Merumuskan Langkah Strategis Pasca Banjir

Oleh: Heri Junaidi Ssos

Banjir bandang kembali menenggelamkan Situbondo dan lebih parah dibandingkan tahun 2002. Sebaiknya segera merumuskan langkah strategis pasca banjir, sebelum ada tekanan sosial, ekonomi, politik, serta banjir melanda lagi. Untuk itu, hal yang sederhana tetapi konyol adalah masih tetap diperdebatkannya siapa yang salah pada bencana alam ini. Mestinya, yang dipentingkan sekarang adalah penanganan krisis banjir itu sendiri dan segera mengeluarkan masyarakat dari kesengsaraan ini.

Adapun rumusan langkah strategi pasca banjir, pertama adalah peningkatan solidaritas antarsesama. Solidaritas masyarakat yang ternyata banyak berjasa dalam menangani banjir agar ditingkatkan menjadi solidaritas pada setiap komunitas untuk melakukan perbaikan-perbaikan sosial di komunitasnya. Misalnya, memberi bantuan sandang pangan, menampung korban banjir, serta pemberdayaan pengamanan swakarsa agar kondisi tetap relatif aman dan terkendali. Kedua, prioritaskan manajemen air. Dalam sejarah kebijakan politik dan sejarah birokrasi Belanda, manajemen air masuk prioritas. Profesor sejarah hubungan Eropa-Asia Universitas Leiden, Leonard Blusse menjelaskan bahwa sekitar dua per tiga wilayah Belanda berada di bawah permukaan laut. Manajemen air selalu menjadi agenda pertama pembangunan dan kebijakan jika berkaca pada catatan sejarah. Blusse mengakui, meski dilakukan rekayasa teknik, kini Belanda tetap menghadapi ancaman banjir luapan sungai Rhine, yang panjangnya 1.320 kilometer. Itu akibat penggundulan hutan di wilayah hulu di Jerman. Untuk itu, pelbagai kanal, perluasan sungai dan pembangunan reservoir terus dilakukan.

Rekayasa teknik pengaturan air ala Belanda, menurut Bluse dikembangkan di Kerajaan Siam (Thailand) pada tahun 1800-an yang mengundang para insinyur Belanda untuk membangun sistem pintu air di jaringan Klong (kanal) di Bangkok. Demikian pula pada akhir abad ke-19 sekitar tahun 1890-an, insinyur De Rijcke dari Belanda membangun sistem pengairan di sejumlah kota di Jepang, yang kondisi alamnya di mana hulu dan hilir berdekatan dengan ketinggian yang ekstrem. Bahkan terakhir kali pasca Topan Katrina menghancurkan kota New Orleans, pemerintah Amerika Serikat mengundang para insinyur Belanda untuk bekerjasama.

Kerjasama itu sangat mungkin dikembangkan di Indonesia mengingat hubungan erat Belanda dengan Indonesia yang kini menjadi mitra sejajar. Tidak menutup kemungkinan pula, Pemerintah Kabupaten Situbondo menjalin kerjasama dengan Belanda. Why not?

Ketiga, membuat peraturan daerah (Perda) mengenai pasca banjir. Kutai Kartanegara merupakan salah satu daerah yang rentan terhadap banjir yang hampir tiap tahun. Menyikapi hal tersebut, DPRD membuat perda mengenai pasca banjir yang diharapkan penanganan pasca banjir dapat segera diakomodasi dengan terbentuknya panitia khusus (Pansus), yang bertugas menghimpun data-data dan mengevaluasi aset daerah, serta melihat secara langsung seberapa besar kerusakan yang terjadi. Apa saja yang perlu segera dilakukan perbaikan? Kemudian data-data yang telah dihimpun tersebut akan disampaikan kepada eksekutif sebagai rekomendasi untuk segera dilakukan pembenahan kerusakan akibat banjir. Itulah wujud kepedulian dari legislatif di Kutai Kartanegara.

Keempat, tata ruang secara umum yang beriorientasi pada penanggulangan banjir. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Antara lain, pemanfaatan lahan di sekitar tanggul harus dikontrol seketat mungkin. Paling tidak sepanjang bantaran sungai dan tanggul kanan harus bebas dari bangunan dan pemukiman liar. Alternatif pemanfaatannya bisa berupa taman atau jalan. Ketika semua air buangan dialirkan ke laut, ancaman banjir dari laut juga perlu diperhatikan. Mungkin saja diperlukan pintu atau gerbang kanan yang bisa dibuka tutup sewaktu-waktu. Resapan air hujan perlu lebih dimaksimalkan melalui daerah resapan mikro, seperti taman, kolam, perkerasan yang permeabel, dan sumur resapan. Prinsipnya, mengurangi buangan air hujan ke sungai dan memperbanyak resapannya ke dalam tanah.

Tidak kalah pentingnya adalah upaya nonstruktural yang berkaitan dengan pendidikan publik. Peran media massa, terutama Radar Banyuwangi sangat dibutuhkan. Tentunya, untuk menginformasikan upaya membangun kesadaran, seperti tidak membuang sampah di saluran air, memperbanyak penanaman pohon, menggunakan perkerasan grass-block dan paving-block yang permeable. Bahkan, bagaimana bersikap ketika banjir datang akan jauh lebih berguna untuk mencegah banjir dan meminimalisasi kerugian akibat banjir yang bisa datang setiap saat. Karena makin terbuktinya jika pemerintah, masyarakat, serta media massa yang bergerak, maka kesulitan pun menjadi lebih ringan untuk diselesaikan secara bersama-sama dalam mengatasi persoalan-persoalan banjir.*

Heri Junaidi Ssos
Staf Angkutan Darat Dinas Perhubungan Situbondo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: