Banjir, Ribuan Warga Nagan Lari ke Gunung

[Serambi Pos] JEURAM – Ribuan warga Kecamatan Beutong, Kabupaten Nagan Raya, Senin (25/3) sore sekitar pukul 18.30 WIB terpaksa mengungsi dan lari ke gunung terdekat, karena desa mereka dilanda banjir bandang. Sebelum musibah itu terjadi, warga sempat mendengar suara gemuruh yang dahsyat hingga akhirnya air merendam permukiman mereka. Namun, versi lain yang berhasil dihimpun Serambi dari sejumlah warga di wilayah itu, banjir bandang yang terjadi menjelang magrib kemarin, disebabkan jebolnya Irigasi Ulee Jalan yang terdapat di dataran tinggi Kecamatan Beutong, Kabupaten Nagan Raya. Diperkirakan, irigasi yang jebol itulah yang menimbulkan suara gemuruh.


Pascajebolnya irigasi tersebut, sebagian warga di wilayah itu mengungsi ke sebuah sekolah dasar (SD) di Desa Krueng Pukang, Kecamatan Beutong. Tak hanya itu. Ribuan masyarakat di Kecamatan Seunagan Timur dan Kecamatan Seunagan juga panik, sehingga banyak warga yang telah membungkus barangnya dan naik ke truk-truk untuk pergi meninggalkan desa.

Kebanyakan warga Kecamatan Seunagan Timur tadi malam masih berkumpul di Keudee Linteueng, ibu kota kecamatan setempat. Mereka dalam keadaan siap siaga untuk mengosongkan desa, apabila ketinggian air yang merendam kampung halaman mereka kian meningkat.

Beni, warga Kota Jeuram, Kecamatan Seunagan, Kabupaten Nagan Raya, kepada Serambi mengatakan ribuan masyarakat di tiga kecamatan itu kini tampak panik dan telah bersiap siap pergi meninggalkan rumah jika banjir bandang tak segera surut.

Tak hanya itu, ribuan masyarakat di wilayah tersebut kini berkumpul di pinggir jalan guna mengantisipasi kemungkinan terburuk yang bakal terjadi. Saya tak bisa menggambarkan bagaimana paniknya warga malam ini, kata Beni.

Padati masjid

Selain berkumpul di pinggir jalan dalam guyuran hujan, masyarakat juga telah memadati masjid-masjid di wilayah itu guna menunaikan shalat berjemaah dan memanjatkan doa agar spektrum banjir tidak meluas dan banjir bandang itu tidak menggenangi permukiman warga lainnya.

Sementara itu, Kasubag Humas Setdakab Nagan Raya, Asda Kesuma melaporkan, ribuan masyarakat di Kecamatan Beutong, Seunagan Timur, serta Kecamatan Seunagan tampak panik dan banyak yang telah meninggalkan desa mereka. Disebut sebut banjir itu terjadi karena robeknya tanggul di kawasan Desa Tumpok Krueng, Cot Jawi, Kecamatan Beutong.

Berdasarkan laporan masyarakat yang ia terima, desa yang terendam banjir dan warganya sudah mengungsi itu meliputi Ujong Blang, Dayah, Cot Jawi, serta sejumlah desa yang bedekatan dengan irigasi tersebut.

Ribuan warga dari tiga desa itu juga mengungsi ke SD di Desa Krueng Pukang, Gunong Seumot, Kecamatan Beutong. Akibat banjir tersebut, ratusan hektare sawah masyarakat kini terendam dan ratusan ternak hanyut. Situasi benar benar panik. Sebagian desa di Blang Ara telah ditinggalkan warganya untuk naik ke gunung menumpang truk pengangkut pasir, ujarnya.

Secara terpisah, Ardiansyah, warga Desa Padang, Kecamatan Seunagan, menyesalkan buruknya kualitas jaringan komunikasi di wilayah itu pada saat bencana banjir terjadi. Akibatnya, banyak warga yang ingin berkomunikasi via telepon dengan sanak saudaranya untuk mengetahui kondisi terkini di kawasan banjir itu, tidak terakses.

Begitupun, hingga berita ini diturunkan tadi malam, belum ada laporan tentang warga yang tewas atau cedera akibat banjir bandang tersebut. Namun, di kawasan yang lain dalam Kabupaten Aceh Utara dilaporkan, Teuku Banta (65), warga Desa Keulembah, Kecamatan Woyla, Selasa (25/3) pukul 09.00 WIB dilaporkan hilang di sungai gara-gara tercebur ke Krueng Woyla saat melitasi Jembatan Bakat, menggunakan sepeda motor. Hingga sore kemarin, jasad korban yang hendak pergi ke pasar Kuala Bhee bersama temannya Sulaiman itu, belum ditemukan.

Sumber Serambi menjelaskan, Banta duduk di sadel belakang saat sepeda motor (sepmor) yang dikendarai Sulaiman itu melintas di atas Jembatan Bakat yang berkonstruksi baja, namun lantai papannya sudah rapuh.

Tiba-tiba sepmor tersebut terperosok pada lantai jembatan dan Banta terpelanting ke dasar Krueng Woyla, kemudian hilang ditelan derasnya air Krueng Woyla yang dalam beberapa hari terakhir sangat deras akibat diguyur hujan lebat. Hanya Sulaiman dan kendaraannya yang selamat.

Sekcam Woyla, T Fadli SE yang ditanyai kemarin mengatakan untuk mencari korban yang hilang di dasar sungai itu, tim SAR, RAPI, Tagana, dan PMI sudah ke lokasi. Saat terjatuh ke sungai korban langsung hilang diseret air, kata Fadli.

Fadli bersama warga lainnya sangat berharap agar jembatan berkonstruksi baja yang lantai papannya sudah rapuh itu segera diperbaiki, sehingga kejadian yang tak diinginkan tidak terulang kembali.

Gatal-gatal

Dilaporkan juga bahwa sejumlah korban banjir dari Desa Cot Amun, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, yang mengungusi ke posko/kamp di Desa Reusak mulai diserang penyakit gatal gatal, batuk, deman, dan lainnya.

Geuchik Cot Amun, Amiruddin, mengungkapkan akibat banjir, selain seluruh warganya masih mengungsi, beberapa di antara mereka juga mulai diserang deman, batuk, dan gatal gatal.

Diakuinya, kondisi warga yang mengungsi itu kini memprihatinkan, yakni kurangnya perhatian dari berbagai pihak. Warga mengeluh, karena saat tidur di lantai kamp pada malam mereka tidak berselimut. Kami berharap adanya pihak pihak yang membantu kami, kata Amiruddin kepada Serambi kemarin.

Pelaksana Harian (Plh) Kepala Pustu Reusak Kecamatan Samatiga, Susi Maulhusna mengakui sekitar 50 jiwa penduduk Desa Cot Amun yang mengungsi pernah mendapat pelayanan medis dalam tiga hari terakhir. Bahkan pada hari pertama banjir mayoritas yang diserang demam adalah anak anak yang umurnya 2 8 tahun.

Untuk hari ini ada tujuh warga yang mengungsi itu sakit dan sudah kita periksa serta berikan pengobatan, kata Susi, kemarin. Ketujuh warga itu adalah Hanafiah (60), Mahruddin (30), Bustami (39), Farida (45), Juariah (65), Asnawi (34), dan Farida Is (35).

Saat ini, kata Susi, petugas medis masih terus disiagakan di Pustu Reusak yang berdekatan dengan kamp pengungsi warga Cot Amun

Juga karena banjir, hubungan darat Meulaboh Kuala Bhee yang sejak Minggu lalu lumpuh, hingga Selasa kemarin belum juga bisa dilalui, karena kawasan Ateung Teupat masih terendam air setinggi 70 cm.

Camat Samatiga, Zainal dan Camat Bubon, Nyakman mengatakan puluhan desa di wilayahnya masih terendam banjir setelah diguyur hujan lebat, sehingga ribuan rumah penduduk terendam.

Bahkan, kata Zainal, penduduk sebuah desa di wilayahnya masih mengungsi di kamp pesantren Desa Reusak menunggu air surut. Kita khawatir genangan air tidak akan berkurang, mengingat hujan hingga kini masih turun, kata Zainal kemarin sore. (di/riz)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: