Banjir Landa Empat Provinsi

[Suara Pembaruan] Pekanbaru,- Banjir yang melanda Provinsi Riau akibat
hujan turun hampir selama seminggu hingga Rabu (26/3)
pagi menggenangi 9 dari 11 kabupaten/kota. Terakhir
Kabupaten Siak yang dilanda banjir keadaannya semakin
parah.

Sebelumnya, Kabupaten Indragiri Hilir. Banjir juga
melanda Kota Jambi, Provinsi Jambi, Kabupaten
Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara (Sumut) dan
Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng).

Gubernur Riau, HM Rusli Zainal, Rabu pagi ini meninjau
sejumlah lokasi banjir yang ada di Kota Pekanbaru,
antara lain di Kecamatan Rumbai dan Limapuluh Kota
yang ketinggian airnya . sudah mencapai 2 meter dari
permukaan Sungai Siak.

Dalam kunjungan itu, Gubernur Rusli didampingi Kepala
Badan Kesejahteraan Sosial Riau, Humizry Husien,
anggota DPRD Provinsi Riau, Arsyad Juliandi Rachman,
anggota DPRD Kota Pekanbaru, Diana Razak, Wakil Wali
Kota Pekanbaru, Erizal Muluk, Kepala Dinas
Perindustrian dan Perdagangan Riau, Ruslaini Rahman.

Kepada para korban, Rusli meminta agar tabah
menghadapi musibah banjir ini. Dalam kesempatan
tersebut diserahkan bantuan berupa 10 ton beras,
sardens dan peralatan dapur. Kepada Gubernur, korban
banjir mengatakan kesulitan air bersih yang sampai
saat ini belum teratasi.

Dia mengatakan, pihaknya telah menyerahkan bantuan 50
ton beras dan 30 tenda kepada pengungsi banjir di
berbagai kabupaten yang terkena musibah itu.

Dalam kesempatan itu, gubernur juga mengimbau kepada
pengusaha untuk membantu para korban.

Mengungsi

Sementara itu, sebagian warga Kota Jambi, Provinsi
Jambi mulai mengungsi menyusul meluapnya Sungai
Batanghari akibat hujan yang turun terus-menerus.
Warga yang mengungsi semuanya bermukim di kawasan
daerah aliran sungai Batanghari dengan bangunan rumah
tidak bertiang atau rata dengan tanah. Banjir juga
menyebabkan sekolah mulai meliburkan diri.

Berdasarkan pantauan SP di Kelurahan Pulau Pulau
Pandan, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi, Rabu pagi,
sedikitnya lima keluarga di kelurahan itu mengungsi
karena banjir yang merendam rumah mereka sudah
mencapai ketinggian satu meter. Mereka mengungsi ke
rumah tetangga berbentuk panggung yang belum terendam
banjir.

“Warga yang rumahnya terendam banjir di kelurahan ini
terpaksa mengungsi ke rumah tetangga karena pemerintah
belum menyiapkan tenda pengungsian. Kemarin, Selasa
(25/3), wakil camat Telanaipura datang ke sini
meninjau banjir. Namun tidak memberikan bantuan
apa-apa kepada warga yang mengungsi di rumah
tetangga,”ujar Syamsurizal (45), warga Pulau Pandan
kepada SP Rabu pagi.

Menurut Syamsurizal, meningkatnya banjir membuat satu
sekolah dasar di Pulau Pandan yang bangunannya rata
dengan tanah sudah terendam. Akibatnya murid-murid
diliburkan.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Umum Pemerintah
Provinsi Jambi, Idham Khalid mengatakan, pihaknya
meminta satkorlak provinsi dan satlak kabupaten/kota
di daerah itu segera menyiapkan tenda-tenda dan
peralatan evakuasi pengungsi. Para petugas perlu
proaktif mengantisipasi banjir, karena sungai
Batanghari terus meluap akibat curah hujan yang masih
tinggi.

Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika Provinsi Jambi,
Remus L Tobing memperkirakan, banjir di Jambi
berpotensi terus meningkat menyusul tingginya curah
hujan di daerah itu. Berdasarkan perkiraan, curah
hujan di Jambi hingga awal April masih bisa mencapai
400 milimeter (mm) di atas normal sekitar 200 mm.
“Karena itu banjir harus diwaspadai,” ujarnya.

Selain itu, ribuan hektare (ha) lahan pertanian
mengalami kerusakan akibat banjir dan tanah longsor di
Desa Tanjung Sialang, Desa Hutagodang Muda, Desa Muara
Batang Angkola, Desa Muarasoma dan Ampung Sialang,
Kecamatan Batang Natal, Kabupaten Mandailing Natal
(Madina), Sumut.

Trans Sulawesi

Sementara itu, sejumlah kabupaten di Sulteng khususnya
Donggala, diterjang banjir dan tanah longsor menyusul
curah hujan yang cukup tinggi dalam beberapa hari
terakhir. Beberapa ruas jalan terputus bahkan sebuah
jembatan beton di Desa Batusuya, Kecamatan Sindue
Tambusabora, Kabupaten Donggala, Senin (24/3) ambruk
diterjang banjir.

Pasangan suami isteri Abd Wahid dan Nahira Yusuf yang
pada malam naas itu sedang melintas di atas jembatan
Batusuya dengan sepeda motor, jatuh tercebur ke sungai
bersamaan dengan ambruknya jembatan.

Wahid yang tersangkut di pohon berhasil diselamatkan
sedangkan Nahira terseret ban- jir sampai Rabu pagi
belum ditemukan.

Akibat ambruknya jembatan Batusuya, jalur Trans
Sulawesi di pesisir barat Sulteng terputus total.
Ratusan kendaraan yang datang dari arah Tolitoli, dan
Manado, Sulawesi Utara, menuju Palu sejak Selasa malam
hingga Rabu pagi terjebak di ruas ini. Aparat setempat
sampai Rabu pagi masih berusaha membuat jalan
alternatif agar kendaraan-kendaraan itu bisa lewat.

Kepala Desa Batusuya Chaerun kepada wartawan di Desa
Batusuya mengatakan pihaknya bersama tim SAR masih
berupaya mencari Nahira.

Hujan deras yang melanda daerah-daerah kecamatan di
Donggala, yakni di Kecamatan Kulawi, Kulawi Selatan,
dan Pipikoro, sejak seminggu terakhir mengakibatkan
ruas-ruas jalan terendam banjir dan lumpur.

“Jalan sangat licin dan berlumpur, tapi untung masih
bisa dilewati,” kata Camat Kulawi Selatan, Ferdinan
Kalangie. [MUL/141/AHS/128/148]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: