Bencana Jadi Hikmah Pilkada

SUATU siang saat saya sedang duduk di teras rumah sakit, tiba-tiba datang seorang lelaki paruh baya duduk di sebelah. Melihat raut wajahnya, saya menduga ada beban berat di benaknya.

Ada keluarga yang sakit? saya menyapa lebih dulu. “Eh, iya dok,” sahutnya setelah tersadar dari lamunannya. “Siapa yang sakit pak?. “Cucu saya, dia terluka saat daerah tempat tinggal saya kebakaran. Untung rumah saya tidak habis”, jawab bapak tersebut yang ternyata bernama Pak Udin.

“Sayang pilkada di daerah saya sudah selesai. Kalau belum, pasti saya tidak bingung seperti sekarang”, sambungnya. Lho, apa hubungannya pilkada dengan bencana kebakaran?

Menurut Pak Udin, saat-saat menjelang pilkada adalah saat dimana rakyat kecil diperhatikan, dibela dan dihargai, sehingga bantuan untuk korban bencana pasti langsung diberikan.

Memang jika kita perhatikan, hampir tiap hari pejabat dan pihak-pihak yang akan maju menjadi kontestan pilkada berlomba memberi bantuan kepada masyarakat yang tertimpa bencana. Bakal calon kepala daerah maupun kepala daerah incumbent dengan mengatasnamakan program dan memanfaatkan berbagai momen, mereka berupaya menarik simpati masyarakat dengan menebar bantuan.

Ada suatu daerah yang mengalami kebakaran besar dan langsung mendapat bantuan dari calon pemimpin kurang dari 24 jam. Padahal saat beliau memimpin daerah tersebut selama dua periode, banyak masalah bencana yang tidak tuntas, tetapi begitu dia hendak mencalonkan diri menjadi pemimpin dengan level yang lebih tinggi, maka dengan segala daya upaya dia menebar bantuan.

Cara-cara seperti ini dinilai sangat tepat dan efektif untuk lebih memperkenalkan diri pada masyarakat awam. Bisa dimaklumi, karena pilkada saat ini merupakan pilkada langsung, yaitu masyarakat bisa memilih langsung pemimpinnya. Beda dengan sebelumnya, saat kepala daerah dipilih oleh anggota DPRD.

Karena itu, sekarang lembaga legislatif bagaikan tidak punya ‘gigi’ lagi. Oleh karena itu, calon kepala daerah melakukan kampanye tersamar dengan cara pendekatan seperti itu.

Daerah bencana menjadi ajang kampanye! Coba kalau kita melihat berita di media massa, daerah bencana lumpur Lapindo akhir-akhir ini banyak dikunjungi orang-orang yang mencalonkan diri menjadi pemimpin bangsa, sementara pemimpin daerah setempat sudah putus asa dengan penyelesaian lumpur Lapindo.

Dari sini kita sudah bisa melihat, saat pencalonan pilkada, calon-calon pemimpin daerah berlomba-lomba menarik simpati masyarakat yang tertimpa bencana. Tetapi saat yang bersangkutan sudah menjadi pemimpin daerah, jangan harap bantuan segera diterima saat bencana melanda, yang terjadi justru pemimpin daerah berpihak kepada para pengusaha meskipun hal itu merugikan masyarakat luas. Bahkan ada pemimpin daerah yang pertama menyelamatkan diri saat daerahnya diguncang gempa tanpa memikirkan keadaan masyarakatnya, sambung Pak Udin yang ternyata sangat gemar mengikuti berita dengan cara membaca koran.

Mungkin Pak Udin terlalu apriori, tapi memang demikian kenyataannya. “Ibaratnya kami ini habis manis sepah dibuang, setelah pilkada selesai, selesai pula perhatian kepada kami rakyat kecil ini,” kata Pak Udin lagi.

Maka kalau dipikir lebih jauh, sangat perlu adanya kontrak politik pada para calon pemimpin daerah agar masyarakat dapat mengingatkan janji-janji yang pernah diucapkan saat kampanye pilkada.

Mudah-mudahan semua pemimpin daerah selalu konsisten membantu, memperhatikan dan menomorsatukan kepentingan masyarakat, sama seperti saat yang bersangkutan sedang kampanye pilkada.

Bagi masyarakat kecil, janji-janji manis yang diberikan oleh calon pemimpin daerah saat kampanye adalah senandung yang merdu. Oleh karena itu, jangan mengubahnya menjadi suara bising yang menjengkelkan apabila tidak mewujudkan janji-janji tersebut.

dr Adiputro SpJP
Dokter RSUD Ulin Banjarmasin

http://www.banjarmasinpost.co.id/content/view/25708/309/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: