Banjir Mulai Landa Kota Jambi

[Kompas}Jambi,- Banjir karena meluapnya Sungai Batanghari mulai melanda sebagian wilayah di Kota Jambi. Satu rumah di Kelurahan Legok, Kecamatan Telanaipura, bahkan roboh. Banjir juga menyebar ke beberapa daerah, di antaranya melanda belasan desa di Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat.
Pengamatan Kompas, Minggu (23/3), menunjukkan, di Kelurahan Legok, ketinggian air telah mencapai 1-1,5 meter. Genangan mulai terjadi sejak Kamis lalu dan hingga Minggu terus meninggi sehingga merendam rumah-rumah warga. Warga harus menggunakan perahu untuk beraktivitas di luar rumah. ”Di sini selalu banjir kalau air Sungai Batanghari meluap,” ujar Kiki, warga yang rumahnya terendam.

Di Kelurahan Legok, rumah panggung milik Yana roboh. Peristiwa terjadi saat hujan deras dan Yana sedang memasak. Tiang-tiang di rumah bagian belakang tiba-tiba roboh. ”Saya langsung lari keluar,” katanya.

Pada Minggu pukul 14.30, air Sungai Batanghari di pos pengukuran Tanggo Rajo mencapai 13,8 meter. Tiga jam sebelumnya, ketinggian air masih 13,6 meter.

Selain di Kelurahan Legok, banjir juga terjadi di Kelurahan Sejinjang, Kecamatan Jambi Timur, dan sebagian kecil di wilayah Sebrang, Kota Jambi.

Di Kalimantan Barat, tingginya curah hujan sepekan ini menyebabkan Sungai Kapuas dan Sungai Sekadau meluap. Akibatnya, 14 desa di Kecamatan Sekadau Hilir terendam setinggi 50 sentimeter hingga 1,5 meter.

Kondisi serupa terjadi di Kecamatan Astambul dan Martapura Baru, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Akibat banjir setinggi 60 sentimeter dari kiriman Sungai Riam Kiwa, aktivitas warga di Desa Munggu Raya dan Sungai Baru lumpuh dalam sepekan ini.

Menyebar

Di Pulau Jawa banjir semakin menyebar. Pada Sabtu malam hingga Minggu siang, sebagian Kecamatan Rancaekek di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, terendam setelah hujan deras mengguyur wilayah itu, ditambah air kiriman dari daerah yang lebih tinggi. Salah satu daerah yang menjadi langganan banjir di Kecamatan Rancaekek adalah Desa Haurpugur.

Di Jawa Timur, luapan Sungai Bengawan Solo masih mengganggu jalur transportasi antardesa. Kondisi itu dialami warga Kabupaten Bojonegoro, Tuban, dan Lamongan yang wilayahnya terendam air.

Banjir juga menyebabkan biaya hidup membengkak. Warga Desa Sale, Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro, misalnya, harus membayar Rp 1.000 per karung isi 50 kilogram untuk mengangkut gabah. Gabah diangkut dengan sepeda motor, sepeda, atau gerobak dorong. ”Kalau harus ngrubyuk (berjalan kaki di genangan air), ya, capek. Hasil panen juga tambah basah,” kata Waji (48), seorang petani, Minggu.

Di Kecamatan Widang, Tuban, kondisinya lebih parah. Tanggul yang jebol masih dalam proses perbaikan. Tanggul yang juga berfungsi sebagai jalan dipakai untuk mendirikan tenda pengungsian. Jalan-jalan di Dusun Simorejo, Pandean, Tenggilis, dan Baturan juga masih terendam dan hanya bisa dilalui perahu. (ITA/WHY/FUL/ELD/ACI)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: