Banjir Mulai Landa Lampung

[KOMPAS] Bandar Lampung – Banjir dan tanah longsor melanda Bandar Lampung. Tinggi genangan air bervariasi, mulai setinggi lutut sampai pinggang orang dewasa. Penyebab bencana adalah gundulnya bukit akibat penebangan pohon. Ketika hujan deras, tanah di perbukitan tidak mampu menyerap air hujan.
Longsor di Kelurahan Pidada, Kecamatan Panjang, mengambil korban Nurmiyati (42) yang tengah hamil delapan bulan. Menurut adik korban, Rusti (36), ibu empat anak itu meninggal saat membersihkan longsoran tanah yang menutupi parit agar tidak menimpa rumahnya. Namun, ia justru tertimpa longsor susulan. Tanah longsor baru sekali terjadi dalam 12 tahun terakhir.

Sementara itu, banjir di Kecamatan Tanjungkarang Timur terjadi akibat Sungai Campang meluap, Senin (10/3) malam. Mulai dari Gang Melati sampai kompleks perumahan Nusantara Permai tergenang air setinggi lutut hingga sepinggang orang dewasa. Di Way Dadi, Kecamatan Sukabumi, permukiman warga tergenang air setinggi lutut.

Adapun di Desa Rawa Kerawang, Kelurahan Garuntang, Kecamatan Telukbetung Selatan, hujan deras menyebabkan 140 rumah warga terendam air setinggi pinggang orang dewasa. Hingga Selasa pukul 09.00, air belum surut dan warga masih mengungsi.

Di Bandar Lampung, hujan deras disertai angin kencang merobohkan sejumlah pohon besar di tengah kota sehingga memutus jaringan listrik di enam titik. Akibatnya, listrik padam sejak Senin malam hingga Selasa sore.

Di Jawa Barat, luapan Sungai Citarum menggenangi permukiman penduduk di Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Selasa, setinggi 30-70 sentimeter. Warga yang rumahnya terendam meminta Pemerintah Kabupaten Bandung merelokasi mereka ke daerah lebih aman.

Kabupaten Bandung bagian timur tidak luput dari limpasan air Sungai Cimande yang meluap akibat hujan deras sepanjang Senin malam sampai Selasa pagi. Wilayah yang tergenang antara lain Desa Linggar dan Desa Sukamulya, Kecamatan Rancaekek. Tinggi genangan 40 cm-50 cm. Banjir juga merendam sawah seluas 80 hektar.

Akibat hujan, Senin, puluhan rumah di Desa Sayang, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, sempat terendam.

Luapan Bengawan Solo menggenangi sejumlah wilayah di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Senin sekitar pukul 23.00. Banjir merendam 3.653 rumah di 21 desa di Kecamatan Cepu, Kradenan, dan Kedungtuban setinggi 30 cm-150 cm. Genangan masih terjadi hingga Selasa.

Padi siap panen terendam

Sementara itu, luapan Kali Lamong di Kecamatan Balongpanggang, Benjeng, dan Gresik, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, merendam ratusan hektar padi siap panen. Akibatnya, produksi pertanian diperkirakan turun hingga 30 persen. Wilayah itu adalah sentra produksi beras di Gresik.

Camat Benjeng Suryo Wibowo, Selasa, mengatakan, 654 hektar tanaman padi di 14 desa terendam air. Banjir juga menyebabkan 19 kilometer jalan poros desa dan 3 kilometer jalan Kabupaten Benjeng-Balongpanggang tergenang. Kerugian ditaksir Rp 1,5 miliar. Selasa pukul 15.00, banjir bergeser ke Kecamatan Cerme menggenangi rumah dan sawah warga.

Banjir akibat luapan Sungai Bengawan Madiun dan Bengawan Solo di Kabupaten Ngawi mulai surut, Selasa. Jalan desa yang juga adalah jalur alternatif dari Ngawi ke Madiun di Kecamatan Kwadungan sudah tidak terendam air. Banjir di Kecamatan Ngawi Kota juga mulai surut. (HLN/ELD/CHE/HEN/ACI/APA)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: