Recovery Ngawi Butuh Rp 32 M

[SINDO]NGAWI, – Pemulihan pascabanjir (recovery) di
Ngawi, Jatim, membutuhkan dana Rp32 miliar.
Perinciannya, Rp3 miliar untuk pemulihan sektor
pertanian dan tanaman pangan; Rp18 miliar untuk
perbaikan jalan, jembatan, dan prasarana umum; Rp1,3
miliar untuk pembangunan gedung sekolah; dan Rp4,3
miliar untuk perbaikan rumah warga yang rusak berat.

“Kebutuhan dana sebesar itu akan ditanggung Pemkab
Ngawi,dibantupemerintahpusat dan pemerintah provinsi,”
ujar Wakil Bupati Ngawi Budi Sulistiyono saat
menghadiri pemberian bantuan sem-bako bagi korban
banjir dari Yonif Armed12Kostraddi Alun-Alun Kota
Ngawi kemarin.

Menurut dia, bantuan benih dan pupuk bagi para petani
yang sawahnya terendam banjir sebenarnya sudah
dilakukan sejak awal Januari 2008. Begitu pula untuk
perbaikan jalan-jalan di desa dan perbaikan sekolah.
Sementara untuk perbaikan rumah-rumah warga yang
rusak, menunggu banjir benar-benar reda.

“Kita khawatir nanti setelah dibangun akan rusak lagi
karena diterjang banjir susulan.Sekarang,banjir masih
rawan terjadi,”ujarnya. Pemkab Ngawi juga sedang
menyusun dan menata penanganan bencana secara
menyeluruh. Model penanganan bencana itu bukan di
wilayah Ngawi saja, melainkan juga lintas daerah yang
rawan terkena banjir luapan Sungai Bengawan Solo.

“Menghadapi banjir kita tidak bisa sendirian, tapi
harus selalu berkoordinasi dengan daerah lain, seperti
Madiun, Ponorogo, Bojonegoro, Tuban, Lamongan. Sebab,
wilayah Ngawi ini sering menjadi korban banjir karena
kiriman dari daerahdaerah lain,”ujarnya.

Pembangunan tanggul di sepanjang Daerah Aliran Sungai
(DAS) Bengawan Solo mulai daerah hulu di Wonogiri,
Jawa Tengah,hinggake daerah hilir di Ujung Pangkah,
Gresik, mendesak untuk direalisasikan. Proyek ini
untuk mencegah banjir Be-ngawan Solo di kawasan
Kabupaten Ngawi, Bojonegoro,Tuban, Lamongan, hingga
Gresik.

Pejabat Pembuat Komitmen Balai Besar Wilayah Sungai
Bengawan Solo Pengendalian Banjir dan Perbaikan Sungai
di Madiun Saelan mengakui, pengelolaan DAS Bengawan
Solo belum tertangani baik. Akibatnya, saat terjadi
curah hujan tinggi,sekitar 80-279 milimeter/detik,
banjir rawan terjadi di sepanjang aliran Bengawan
Solo.

“Banjir akibat luapan Sungai Bengawan Solo akhir-akhir
ini memang parah. Salah satu masalahnya karena
pembangunan tanggul-tanggul di sepanjang DAS Bengawan
Solo itu belum komplet,”ujar dia kemarin. Saelan
menyebutkan, tanggul DAS Bengawan Solo yang belum
terbangun itu merata mulai Wonogiri hingga Gresik.

Di beberapa titik memang telah dibangun tanggul, tapi
hanya separuh. Seperti di Bojonegoro yang baru
sebagian kecil, kemudian di Lamongan yang baru ada di
salah satu sisi sungai. Dia menambahkan, dengan
panjang DAS Bengawan Solo yang mencapai 600 km,
tanggul baru terbangun sepanjang 30 km. Dengan kata
lain, pembangunan tanggul masih kurang 570 km lagi.

Selain di DAS Bengawan Solo, tanggul tanggul juga perlu
dibangun di DAS Bengawan Madiun yang mengalir dari
Ponorogo-Madiun- Ngawi.Sungai sepanjang 90 km ini
sering menyebabkan banjirdiwilayahBalerejo(Kab
Madiun),Kec Kwadungan,Geneng, dan Ngawi Kota (Kab
Ngawi). (m roqib/nanang f)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: