Mengelola Daerah Aliran Sungai

Oleh Dwiatmo Siswomartono

emua aktivitas manusia di darat berlangsung di dalam
suatu wilayah yang disebut Daerah Aliran Sungai (DAS)
yaitu wilayah daratan yang dibatasi oleh pemisah
topografis berupa punggung bukit yang menerima air
hujan dan mengalirkannya ke hilir dan bermuara ke
laut. DAS terdiri dari beberapa sub-DAS yang merupakan
suatu anak sungai yang bermuara ke waduk, dam, danau
atau sungai. Sub DAS ini sering juga disebut sebagai
Daerah Tangkapan Air atau Catchment Area. Peristiwa
banjir dan tanah longsor yang diberitakan media masa,
terjadi pada suatu kawasan yang disebut DAS tersebut.

Banyak orang menghubungkan peristiwa banjir dan tanah
longsor dengan illegal logging. Ada juga yang menyebut
akibat saluran dan sungai tidak normal, sungai tidak
mampu menampung aliran permukaan karena penuh sampah,
daerah bantaran sungai dan daerah resapan dipakai
sebagai permukiman. Banjir dan tanah longsor selalu
menjadi berita besar karena merugikan dan
menyengsarakan penduduk yang tinggal atau menghuni di
daerah rendah atau bantaran sungai suatu Sub DAS.
Fakta menunjukkan tahun 1955 sungai Batanghari banjir
menggenangi daerah Jambi, padahal saat itu hutan di
sana masih utuh. Tetapi, karena penduduk waktu itu
masih jarang, banjir tidak menjadi masalah serius.
Kini penduduk makin padat dan menghuni daerah
bantaran, daerah rendah dan daerah curam. Sedikit saja
banjir timbullah masalah sosial serius; tanah longsor
yang menelan korban.

Tata Guna Lahan

Mengapa banjir dan tanah longsor terjadi? Di dalam DAS
penggunaan lahan dibedakan atas: a) Hutan, biasanya
berada di hulu, b) Kawasan budidaya, perkebunan,
petanian, c) Pemukiman, d) Rawa, waduk atau danau,
bantaran sungai, e) Lahan industri, danlain lain. Air
hujan yang turun dalam kawasan DAS akan mengalami
beberapa kejadian yang berbeda.

Pertama, air hujan yang jatuh di kawasan hutan akan
menjadi uap kembali (eveporasi), mengalir urut batang
(stemflow) turun ke tanah atau jatuh langsung dari
dahan, ranting dan daun langsung ke tanah. Karena pada
umumnya lapisan permukaan tanah hutan terdiri dari
bahan organik (horizon O) yang berasal dari
dekomposisi bahan tanaman, maka air yang sampai ke
tanah akan mudah diresapkan ke dalam tanah. Air yang
jatuh ke tanah akan ditahan oleh lapisan tumbuhan
bawah, berupa semak dan perdu, serta lapisan humus
sehingga sedikit merusak partikel tanah.

Kedua, lahan pertanian biasanya intensip digarap,
disiangi, dipupuk sehingga tanaman bawah bersih.
Akibatnya air hujan yang jatuh ke tanah dapat langsung
mencerai-beraikan partikel tanah di permukaan lahan
dan terjadi erosi. Hujan yang jatuh langsung dari
langit ke permukaan lahan akan mencerai-beraikan
partikel tanah dengan energi yang lebih besar sehingga
erosinya akan makin besar.

Apalagi saat menjelang musim tanam, lahan biasanya
dibersihkan sehingga saat hujan datang tetapi tanaman
belum mampu melindungi tanah maka erosi akan terjadi.
Air yang meresap ke dalam tanah lebih sedikit dari
pada yang mengalir sebagai aliran permukaan tanah
(run-off) yang mampu menyebabkan erosi dan mengalir ke
sungai bersama sedimen yang terangkut.

Tanaman keras perkebunan berfungsi sama atau hampir
sama dengan tanaman hutan. Karena di bawah tegakan
terdapat tanaman penutup tanah yang mampu menahan
pukulan air hujan. Air yang jatuh ke tanah akan
meresap ke dalam tanah. Demikian pula aliran permukaan
dihambat oleh tanaman penutup, sisanya masuk ke
sungai. Volume run-off dihambat oleh tegakan tanaman
erkebunan, demikian pula sedimennya.

Ketiga, pemukiman terutama di pekotaan sebagian besar
terdiri dari bangunan kedap air; atap, halaman beton,
jalanan aspal, saluran beton, sehingga air tidak
diberi kesempatan meresap ke dalam tanah. Akibatnya
hampir semua air hujan mengalir ke sungai utama dan
berakhir ke laut, waduk, dan atau danau, termasuk
semua bentuk limbah yang diangkut. Makin luas atau
makin besar persentasi kawasan pemukiman dari suatu
DAS maka makin besar air yang masuk ke sungai dan
berpotensi menambah volume air sungai dan menimbulkan
banjir di musim penghujan. Meskipun demikian erosi di
kawasan pemukiman di perkotaan relatif lebih kecil
dibanding dengan pedesaan atau kawasan budidaya.

Keempat, air hujan yang jatuh ke permukaan air di
waduk, danau, dam, atau sungai akan menambah langsung
volume air yang tercermin dengan naiknya permukaan
air. Secara langsung tidak menyebabkan erosi, tetapi
kalau air tersebut mengalir maka kecepatan aliran akan
dapat mengikis dinding/tebing saluran/badan air dan
mengangkutnya ke hilir.

Bantaran sungai (flood plain) merupakan kawasan
cadangan aliran sungai. Dalam keadaan aliran air
melebihi normal, maka aliran air akan memenuhi
bantaran sungai. Dalam keadaan curah hujan yang luar
biasa besar (siklus 50 tahunan atau lebih), air akan
melimpah ke daerah rendah di sekitar bantaran sungai,
padahal bantaran sungai tidak diperuntukkan bagi
pemukiman. Ingat tahun 1955, daerah Jambi mengalami
banjir besar meskipun penduduk belum banyak dan hutan
masih utuh. Demikian pula Bengawan Solo meluap tahun
1966 mengakibatkan banyak kota, termasuk Solo,
tergenang.

Banjir, erosi, tanah longsor dan kekeringan menjadi
masalah serius yang dihadapi oleh masyarakat dan
Pemerintah. Beberapa daerah tergenang air, tanah
longsor, banjir lumpur, jalur jalan putus, dan rakyat
perkampungan terisolasi pada musim penghujan
terberitakan di berbagai media masa. Pada musim
kemarau, media masa memuat berita rakyat kekurangan
air bersih, beribu-ribu hektar tanaman padi puso
kekurangan air, pembangkit listrik tenaga air menurun
kapasitasnya, waduk dan saluran pengairan kering. Jika
suatu daerah terancam gagal panen, kekurangan pangan
mengancam wilayah lainnya, dan stock pangan Bulog
terancam tak terpenuhi karena gagal panen, sehingga
harus impor. Kejadian ekstrim yang silih berganti
antara musim kemarau dan penghujan .

Meskipun merupakan fenomena biasa, sebenarnya kedua
kejadian itu adalah akibat kegiatan manusia yang
meningkat dalam mengeksploitasi sumber daya alam.
Eksploitasi tanpa memperhatikan kelestarian akan
mengganggu keseimbangan alam, menyebabkan bencana bagi
manusia. Kerusakan tersebut semestinya dapat dicegah.
Bagi yang belum terlanjur rusak harus kita cegah
terjadinya kerusakan. Bagi yang sudah terlanjur rusak
harus kita perbaiki atau kita rehabilitasi agar pulih
atau mendekati seperti sebelum rusak.

Penulis adalah nature conservationist

1 Response so far »

  1. 1

    mujahidawati said,

    Saya butuh keadaan DAS sungai batanghari prop,Jambi untuk saat ini. apa benar PETI sudah dihapuskan dan industri apa saja yang ada berfungsi di DAS sungai Batanghari saat ini. Saya butuh data untuk desertasi saya trims


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: