Perilaku Menolong:untuk kepentingan orang lain atau kepentingan pribadi?

“Pak, mau nyebrang?”
“Iya, tolong dong saya disebrangkan.”
“Dua ratus ribu ya…”
“Waduh, mahal banget, cuma deket aja koq?”

Demikian cuplikan percakapan antara seorang bapak dengan pemilik gerobak yang menawarkan jasa untuk menyeberangi genangan air di suatu wilayah di Jakarta. Naik gerobak = dua ratus ribu? Luar biasa!

Jakarta dilanda banjir. Semua kalangan, tanpa terkecuali, terkena dampaknya. Musibah memang tidak pandang bulu. Dalam keadaan darurat, semua pihak tidak lagi terbedakan statusnya. Tayangan berita di televisi memperlihatkan bagaimana orang-orang yang sebelumnya bisa dikatakan hidup berkecukupan, sekarang membutuhkan pertolongan dari orang-orang yang kurang mampu secara ekonomi. Banyak orang yang mengambil kesempatan untuk memperoleh keuntungan dari musibah yang terjadi, dengan alasan memberikan pertolongan kepada yang membutuhkan.

Mengikuti perkembangan berita-berita mengenai banjir di Jakarta, di tengah keluhan tentang kurang tanggapnya pihak yang diharapkan dapat memberikan pertolongan, ada banyak bantuan yang diberikan baik oleh organisasi maupun oleh individu. Terlepas dari maksud apapun, semuanya bertujuan mulia: ingin membantu meringankan beban sesama yang mengalami kesulitan. Namun, rasanya miris juga bila melihat pesan tersirat dibalik kepedulian yang ditunjukkan, baik disengaja atau tidak, supaya diingat, dikenal, ataupun agar tidak ditinggalkan oleh masyarakat.

Dalam keadaan sulit, secara manusiawi kita terdorong untuk memberikan bantuan kepada yang membutuhkan. Namun semakin hari, kepekaan manusiawi kita tampaknya semakin tumpul. Kalaupun terlihat memberikan pertolongan, bukan mustahil pertolongan yang diberikan mengandung motif lain yang tidak kasat mata.

Pemilik gerobak jelas-jelas memiliki motif ekonomi dibalik pertolongan yang ditawarkannya. Memang ternyata suatu bencana tidak selalu merugikan, tetapi ada pihak-pihak yang memperoleh keuntungan darinya. Kata ‘menolong’ tidak selalu merujuk pada hal yang baik dan tulus.

Menurut Kotler, partisipasi seseorang dalam memberikan bantuan didasari oleh berbagai alasan. Disadari atau tidak, selain untuk kebaikan orang lain, seseorang pun memperoleh keuntungan dari pertolongan yang diberikannya, juga mendapatkan kepuasan tersendiri dalam dirinya. Orang-orang yang memberikan pertolongan dapat dikategorikan menjadi affiliation seekers, status seekers, power seekers, dan faith seekers. Affiliation seekers memiliki kebutuhan untuk berada dan bekerja bersama orang lain. Situasi yang memungkinkan mereka untuk menolong merupakan peluang untuk memuaskan dorongan tersebut. Status seekers memiliki keinginan untuk memperoleh penghargaan dari orang lain. Mereka bergabung dengan tim pemberi pertolongan agar dapat meningkatkan status mereka dan mendapatkan penghargaan dari orang lain. Power seekers memiliki keinginan yang kuat untuk menunjukkan kekuasaannya terhadap orang lain. Peluang untuk memberikan pertolongan digunakan untuk mendapatkan perhatian dan kekuasaan. Sedangkan faith seekers memiliki kebutuhan yang kuat untuk memenuhi panggilan hidup mereka berdasarkan kepercayaan yang mereka miliki.

Dari uraian di atas, mungkin kita selanjutnya akan ‘menghakimi’. Tidak perlu demikian. Justru, marilah kita merenung. Apa yang sebenarnya menjadi dasar pertimbangan kita saat memberikan pertolongan kepada orang lain. Dan tetaplah kita bertolong-tolongan dalam menanggung kesulitan, apapun keadaannya. Dengan demikian kita telah mengambil bagian dalam menjadikan dunia yang lebih baik.

“Heal the world, make it better place for you and for me …”

Maria Herlina Limyati
Staf pengajar
Fakultas Psikologi Universitas Kristen Kridawacana – Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: