Beban Jawa Amat Berat, Relokasi Merupakan Solusi

[Kompas] Jakarta,- Banjir dan longsor yang kerap
terjadi di berbagai wilayah di Pulau Jawa merupakan
indikasi tingginya beban lingkungan di pulau terpadat
di Indonesia bahkan di Asia Tenggara ini. Relokasi
penduduk dan industri ke luar Jawa merupakan langkah
yang perlu segera diambil.

Jacub Rais, pakar geomatika, juga mantan Kepala Badan
Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional, mengatakan
ini, Jumat (14/3), didasari data geospasial dan
kependudukan saat ini.

Luas Pulau Jawa 132.187 km2, 6,9 persen daratan
Indonesia. Namun, jumlah penduduknya sekitar 60 persen
penduduk Indonesia. Berarti, kepadatan penduduk di
Jawa 813 orang/km2.

Untuk dapat mengurangi penduduk Pulau Jawa minimal 2
juta per tahun, menurut Jacub–juga Guru Besar
Pascasarjana Institut Teknologi Bandung, Institut
Pertanian Bogor, dan Universitas Indonesia–diperlukan
pembangunan pusat pertumbuhan di pulau-pulau besar dan
kecil di luar Pulau Jawa. Pusat-pusat itu berbasis
industri agro dan maritim, yang menjadi potensi
terbesar di negeri ini.

“Rencana strategis itu perlu didukung tata ruang
terpadu antara pusat dan daerah, serta antara darat
dan laut untuk mengurangi tekanan penduduk terhadap
lahan di Pulau Jawa. Sebab, tidak ada provinsi di
Pulau Jawa yang dapat menata ruang secara
sendiri-sendiri,” ujarnya.

Keterpaduan strategi pembangunan antara provinsi yang
berbatasan langsung maupun tidak langsung diperlukan
untuk penataan ruang dan pendistribusian penduduk ke
sejumlah daerah yang berpotensi dikembangkan di luar
Jawa.

Relokasi penduduk ke luar Jawa, menurut Zuhal, mantan
Menteri Negara Riset dan Teknologi, perlu dikaitkan
dengan rencana pengembangan zona ekonomi terpadu di
luar Jawa, yang disebut Kawasan Pengembangan Ekonomi
Terpadu (Kapet).

Juga perlu didorong relokasi industri ke luar Jawa.
Sebaliknya, pengembangan Kapet di luar Jawa bisa
berdampak pada perpindahan penduduk secara spontan
dari Jawa ke Kapet. Pengembangan Kapet perlu mendapat
insentif oleh pemda setempat dan pemerintah pusat.

Daerah punya peluang menumbuhkan kawasan unggulan
untuk menarik investor yang berorientasi ekspor dan
efisiensi. Industri akan memilih luar Jawa karena
sumber bahan baku di Jawa terbatas. Penyediaan lahan,
bahan baku, dan sumber daya energi di luar Jawa lebih
besar. Dalam hal ini Riau dan Kaltim sekarang menjadi
daya tarik.

Jacub melanjutkan, pengelolaan wilayah hendaknya
berdasar ketersediaan sumber daya air, bukan
berdasarkan batas administratif dan aspek politis.
Harus ada subsidi silang dari daerah hilir yang
memanfaatkan suplai air, diberikan ke daerah hulu yang
melestarikan sumber daya air.

Ia mengambil contoh DAS Bengawan Solo. Pada zaman Orde
Baru ada dana reboisasi untuk kawasan hulu Bengawan
Solo. Sekarang tidak ada lagi. Padahal, kawasan Jatim
sebagai daerah hilir yang mendapatkan pasokan airnya
memperoleh income dari industri yang memanfaatkannya.

Dengan kepadatan tinggi, kebutuhan kawasan permukiman
tinggi, yang kemudian mengancam keberadaan kawasan
hutan di gunung dan perbukitan yang harus dilindungi
untuk menjaga keseimbangan hidrologis. Dengan
bertambah penduduk, konsumsi beras dan bahan pangan
meningkat, sementara luas lahan tidak berubah, bahkan
berkurang. (YUN)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: