Korban Banjir Minum Air Tercemar

[Koran Tempo] TUBAN – Warga di sejumlah desa yang terendam banjir di Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban, terpaksa mengkonsumsi air banjir yang tercemar. Tindakan nekat itu dilakukan akibat kurangnya pasokan air bersih dalam beberapa hari terakhir.

“Warga melihat air banjir itu mulai jernih meskipun agak kehijau-hijauan,” kata Miftahul Ulum, warga Simorejo, kemarin. Hal serupa juga dilakukan warga Desa Tegalsari, yang kini mengungsi di tanggul-tanggul yang lebih tinggi untuk menghindari banjir.

Kepala Puskesmas Kecamatan Widang Shinta Puspitasari mengatakan air banjir di wilayah itu memang sudah relatif bersih. Namun, tetap saja harus diwaspadai adanya kemungkinan bakteri dan unsur pencemar lainnya. “Bisa aman asalkan dimasak sampai mendidih.”

Dia menjelaskan, pihaknya sudah mendatangi desa-desa yang terendam banjir sambil memberikan bantuan makanan tambahan untuk anak-anak dan bubuk abate buat mencegah ancaman demam berdarah. Jika air sudah surut, pihaknya akan membagikan bubuk kaporit untuk sumur-sumur warga agar airnya netral dan terbebas dari kuman.

Banjir selama sepekan terakhir di wilayah Tuban ini juga menyebabkan sedikitnya 1.700 siswa sekolah dasar dan madrasah di 13 desa di Kecamatan Widang tidak bisa bersekolah. Tercatat paling kurang 34 gedung sekolah dan madrasah turut terendam dan belum bisa digunakan.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tuban Karmani membenarkan adanya 34 sekolah dan madrasah yang terganggu aktivitasnya akibat banjir sepekan lebih. Karena itu, katanya, Dinas Pendidikan telah mengeluarkan surat edaran kepada para pengelola sekolah agar tetap berusaha melanjutkan proses belajar-mengajar. “Edaran ini kami keluarkan terhitung sejak banjir datang,” ujar Karmani, yang dihubungi melalui telepon kemarin.

Sementara itu, 1.500 keluarga di Kampar Kiri, Kabupaten Kampar, Riau, terancam kelaparan akibat banjir yang memutus jalur darat. Bantuan dari pemerintah sampai kini belum tiba seluruhnya. Jika sampai pekan depan bantuan belum datang, “Kami akan kelaparan,” ujar Pemangku Pucuk Adat Datuk Panghulu Besar Jafri di Pekanbaru kemarin.

Dua kawasan paling parah yang terkena banjir adalah Padang Sawah dan Sepaku, yang dihuni hampir 1.000 keluarga. Saat ini mereka mengalami krisis pangan dan obat-obatan. Sejak jalur darat putus empat hari lalu, daerah ini sulit dijangkau meski dengan transportasi sungai. “Airnya deras dan tingginya lewat sepinggang,” kata Datuk. sujatmiko | jupernalis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: