Menata Infrastruktur Permukiman Bantaran Sungai

Oleh : Ivo Dwi Putri, ST, MT

Manusia selalu berusaha untuk mencintai alam dan hidup selaras dengannya sehingga menganggap pegunungan, sungai, pepohonan, dan tanaman semuanya memiliki kehidupan dan patut dihargai. Pada saat bersamaan, juga bisa menjadi sesuatu yang menakutkan bagi manusia. Alam itu hebat dan kuat. Alam memiliki kekuatan yang dalam waktu singkat mampu mencabut dan melenyapkan hidup manusia. Dalam inti utama pandang manusia mengenai alam, manusia selalu bertahan pada gagasan bahwa alam bukanlah sesuatu yang bisa dikuasai oleh umat manusia. Tetapi justru umat manusia itu sendiri merupakan bagian dari alam.

Permukiman di tepi sungai atau yang sekarang sering disebut Stren Kali atau bantaran sungai bukanlah hal yang baru. Bahkan dari bukti sejarah yang ada, cikal bakal Kota Pontianak merupakan sebuah kerajaan di tepi sungai. Tidak salah jika pemukiman di tepi sungai merupakan salah satu ciri khas Kota Pontianak. Sungai sejak zaman negeri ini masih berupa kerajaan-kerajaan merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan. Sungai tidak hanya merupakan sarana transportasi yang menghubungkan Pontianak dengan daerah-daerah di Kalimantan Barat, tetapi juga merupakan sumber daya alam yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Artinya, secara kultur masyarakat Kota Pontianak sangat dekat dengan sungai dan sulit dipisahkan dengan sungai. Akibatnya ketika lahan di Kota Pontianak menjadi sesuatu yang mahal, orang-orang pun melirik daerah bantaran sungai yang membentang di sepanjang Kota Pontianak untuk dijadikan tempat tinggal dan letaknya pun berada di koridor tepian sungai dengan karakteristik bangunannya adalah tipe terapung, panggung, dan bukan panggung.

Dengan semakin bertambahnya masyarakat yang bermukim di tepian Sungai Kapuas, lambat laun dapat mengakibatkan sungai alamiah yang seharusnya mempunyai stabilitas morphologi dan komponen retensi hidraulis (retensi tebing, dasar, dan alur sungai serta erosi, sedimentasi, dan banjir) yang paling tinggi itu tidak dapat diminimalisir atau dikendalikan oleh sungai itu sendiri.

Permasalahan di permukiman tepian sungai selain aturan yang menghendaki adanya penetapan lebar garis sempadannya, permasalahan infrastruktur pemukimannya pun lebih kompleks. Antara lain ketersediaan lahan lebih terbatas, tingkat kepadatan penduduk yang tinggi, tingkat hunian yang tinggi, menurunnya kualitas struktur hunian, proses erosi yang semakin melebar, serta kondisi atau pelayanan infrastruktur dasar yang buruk, seperti halnya jaringan jalan, jaringan air bersih, jaringan saluran pembuangan air limbah dan tempat pembuangan sampah untuk kesehatan lingkungan, jaringan saluran air hujan untuk pematusan (drainase) serta pencegahan pasang/banjir setempat dan pendangkalan sungai (erosi).

Menghadapi bahaya lingkungan global, kita memiliki tugas dan tanggung jawab untuk menyesuaikan cara hidup kita dengan siklus alam, untuk memperkecil beban yang ditanggung oleh lingkungan, dan berjuang ke arah “pembangunan berkesinambungan dan kokoh.” Kita harus berusaha untuk menciptakan sebuah peradaban yang menghargai kekayaan alam dan spiritual diatas segalanya, dan kita harus menyusun seluruh kebijakan dan kekuatan atas dasar kesediaan kita untuk melibatkan diri kita sendiri ke dalam tujuan tersebut dan bertindak mendukung keberhasilannya.

Salah satu tantangan utama dalam perencanaan sistem infrastruktur adalah mempertimbangkan bagaimana semua memberikan pengaruh pada lainnya, keterkaitan satu sama lain dan dampak-dampaknya. Perencanaan infrastruktur merupakan proses dengan kompleksitas besar, interdisiplin serta multisektoral. Harus diingat bahwa bila perancangan terlalu global maka ini tidak efektif. Di sisi lain bila terlalu spesifik dan hanya tertuju pada misi single-purpose, hal ini juga tidak bisa sukses karena perancangannya akan menjadi korban dari kekuatan politik oposisi.

Secara historis, peranan sungai dalam kehidupan masyarakat Pontianak khususnya dan Kalimantan Barat umumnya merupakan kesatuan integral dan berlangsung sejak tahun 1771. Kehidupan masyarakat yang dicirikan perairan itu akan mewujudkan ciri khas ataupun peradaban yang sesuai dengan hasil interaksi antara masyarakat dan lingkungannya. Oleh karena itu, lingkungan yang bersifat perairan tersebut sedapat mungkin dipertahankan agar dapat mewujudkan ciri khas yang selaras dengan alam lingkungannya. Begitu pula apabila kita mengubah atau terlebih merusak lingkungan, maka akan merubah ciri khas masyarakat bersangkutan.

Pertumbuhan dan kepadatan penduduk yang tidak terkendali telah menimbulkan tekanan terhadap ruang dan lingkungan untuk kebutuhan perumahan, kawasan jasa/industri dan parasarana perkotaan yang keseluruhan membentuk kawasan terbangun. Perkembangan perumahan dan permukiman yang sangat pesat sering kurang terkendali dan tidak sesuai dengan rencana tata ruang dan konsep pembangunan yang berkelanjutan, mengakibatkan banyak kawasan-kawasan rendah yang semula berfungsi sebagai tempat parkir air (retarding pond) dan bantaran sungai telah berubah menjadi daerah permukiman yang dihuni penduduk.

Kondisi ini akhirnya meningkatkan volume air permukaan yang masuk ke saluran drainase dan sungai. Hal-hal tersebut diatas membawa dampak di satu pihak mengurangi kemampuan daya serap lahan atas air hujan yang turun. Di lain pihak berdampak rendahnya kemampuan drainase mengeringkan kawasan terbangun dan rendahnya kapasitas seluruh prasarana pengendali banjir (sungai, polder-polder, pompa-pompa, pintu-pintu pengatur) untuk mengalirkan air ke sungai dan laut.

Prasarana dan sarana perumahan dan permukiman berfungsi untuk melayani pusat-pusat permukiman dan jasa untuk kebutuhan dasar seperti air dan untuk menjaga kelestarian lingkungan serta untuk mendukung arus barang dan orang antar kawasan/pusat-pusat dalam kota maupun dengan wilayah kota sekitarnya. Pembangunan prasarana dan sarana perumahan dan pemukiman kota perlu dilakukan secara sinergis satu dengan yang lain sehingga dapat secara optimal mendukung kegiatan sosial ekonomi dan kelestarian lingkungan. Jaringan jalan dan jaringan drainase harus sinergis secara fisik agar aliran air dari permukiman dapat cepat mengalir ke sungai. Disamping itu, pengelolaan sampah dan air limbah harus baik, agar tidak menyumbat saluran dan merusak kualitas air permukaan dan air tanah. Dengan demikian sistem jaringan masing-masing prasarana dan program penanganannya harus mengacu kepada rencana tata ruang kota dan daya dukung lingkungan yang ada.

Pendekatan interdisipliner Eko-Hidraulik dipandang sebagai suatu pola pendekatan baru yang bisa diterima baik dari orang-orang ekologi maupun Teknik Sipil Hidro serta memiliki keberlanjutan yang tinggi. Karena pendekatan yang digunakan sudah memasukkan pertimbangan faktor fisik (hidraulik) maupun non fisik (abiotik) yang masing-masing memegang peranan penting pada wilayah keairan.

Konsep eko-hidraulik adalah konsep intergal dalam pembangunan wilayah sungai yang memasukkan unsur dan pertimbangan hidrolika dan ekologi secara sinergis. Konsep ini justru dapat sinergis mutualisme, menghasilkan rekayasa yang menguntungkan baik hidraulik mapun ekologi-lingkungan. Dalam konsep eko-hidraulik sungai tidak lagi hanya diartikan sebagai alur diatas muka bumi yang dialiri air dan sedimen. Namun sungai diartikan sebagai suatu kesatuan ekosistem keairan yang sifatnya terbuka hulu-hilir yang memiliki komponen biotik dan abiotik yang saling kait-mengkait satu sama lain. Komponen abiotik adalah berupa karakteristik morphologi sungai, aliran air dan sedimen beserta fluktuasi kualitas dan kuantitasnya. Komponen biotik adalah komponen flora dan fauna termasuk juga masyarakat yang hidup di sepanjang sungai baik di badan sungai maupun di bantaran sungai dari hulu sampai hilir.

Berdasarkan konsep ini, maka setiap kegiatan di wilayah sungai dan keairan pada umumnya harus memperhatikan seluruh komponen ekosistem sungai yang ada dan sejauh mungkin justru meningkatkan kualitas ekosistem ini. **

* Penulis adalah Alumni S2 Program Magister Teknik Sipil Untan

2 Tanggapan so far »

  1. 1

    cipu said,

    guuuuuuuuuuudddddddddddddd

  2. 2

    tere said,

    setruju….hm, sudah jadi pengamat lingkungan sekarang Kak?… (Tere_ FT’01)


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: