ketua RT 04/RW 03 Kampung Sinarsari, Desa Majasetra, Kecamatan Majalaya, Amin G.S. Amin menambahkan bahwa di wilayah Majalaya, memang langganan banjir setiap bulan Februari-April setiap tahunnya.

Selain itu, air setinggi betis orang dewasa juga menggenangi jalan di Desa Majalaya, Kec. Majalaya, Kab. Bandung. “Air mulai menggenangi jalan sejak pk 17.30 WIB. Namun tidak sampai masuk ke dalam rumah,” kata Riki, warga Desa Majalaya.

Menurut Kepala Desa Margamulya, Kec. Pangalengan, Kab. Bandung, Bunyangun Marsus, hujan yang terjadi di wilayahnya menjadi penyebab banjir. “Jika di sini hujan, air limpahannya akan dibawa sungai Citarum ke hilir dan menjadi banjir di Majalaya. Tadi di sini hujan mulai pukul 16.00 WIB,” katanya.

Pohon Tumbang

Sementara itu, sebuah pohon waru tumbang melintang jalan di depan rumah di Jln. Pelajar Pejuang `45 No. 44 Kota Bandung, sekitar pukul 20.20 WIB. Tak ada korban jiwa dalam peristiwa yang sempat menimbulkan kemacetan sekitar 20 menit.

Menurut Kanit Patroli Polsekta Lengkong, Ipda Aburahman, arus kendaraan lancar kembali setelah dialihkan ke Jln. Talagabodas. Berdasarkan keterangan Engkos Kosasih (45), satpam Hotel Graha Sartika, saat kejadian, hujan gerimis dan tak ada angin. “Kebetulan arus lalu lintas sedang lowong saat pohon yang sudah doyong itu rubuh ke jalan,” ujarnya.

Tak lama kemudian, satu unit kendaraan dari Dinas Penanggulangan Kebakaran Kota Bandung datang membantu menyingkirkan pohon berdiameter sekitar 70 cm itu. (CA-164/CA-165/CA-/171/CA-187/CA-168)

Komentar bertahan »

Banjir Lagi, Banjir Lagi

[Indo Pos] JOGJA – Hujan lebat yang mengguyur Jogja dan sekitarnya siang kemarin kembali mengakibatkan banjir di beberapa di lokasi. Titik yang paling parah adalah di kawasan Kali Mambu (Jalan Batikan) dan Jalan Menteri Supeno. Debit air Kali Mambu bahkan jauh lebih tinggi ketimbang badan jalan. Akibatnya, ruas jalan itu berubah menjadi aliran sungai.

Kondisi ini mengakibatkan arus lalu-lintas di simpul Kali Mambu dan Jalan Menteri Supeno kacau. Untuk mengantasi hal ini, Satlantas Poltabes Jogja menutup Jalan Batikan dari arah utara dan ruas Jalan Menteri Supeno ke arah timur.

“Di sini hujan sebentar saja selalu banjir. Kali Mambu juga selalu meluap, sehingga sangat berbahaya. Ketinggian air di ruas jalan lebih dari 60 cm,” ujar seorang polisi yang berjaga di Pos Jalan Menteri Supeno.

Menurut warga, meluapnya Kali Mambu tidak lepas dari banyaknya bangunan yang ada di sisi timur sungai ini. Untuk mendirikan bangunan di sisi timur sungai dipastikan harus membuat jembatan. Jembatan inilah yang mengakibatkan banjir.

“Jembatan yang dibuat kurang tinggi, sehingga menutup saluran air. Akibatnya air menjadi meluap dan ketinggiannya justru di atas badan jalan,” kata Wagino, warga setempat. Warga berharap Pemkot Jogja segera mengambil tindakan memperbaiki DAS Kali Mambu. Kalau tidak, kawasan tersebut akan selalu menjadi langganan banjir.

Titik banjir lainnya juga terjadi di Jalan Wonosari, tepatnya sekitar 200 meter sebelah timur Museum Wayang Kekayon. Ketinggian air di ruas itu mencapai 50 cm di sepanjang 100 meter. Akibatnya, antrean panjang terjadi di jalan yang dikenal cukup padat ini.

Banjir ini juga mengakibatkan mobil milik anggota Polres Gunungkdiul terperosok ke dalam Saluran Air Hujan. Wagiran, anggota polisi itu awalnya berniat menghindari banjir di tengah jalan. Dia memilih mengambil sisi kiri. Namun apes, pilihan itu justru membuat Honda Civic-nya terperosok.

Dari pantauan Radar Jogja, hujan kemarin juga mengakibatkan banjir di sekitar Perumahan Bangunharjo Jalan Parangtritis, Jalan Kaliurang terutama di perempatan MM UGM, Ring-Road Utara, dan beberapa titik lain. (ufi)

Komentar bertahan »