25.000 rumah terendam
| Daerah | Jawa Timur |
| Evakuasi Lambat, Lima Tewas | |||
| Sabtu, 29/12/2007 | |||

EVAKUASI, Sejumlah anggota Marinir TNI AL turun tangan menyelamatkan orang tua dan anak-anak yang masih berada di dalam rumah. Mereka terjebak banjir yang tingginya mencapai 3 meter lebih. Akibat luapan Bengawan Solo ini sedikitnya 25.000 rumah di 11 kecamatan di Kabupaten Ngawi terendam.
NGAWI(SINDO) – Ribuan warga yang berada di 20 desa di wilayah Kec Kwadungan dan Geneng,Kab Ngawi, hingga kemarin belum bisa dievakuasi dari lokasi banjir.
Selama dua hari dua malam, warga yang terjebak banjir yang rata-rata mencapai ketinggian 3-4 meter hanya bertahan dengan cara naik ke atas genteng dan atap-atap rumah, sambil menungu datangnya pertolongan. Yang semakin memprihatinkan, persediaan bahanan makanan semakin menipis, sehingga mereka terancam kelaparan. .
Bahkan, akibat keterlambatan evakuasi, lima warga dilaporkan tewas.Mereka adalah Sadinem ,50, warga Desa Kasreman; Menik, 47,warga Desa Dempel; Sariman, 60, warga Desa Kersikan; Kec Geneng. Dua korban lainnya belum diketahui identitasnya. Kelima warga yang menjadi korban ini tewas ketika berada di lokasi banjir dan baru beberapa jam bisa dievakuasi regu penolong.
Proses evakuasi terhadap warga korban banjir di Desa Kendung,Wage, Dinden, Tirak, Genyol, Pojok, Siren di wilayah Kec Kwadungan dan warga di Desa Klampisan, Kasreman, Sidaryo, Kresikan, Dempel, Karsoharjo, Klitik serta desa lainnya di Kec Geneng terlambat karena terbatasnya jumlah perahu karet dan speedboat.
Padahal, untuk menjangkau lokasi banjir yang berjarak sekitar 8-10 Kilometer (KM) dari posko pengungsian terdekat hanya bisa dilakukan dengan menggunakan perahu karet dan speedboat. Untuk mengevakuasi warga, petugas hanya memiliki 19 speedboat, yakni tujuh dari bantuan PT Sampoerna Tbk, 3 unit speedboat dari PKS, 7 perahu karet dari TNI AU, 3 unit perahu karet dari Angkatan Darat, dan selebihnya dari relawan. Sejak Rabu (26/12) malam hingga Jumat (28/12) pagi kemarin,proses evakuasi dengan menggunakan perahu karet terhadap warga yang masih terkepung banjir terus dilakukan.
Dari pantauan SINDO di lokasi banjir Desa Kendung,Wage, dan Dinden, warga sangat membutuhkan bantuan bahan makanan yang bisa langsung dimakan. Bantuan bahan makanan seperti mie instan,roti,minuman kemasan sangat diperlukan.Oleh karena itu, ketika tim evakuasi datang membawa perbekalan makanan, warga langsung mendekat dan berebut makanan.
Sebagian dari mereka juga terlihat berteriak histeris meminta bantuan makanan. Menurut Kepala Desa Kendung, Slamet Raharjo, setelah direndam banjir selama dua hari dua malam, warga mulai kelaparan. Mereka hanya berharap segera dievakuasi dari lokasi banjir atau mendapatkan bantuan bahan makanan untuk bisa bertahan.
“Kalau banjir tidak segera surut, saya khawatir warga saya disini kelaparan semua,” ujarnya saat ikut evakuasi,kemarin. Bupati Ngawi, Harsono, elah menginstruksikan kepada seluruh camat di wilayah Kab Ngawi untuk mengutamakan evakuasi terhadap warga yang menjadi korban banjir.
Selain itu, pihaknya juga meminta kepada berbagai elemen untuk membantu memberikan pertolongan kepada warga korban banjir. Banjir yang melanda kawasan Kwadungan dan Geneng hingga kemarin belum terlihat surut. Bahkan dikhawatirkan banjir semakin meninggi karena ada banjir kiriman dari Madiun dan Wonogiri. Sedangkan, wilayah kecamatan lainnya yang terendam banjir seperti Paron, Widodaren, Karanganyar, Mantingan, Pitu, Pangkur, Padas, Kedunggalar, dan Ngawi Kota ketinggian banjir mulai terlihat surut.
Meski begitu, jalur-jalur utama yang menghubungkan ke Kota Ngawi seperti jalur Madiun- Ngawi, Sragen-Ngawi, Caruban- Ngawi, dan Bojonegoro Ngawi masih terputus.Terputusnya akses masuk ke Kota Ngawi ini membuat transportasi di Kota Ngawi lumpuh. Kemarin terlihat ratusan truk muatan berat terlihat tertahan sepanjang 4-5 Kilometer di sepanjang jalur Madiun-Ngawi.
Kendaraan dari arah Madiun belum bisa masuk ke Ngawi karena di sepanjang jalur utama di wilayah Kec Geneng masih terendam air setinggi lutut. Sementara itu, jumlah pengungsi korban banjir terus bertambah. Di Kec Geneng, hingga kemarin siang tercatat ada 2.000 pengungsi yang ditempatkan di posko pengungsian Kantor Kec Geneng, di Balai Penyuluhan Pertanian, Puskesmas Geneng, Gudang Pangan Bulog, dan di SDN Tambakromo I dan II.
Sedangkan, jumlah pengungsi di Kec Kwadungan tercatat ada 1.500 pengungsi yang ditempatkan di sejumlah posko. Hingga kemarin, bantuan bahan makanan dan obat-obatan dari berbagai instansi dan donator terus berdatangan ke posko pengungsian. Namun, karena jumlah pengungsi semakin besar bahan makanan dan obat-obatan masih dirasa kurang.
Menurut Camat Geneng, Joko Santoso, diperkirakan jumlah pengungsi akan terus bertambah. Sebab, kata dia,masih banyak korban banjir di lokasi yang belum bisa dievakuasi.
“Masih banyak warga saya di lokasi banjir yang sulit terjangkau seperti di Kresikan, Dempel, dan Klitik yang sampai saat ini belum bisa dievakuasi. Sehingga saya perkirakan sampai nanti malam jumlah pengungsi akan terus bertambah,” ujarnya. Kondisi pengungsi sendiri sudah mulai kritis.Tidak sedikit para pengungsi yang mengalami depresi. Mereka yang kondisinya kritis, di antaranya, dirawat di Puskesmas Geneng.
Menurut Kepala Puskesmas Geneng, Pudji Rusdiarto, para pengungsi banyak yang mengalami depresi dan stres saat dievakuasi. Sebab, kata dia, mereka mengalami kedinginan (hypotermi), kelaparan, ditambah perasaan cemas dan khawatir dengan keselamatan jiwanya dan keluarganya.
“Banyak pengungsi yang kita tangani kondisinya stress dan depresi,” ujarnya. Di Kota Solo, hingga kemarin jumlah pengungsi mencapai 34.307, bertambah 2.707 jiwa dari sebelumnya 31.600 jiwa. Sementara pengungsi di seluruh wilayah Ngawi mencapai 30.000 orang sedangkan di Bojonegoro sekitar 4000 orang.
Dibanding banjir hari Rabu (26/12) dan Kamis (27/12), banjir yang melanda Kota Solo kemarin semakin parah. Setelah sempat surut pada Kamis malam, Jumat dini hari kemarin air kembali datang dan terus bertambah hingga sore hari. Penyebabnya adalah hujan deras yang mengguyur Solo dan sekitarnya seharian kemarin. Banjir akibat luapan Bengawan Solo, kemarin memutuskan jalan utama yang menghubungkan Solo dan Sukoharjo.
Bahkan, perbatasan dua daerah tersebut digenangi air hingga ketinggian 1,5 meter. Untuk daerah perbatasan dengan Solo, banjir terparah melanda Kec Grogol, Kab Sukoharjo, khususnya di daerah Madegondo dan sekitarnya. Di Kota Solo, jumlah kelurahan yang tergenang air masih mencakup 12 dari tiga kecamatan.Hanya saja,wilayah yang terkena meluas.
Saat ini, korban banjir diungsikan ke sejumlah lokasi yang aman,termasuk di antaranya di Balai Kota, dan Stadion Manahan. “Penambahan pengungsi terjadi di sejumlah kelurahan. Seperti Pucangsawit, Sudiroprajan, Pasar Kliwon, Sangkrah, Semanggi, Kedunglumbu, dan lainnya,” jelas Kepala Badan Informasi dan Komunikasi Pemkot Solo Purnomo Subagyo,kemarin.
Purnomo menjelaskan,meluasnya banjir membuat warga kembali dievakuasi. Sebelumnya sudah banyak warga yang kembali ke rumah masing-masing karena banjir surut. Selain makin luas, ketinggian air juga bertambah. Lokasi genangan paling dalam bisa mencapai tiga meter lebih.
Sebagai contoh, kawasan perbatasan Tanjunganom yang sebelumnya masih dapat dilewati mobil, kemarin tertutup total oleh air dengan ketinggian sekitar satu meter lebih. “Bantuan dari masyarakat dan para pengusaha sangat banyak, baik yang melalui pemkot ataupun yang diberikan langsung kepada para pengungi. Dan bantuan itu terus datang dan langsung kami salurkan. Jadi masyarakat tidak perlu panik,” tegasnya.
Operator Diminta Waspada
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengimbau regulator dan operator transportasi darat, laut, dan udara untuk meningkatkan kewaspadaan dan keselamatan penumpang terkait curah hujan yang cukup tinggi pada Desember 2007- Febuari 2008. Presiden juga mengimbau kepada masyarakat untuk memperhatikan faktor cuaca apabila hendak berpergian.
“Menurut ramalan cuaca apa yang saya dengar dari BMG bahwa curah hujan pada akhir Desember ini, Januari, bahkan masuk Februari masih tinggi. Oleh karena itu ancaman banjir, tanah longsor juga tinggi,” papar Presiden di Istana Negara, Jakarta, kemarin.
Di samping itu, SBY juga menginstruksikan Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Pengungsi (Bakornas PBP) serta jajaran pemerintah daerah (pemda) untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiagaan dalam menghadapi kemungkinan terburuk dari curah hujan yang cukup tinggi ini. Upaya tanggap darurat, tegas SBY, harus dikoordinasikan dengan baik.
“Mari kita meningkatkan kesiagaan. Bakornas termasuk jajaran pemerintah daerah di seluruh Tanah Air saya minta betul-betul pro aktif untuk menghadapi bahaya banjir dan tanah longsor,” ajak SBY. Dengan adanya bencana banjir dan tanah longsor ini, Presiden menekankan, agar jajaran pemda bisa memberikan perhatian yang lebih pada daerah-daerah yang rawan longsor.
Para gubernur,wali kota, dan bupati diimbau untuk merawat hutan-hutan yang ada di daerah mereka masing-masing guna mencegah terjadinya bencana banjir dan tanah longsor. “Saya juga menggaris bawahi musibah ada di depan mata kita, tanah-tanah longsor, banjir lokal, bukit-bukit yang tergerus, meniscayakan kita untuk kembali merawat hutan-hutan kita, kembali merawat daerah yang rawan longsor,” tandas Presiden.
“Ancaman perubahan iklim akibat pemanasan global begitu real. Oleh karena itu tidak salah kalau kita Indonesia dan bangsa lain bekerja sama dengan adil dan baik untuk bersama-sama mengurangi pemanasan global agar perubahan iklim dapat kita cegah ke arah yang buruk,” papar Presiden. (sumarno/khusnul huda/muhammad roqib/ nanang fahrudin/ashadi ik/ maya sofia/ant)